Home / Artikel / Ayahku, Panutanku

Ayahku, Panutanku

sketsindonews – Di tengah kesunyian malam, suara dengkurnya selalu terdengar. Suara itu terus mengalun sepanjang malam. Suara yang sangat membuktikan bahwa rutinitas sehari-harinya sangat melelahkan. Rasanya tidak tega bagiku untuk membangunkannya.

Jangankan membangunkan, mendengarkan dengkurnya saja aku tidak tega.

Dengkur itu adalah milik seorang lelaki hebat yang kupanggil Ayah. Ya, lelaki itu adalah Ayahku, Yulianto Sidiq Pratomo. Menurutku, Ayah adalah sinar kehidupan yang menerangi jiwa keluargaku.

Sinar yang tak akan pernah padam meski berulang kali diterpa angin serta badai. Sinar yang selalu dapat menembus awan ketika langit dunia beranjak mendung.

Ayah merupakan sosok pemimpin keluarga yang hebat dan juga kuat.
Di tengah kesibukannya yang bekerja di luar kota, Ayah tetap menyempatkan waktunya untuk keluarga. Seminggu sekali Ayah akan pulang ke rumah.

Ketika Ayah berada di rumah, Ayah selalu mengantar dan menemaniku kemana pun aku pergi. Ayah juga selalu menjadi orang yang mendengarkan ceritaku dengan penuh antusias.

Setiap aku dan Ayah pergi bersama, Ayah selalu mengajarkanku tentang dunia fotografi. Karena fotografi adalah hobi yang dimiliki oleh Ayah dan kebetulan fotografi juga salah satu mata kuliah di jurusanku.

Ayah yang kutahu menyimpan banyak sekali kekesalan dan juga kesedihan di dalam dirinya, malah hampir tidak pernah marah atau terlihat sedih di depan aku dan keluargaku. Ayah berusaha sekali untuk selalu sabar dan tersenyum. Aku bisa merasakannya.
Kesedihannya baru terlihat saat kakak laki-laki tertuaku meminta berhenti kuliah. Kakakku tidak mau mengejar pendidikannya lagi. Entah apa alasannya, aku tidak begitu mengerti.

Kakak tertuaku ini memang tergolong orang yang pendiam bahkan kurang dekat dengan Ayah. Kakakku lebih memilih bercengkerama dengan Ibu dibandingkan Ayah.

Saat Ayah berusaha untuk mendekatinya, Kakak selalu menepis dan Ayah selalu gagal. Menyikapi itu semua, Ayah masih tetap sabar dan tak mau mengeluarkan sisi kegalakannya.
Hingga kini, aku tak bisa berhenti mengagumi kegigihan Ayah.

Aku salut dengan segala perjuangannya mulai dari nol hingga sekarang. Ayah yang hanya lulusan STM namun dapat bekerja di perusahaan besar selama bertahun-tahun.

Ayah juga berhasil naik pangkat saat di kantor dari karyawan biasa menjadi asisten manager. Ayah selalu berpikir dan bekerja keras demi membayar biaya pendidikan ketiga anak-anaknya. Entah berapa banyak kerutan di dahinya saat ini.

Aku pun tidak bantu menghitungnya.
Aku bahagia terlahir dengan keluarga yang lengkap, tentunya memiliki Ayah dan Ibu serta kedua Kakakku. Aku juga sangat bersyukur karena Tuhan memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Di balik cobaan yang datang bertubi-tubi kepada Ayah ketika Ayah kecil dulu, Namun Tuhan selalu meletakkan hidayah di antaranya. Tuhan sangat paham dengan ciptaan-Nya dan takdir yang diberikan.

Takdir itu dirajut sedemikian rupa agar hambanya terus mensyukuri apa yang ada.

Tak ada perasaan yang paling bahagia selain bersyukur telah dilahirkan dari rahim seorang ibu yang hatinya sangat sabar, dan tak ada pula perasaan paling bangga menerima karunia yang Tuhan berikan yaitu seorang Ayah yang amat mencintai keluarganya dan bersedia banting tulang demi melihat anak istrinya bahagia.

Anugerah ini akan selalu aku aplikasikan dengan selalu mendoakannya kapan pun, dan dimana pun.

(Larasati Yula Trihandayani/PNJ)

Check Also

Luka Terus Menyala Discripsi Ramadhan

Sahur Hari Ketujuh Jakarta, sketsindonews – Sahur di hari 7 di bulan Ramadhan 1439 H …

Watch Dragon ball super