Home / Apa Kata Mereka / Akses Jalan Pasar Nangka Padat, Salahkah Tumbuh PKL Dari Warga Lokal

Akses Jalan Pasar Nangka Padat, Salahkah Tumbuh PKL Dari Warga Lokal

Jakarta, sketsindonews – Sejak pembongkaran pedagang pasar nangka Utan Panjang yang di sebut orang lebih menyebut “pasar tradisional 24 jam” tanpa henti, kini wajah pasar tak pernah hilang dan terus tumbuh hingga kini dengan “malu malu kucing”.

Dulu memang kumuh tapi sejak di normalisasi kawasan jalan serta pembuatan trotoar tertata, namun seirong perjalanan perlahan kawasan itu tak hilang sebagai wajah pasar tradisional saat pagi hingga dini hari.

Menurut Andang Paskat (45), diakuinya pasar lokal yang semuanya warga lingkungan kembali tetap ada, namun kami meminta mereka dibetikan solusi dari pemerintah bukan sebuah larangan, tapi bagaimana mengatasi kawasan akses jalan itu kembali normal seperti harapan warga lebih tertib, pungkasnya.(2/9)

“Dulu pasar ini Sudin UMKM yang membina dan di putuskan tak boleh, seiring fungsi fasilitas sarana dibangun pemanfaatan fungsi bisa di manfaatkan tanpa harus melanggar aturan ketertiban umum.”

Kalo fungsi trotoar menjadi tempat sementara aktifitas bagi pkl tanpa menutup jalan, kami pikir itu sah saja, terkecuali akses jalan di tutup tak bisa di lewati bagi kendaraan umum, artinya itu baru melanggar aturan kepentingan publik.

Kami tak mau itu dan tetap melarang mereka PKL untuk ada di jalan, terangnya.

Seiring waktu warga lokal mencari nafkah warga lokal muncul seperti pasar nangka seperti berdiri 40 tahun yang lalu.

Kami hanya ingin menata PKL di jalan untuk tak berjualan lagi di jalan umum, selain tumbuhnya parkir motor warga sekitar menganggu akses jalan dari fasilitas yang di bangun pemerimtah.

Trotoar menjadi alternatif bukan permanen, itu salah satu solusi dari pada kawasan jalan itu semakin padat arus kendaraan masuk menjadi terhambat oleh pedagang di bahu jalan secara terang terangan, jelas Andang.

Sementara Mamad sekaligus LMK setempat membenarkan, secara analogi kalo jalan di tutup bagi PKL itu melanggar aturan, seperti PKL Jiung yang di biarkan hingga fasilitas jembatan pun di jadikan berjualan, pungkasnya.

Tapi pasar Nangka selain Eks.binaan UMKM Jakarta Pusat nantinya tidak di jalan tapi kawasan itu dengan fungsi trotoar bisa menjadi “solusi” untuk tidak permanen tapi di buat rapi berestetika. Warga lokalpun kita berikan fungsi fasilitas yang ada sementara dengan tata cara aturan nilai kebersihan dan aturan, kata Mamad.

Akses jalan menjadi titik masalah untuk tidak terlanjur terjadi pembiaran pelanggaran seperti terjadi PKL Jiung sudah kronik tutup jalan, dimana kesalahan fungsi publik tanpa ada pengakuan (justifikasi) bagi mereka (PKL) illegal dan merugikan semua pihak.

Hingga saat ini publik sangat berharap jalur tersebut vital bagi jalur ekonomi masyarakat pengguna jalan untuk dapat mengurai arus macet, jelas Mamad.

reporter : inong

Check Also

Bawaslu Harus Cermati Reuni Aksi Persaudaraan 212 Yang Akan di Gelar di Monas

Jakarta, sketsindonews – Alumno 212 akan kembali menggelar aksi yangvrencananya akan menggelar di lapangan Monas …

Watch Dragon ball super