Back

Media Terpercaya

Akrobatik Penegakan Hukum

Jakarta, sketsindonews – Ada-ada saja aksi akrobatik penegak hukum di negeri ini. Pewaris tanah harus meringkuk di dalam tahanan lantaran ingin menguasai tanahnya sendiri.

Begini ceritanya, kala itu M Yasin salah satu ahli waris dari almarhum H Ahmad Syarkoni meminta kepada Budianto Tahapary untuk menjaga tanah beserta bangunan seluas 495 M2 di Jalan Kuningan Barat Raya No 29 Rt 06/03 Jakarta Selatan.

Dalam perjanjian tertulis antara M Yasin dan Budianto terjadi pada tgl 15 Januari tahun 2010, keduanya bersepakat melindungi warisan ayahnya selama 3 bulan. “Tempo hari memang kami memberikan kuasa kepada Budianto selama tiga bulan dan surat kuasa sudah dicabut pada 16 Februari 2015 ,” kata Junaidi kepada sketsindonews.com, Rabu (05/02/20) sore di PN Jaksel.

Singkat cerita Budianto mengajukan gugatan perdata ke PN Jaksel untuk meminta uang jasa selama ini, ia dan rekan-rekan menjaga aset milik almarhum H. Ahmad Syarkoni.

Tidak tanggung-tanggung dalam gugatan somasinya itu Budiarto meminta fee sebesar Rp11 miliar 250 juta kepada pewaris tanah. Alasannya, Budiarto telah menjaga selama 4 tahun atau 48 bulan “Dengan rincian gajinya Rp 300 juta perbulan dikali 48 bulan” ulas Junaidi.

Merasa belum puas Budianto mengajukan gugatan perdata di PN Jakarta Selatan dengan nilai material Rp 4,5 milyar dan immaterial Rp14,5 milyar.

Pada tingkat pertama Di PN Jaksel, hakim mengabulkan permohonan Budiarto sebagai penggugat, dan menghukum ahli waris untuk membayar apa yang di perjanjikan. “Kemudian kami banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta. Saat ini sedang menunggu hasilnya,”

Namun tanpa sepengetahuan pemilik tanah dan bangunan, Budiarto memasang spanduk besar yang berisi agar siempunya tanah membayar keringat mereka selama 9 tahun.

“Kami merasa risih dengan tulisan spanduk itu. Kami meminta agar spanduk tersebut dilepas,” kenang dia.

Terjadi adu mulut antara kubu pewaris Ahmad Syarkoni dengan para penjaga lahan. Pihak pewaris berencana akan memasang banner pengumuman sementara kubu Budianto tetap keukeuh meminta uang jasa yang belum diberikan.

Suasana kondusif. Tidak ada adu fisik dan tidak ada korban pemukulan bahkan pengroyokan. Hanya ada keriuhan antar keduanya.

“Saat itu M Yasin dianggap merusak kamera pengawas yang berada diarea bangunan pewaris. Sedangkan Sulaiman dituduh memukul. Padahal ditempat itu tidak ada pengrusakan CCTV dan pemukulan. Posisi CCTV berjarak dua meter setengah dari lantai,” imbuhnya.

Akhirnya M Yasin dan Sulaiman saat ini menjadi pesakitan di PN Jaksel lantaran mempertahankan tanah almarhum Ahmad Syarkoni.

Penuntut umum menjerat M Yasin dan Sulaiman dengan pasal tentang pengrusakan CCTV. Dan atas kerusakan CCTV itu pihak Budianto menderita kerugian Rp 2,8 juta.

“Sementara Budianto memasang CCTV itu tanpa izin kepada ahli waris. Dan selama dikuasai Budiarto lahan warisan telah berubah fungsi menjadi tempat penitipan motor selama tujuh tahun,” keluh dia.

Menurutnya dari hasil usaha penitipan motor Budiarto mendapatkan fulus sebesar Rp28 juta perbulan. “Hitung saja dua ratus unit motor dikali tujuh ribu, dikali dua puluh hari kerja,”. Sedangkan pemilik tanah dan bangunan tidak mendapatkan dari usaha Budiarto. “Dunia ini sudah terbalik,” ujarnya sambil tersenyum

Sementara itu, tim kuasa hukum M Yasin dan Sulaiman, Ahmad Pebriandri dari Lawfirm Andri Sikumbang yang menggandeng advokat senior Andi Darwin R Ranreng dan Matius Djapa Nonda, meminta kepada majelis hakim untuk mempersiapkan nota keberatan terhadap surat dakwaan penuntut umum.

“Yang mulia kami akan membuat eksepsi atas surat dakwaan penuntut umum,” kata Andry yang juga mantan atlet nasional karate.

(Sofyan Hadi)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.