Home / Artikel / Aktivis 98 Akan Lakukan Rembuk Nasional Terkait Orientasi Kebangsaan

Aktivis 98 Akan Lakukan Rembuk Nasional Terkait Orientasi Kebangsaan

Jakarta, sketsindonews – 20 tahun gerakan reformasi yang diusung saat itu oleh para aktivis 98 dalam sejarah perjuangan telah menuai perubahan bangsa yang hasilnya dirasakan seluruh elemen bangsa hingga hari ini.

Diawali dengan mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan, para Aktivis 98 terus menuntut perubahan hingga hari ini.

Beberapa agenda reformasi pun diperjuangkan, di antaranya: Reformasi
Politik, Reformasi Hukum, Pengadilan mantan Presiden Soeharto, Reformasi Ekonomi, juga Reformasi Pendidikan.

Dalam 6 tuntutan reformasi yang sering disebut-sebut selama ini merupakan bagian dari beberapa agenda reformasi yang diusung para Aktivis 98 tersebut.

Keenamnya adalah: pengadilan mantan Presiden Soeharto; penegakan supremasi hukum; pemberantasan KKN; Amandemen UUD 1945, khususnya terkait pentingnya pembatasan jabatan presiden; pencabutan dwi fungsi ABRI; dan pemberian otonomi daerah.

Gerakan reformasi telah mengubah Indonesia yang otoriter pada masa Pemerintahan Soeharto, menjadi demokratis. Partisipasi politik rakyat sipil yang sebelumnya terbelenggu menjadi bebas dan terbuka.

Masyarakat sipil bebas berbicara, berpendapat dan menyalurkan aspirasinya melalui institusi-institusi demokrasi yang ada.

Sungguh keterbukaan tersebut merupakan barang mewah saat era rezim pemerintahan Soeharto yang sangat otoriter.

Namun, persoalannya, sistem demokratis yang telah diperjuangkan segenap pikiran, tenaga, air mata dan darah para Aktivis 98 tersebut dalam 20 tahun terakhir justru dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang mengusung ideologi “trans nasional” untuk menumbuh suburkan radikalisme, intoleransi dan terorisme.

Rembuk Nasional memandang perlu dari berbagai peristiwa dan mengambil sikap saat pers confrences di rembuk Nasional oleh aktivis 98 dari berbagai daerah yang hadir di Graha Pena 98 Jalan Kemang Utara 22, Kemang – Jakarta Selatan. (3/6)

Saat negara dalam bahaya, rakyat di adu domba, Fitnah dan Kebencian merajalela  maka demi Indonesia kami putuskan untuk kembali bertemu dan berkumpul, ujar Andrew Parengkuan dari Forum Perawat Kebangsaan salah satu Aktivis 98.

Beberapa catatan penting dan peristiwa gerakan 98 pasca reformasi banyak memunculkan kelangsungan bangsa menjadi terbelah oleh kelompok penggusung intoleransi, radikalisme.

Peristiwa Bom

Di Kedubes Piliphina awal tahun 2000-an, Bom Bursa Efek Jakarta (sekarang: BEI), dan Bom Bali merupakan manifestasi dari radikalisme dan perilaku intoleran.

Kejadian teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu, serta serangan terhadap markas aparat kemanan di sejumlah daerah mengundang keprihatinan para Aktivis 98 dari seluruh Indonesia.

Tak penting kasus bom bunuh diri di Surabaya menunjukkan eskalasi dari radikalisme, intoleransi dan terorisme di Indonesia.

Dunia pun mencatat kejadian itu sebagai peristiwa “family suicide bomber” pertama, dan mengingat pelakunya berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi, hal itu turut membantah pendapat yang menyatakan kemiskinan merupakan faktor utama penyebab radikalisme, intoleransi dan terorisme, jelas Andrew.

Belasan tahun kami memilih diam, dan mengamati fenomena radikalisme, intoleransi dan terorisme, dan menyerahkan penanganannya kepada pemerintahan yang ada.

Kini setelah 20 tahun kami secara bersama memandang tidak boleh diam. Aktivis 98 yang memiliki hak sejarah atas perubahan di Indonesia harus meluruskan dan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang terus-menerus mengikis orientasi kebangsaan
rakyat Indonesia.

Lanjut Andrew, fenomena bomber family, ditambah sikap elit politik yang ambigu dalam merespon kejadian tersebut berpotensi menjadi ruang inkubasi dan hibernasi bagi radikalisme, intoleransi dan terorisme sehingga akan sangat mengancam ke-Indonesiaan kita yang sesungguhnya.

Bahaya radikalisme, intoleransi dan terorisme tersebut bukan khayalan. Hasil Survai Wahid Institut tentang radikalisme dan intoleransi terhadap 1.520 responden pada 2017.

Data tersebut membuat para aktivis miris. Sebanyak 11 juta orang atau 7,7 persen dari total populasi di Indonesia mau bertindak radikal.

Dari Survai tersebut juga diketahui 0,4 persen penduduk Indonesia, sekitar 600 ribu orang pernah bertindak radikal.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Aktivis 98 memutuskan untuk melakukan Rembuk Nasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada 07 Juli 2018. Keputusan tersebut diambil berdasarkan dua alasan: Alasan Ideologi, dan Situasi Nasional.

Pertama, Radikalisme, Intoleransi dan Terorisme telah berada pada tahap mengancam khasanah Pancasila dan merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Sikap ambigu sejumlah elit politik cukup
menunjukkan bahwa radikalisme sudah meresap ke dalam cara pandang mereka. Hal ini sangat berbahaya karena menjadi ruang subur bagi radikalisme, intoleransi dan terorisme untuk berinkubasi dan berhibernasi.

Sikap ambigu mereka akan membuat ujaran kebencian meluas, dan mereka yang terpapar kebencian akan dengan mudah terpapar radikalisme.

Mereka yang terpapar radikalisme ditandai dengan mudahnya mereka menjungkir-balikkan fakta. Cara pandang mereka yang memonopoli kebenaran, membuat mereka menjadi hakim bagi orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Kebhinnekaan yang merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa justru hendak diseragamkan karena mereka memandang kebhinnekaan sebagai musuh.

Perilaku orang – orang yang sudah terpapar radikalisme, intoleransi dan terorisme telah mereduksi dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, seiring hilangnya orientasi kebangsaan pada diri mereka.

Situasi ini juga melanda lingkungan pendidikan dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sikap membiarkan radikalisme, intoleransi dan terorisme berhibernasi sama artinya dengan mengamini ke-Indonesiaan terkoyak-koyak.

Berdasarkan kedua alasan tersebut. Rembuk Nasional yang akan diikuti 50 ribu Aktivis 98 dari seluruh Indonesia diselenggarakan dengan tujuan memusyarahkan pemikiran, dan
menyatukan langkah-langkah untuk menegaskan pentingnya menyelamatkan ke Indonesiaan.

Tujuannya, Rembuk Nasional merupakan upaya membangun kembali orientasi kebangsaan sebagai komitmen, jelasnya.

reporter : nanorame

 

 

Check Also

Anies Baswedan Akan Tinjau Kampung Warna Warni, Sekaligus Penandatangan Kerjasama Pemrov DKI Dengan Dulux Paint

Jakarta, sketsindonews – Persiapan kampung dalam ramgka sukses Asian Games terus di lakukan 2 Kelurahan …

Watch Dragon ball super