Home / Profile / Agus Sujarwadi Bahas Karakter Politik Pemimpin Pamekasan

Agus Sujarwadi Bahas Karakter Politik Pemimpin Pamekasan

Pamekasan, sketsindonews – 2018, momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat pamekasan. Karena momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada). Pilkada sebenarnya sebuah proses politik yang akan memastikan, siapa pemimpin Pamekasas paling kurang untuk periode lima tahun ke depan. Ini, tentunya, menjadi sesuatu yang luar biasa bagi masyarakat pamekasan.

Hal demikian, diungkap oleh Agus Sujarwadi selaku Ketua DPC Partai Gerindra. Menurutnya, banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin politik, barangkali secara pragmatis ada beberapa alasan.

“Pertama, sebagian orang beranggapan menjadi kepala daerah adalah sebuah “prestise”, meski miskin prestasi; Kedua, sebagian mereka kesempatan lowongan kerja, sejak reformasi peluang menjadi kepala daerah sangat terbuka, pendidikannya pun tidak mesti sarjana,” ungkap Agus saat ditemui Reporter sketsindonews.com, Senin (23/1).

Yang diperlukan, ungkap Agus, adalah kemampuan menguasai massa dan meyakinkan orang lain. Ini relatif lebih mudah dan lebih berpeluang daripada menjadi PNS atau pegawai swasta, di mana syarat sarjana sangat diutamakan.

Ketiga, lanjut Agus, sebagian yang punya idealisme, tidak pamrih, mereka akan benar-benar menjadikan kepemimpinanya untuk berbuat yang terbaik untuk kepentingan rakyat, sekaligus menjadi amal saleh baginya.

“Dan keempat, idealisme “wang/duit”. Kepala daerah yang memiliki idealisme seperti ini akan kerap menggunakan jurus aji mumpung pajan chit lom (kapan lagi),” terangnya.

Agus menjelaskan, akhirnya untuk tujuan-tujuan itu banyak orang mau melakukan praktik-praktik tak terpuji, sogok, jual beli suara, intimidasi dan lain-lain. Dengan realita seperti ini, benar sekali kalau sebagian orang menganggap bahwa politik sebagai “bisnis” yang kotor.

“Alasan dari asumsi ini kiranya pertama-tama bahwa berpolitik berarti mencari dan mempertahankan kekuasaan. Untuk mendapatkannya, lawan harus dipukul tanpa ampun dan sahabat yang kuat harus dijegal sebelum menjadi ancaman. Benar tidak,” tanyanya.

Agus kemudian mengurai beberapa kajian masalah politik. Di Pamekasan teori politik sekadar kamuflase cukup potensi. Sebab banyak pemimpin politik di Pamekasan masih jauh dari kelayakan masayarakat yakni sektor perubahan daerah yang dipimpinnya tidak mengimbas apa-apa terharap rakyat.

“Menjadi seorang politisi, sebenarnya jangan kita mengandaikan kesetiaan dan jangan terlalu percaya pada cita-cita politisi semacam ini, yang mereka cari hanyalah kekuasaan dan demi kekuasaan itu segala nilai lain harus dikorbankan. Cita-cita luhur dan tujuan-tujuan terpuji politisi tidak lebih dari sekadar kamuflase belaka, bagi kepentingan mereka yang sebenarnya adalah kekuasaan dan “wang/duit”,” ungkapnya.

Dan, kekuasaan itu katanya kotor. Untuk memperebutkannya orang harus keras, licik, pintar main bujuk, bagi hadiah dan politik duit seperti telah disebutkan.

Sebagai sebuah ladang “bisnis”, lanjut Agus, tentu memerlukan modal (duit). Kemudian, tentunya dengan modal yang telah dikeluarkan itu bagaimana cara mendapatkan keuntungan besar, sehingga muncul sebuah slogan dari duit, oleh duit dan untuk duit.

Dari itu, setelah ditanya kesiapan untuk mejadi calon kandidat bupati di Pilkada 2018, pihaknya masih mempersiapkan kebutuhan sektoral masyarakat pamekasan, entah dari masalah pendidikan, kesehatan, atau pembangunan.

“Kami sudah bertekad dan ingin menjadikan Pamekasan yang terbaik. Akan tetapi kami tetap butuh dukungan dari beberapa pihak, misal tokoh ulama’ yang ada di Kabupaten Pamekasan untuk meridhoi dan merestui kami,” tegasnya. (*/sol/eky)

Check Also

Santiago De Compostela, Samantha World Cadets Chess Championship Girls 2018

Jakarta, sketsindonews – Perjuamgan untuk mengibarkan sang saka merah putih bikan sebuah hal yang ringan …

Watch Dragon ball super