Home / Artikel / Bagaimana Kans Gatot Nurmatyo di Plipres 2019

Bagaimana Kans Gatot Nurmatyo di Plipres 2019

Jakarta, sketsindonews – Sudah dua calon presiden yang dipastikan bakal maju bertarung pada Pilpres 2019. Jokowi yang telah mengantongi dukungan dari dua partai besar, PDIP dan Golkar, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai capres (20 persen suara).

Bahkan sangat berlebih karena Nasdem dan Hanura telah juga secara resmi memberikan dukungan kepada Jokowi. Sama halnya dengan Prabowo. Dukungan partainya, Gerindra, yang berkoalisi dengan PKS, telah mengantongi jumlah suara yang pas-pasan, 20,17 persen.

Bagaimana dengan Gatot Nurmantyo, yang konon setelah memasuki masa pensiun, bertekad mendeklarasikan kesiapan dirinya sebagai kandidat calon presiden.

Yang menjadi pertanyaan: partai mana yang mencalonkanya.

“Semula memang banyak yang berharap bos partai Gerindra mau mengikuti jejak Megawati yang pada Pilpres 2014 menyerahkan tiket dirinya sebagai capres kepada Jokowi”.

Dalam hal ini Prabowo yang sudah dua kali berlaga di medan pilpres dan sebanyak dua kali pula mengalami kekalahan, secara legowo mau memberikan kesempatan kepada Gatot untuk maju atau juga Gatot lebih cocok di gadang wapres.

Namun sepertinya gejala terjadinya hal ini semakin jauh ketika Aryo Djoyohadikusumo, Wasekjen Gerindra yang juga keponakan Prabowo, menegaskan bahwa pintu Partai Gerindra telah tertutup untuk Gatot.

Lalu, apakah harapan Gatot untuk mendapatkan tiket sebagai capres pada Pilpres 2019 telah sepenuhnya pupus, sepertinya tidak.

Peluang, walau hanya sebesar lubang jarum, tentu masih terbuka. Karena dalam politik semua bisa terjadi.

Masih tersisa empat partai: PKB, Partai Demokrat, PAN, dan PPP yang sampai saat ini belum secara resmi mengumumkan siapa yang akan ditampilkan sebagai kandidat calon presiden.

Walau Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dalam sebuah acara talk show telah secara terbuka menyatakan kesiapan dirinya (hanya sebatas) untuk mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden, PKB sendiri sebagai partai belum secara resmi memberi dukungan kepada Jokowi maupun calon yang lain.

Di sisi lain, Partai Demokrat, PPP dan PAN, memberi signal kuat bahwa Ketua Umum dari ketiga partai ini tidak berniat maju sebagai kandidat calon presiden pada Pilpres 2019.

Ketiga partai ini cenderung berharap dapat menawarkan jagonya untuk mendampingi Jokowi. Dalam situasi seperti ini, Gatot menjadi masih berpeluang untuk tampil. Tentunya dengan persyaratan: bila Demokrat, PAN, PKB, dan PPP membentuk poros baru dan memberi Gatot peluang untuk maju sebagai capres poros baru ini.

Pintu alot Gatot akan terbuka dengan tidak terbaca akan sulit dibuka dan mempersilakan Gatot masuk adalah melalui pintu partai Demokrat.

Karena mempersilahkan Gatot kali ini akan berdampak pada situasi tak bisa menguntungkan bagi SBY untuk kelak memuluskan pencalonan sang putra AHY.

Sementara tahun 2019 merupakan target bagi SBY untuk bermain “Now” or NEVER mendorong AHY menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Halangan psikologis berikut datang dari kubu PKB. Pertanyaan yang timbul, mungkinkah Muhaimin Iskandar bersedia menempati posisi orang nomer duanya Gatot.

Sulit membayangkan hal ini akan mendapat dukungan para pimpinan di PKB, juga para Kyai yang mendukung atau bersimpati pada PKB. Akan lain halnya bila Gerindra mengubah komposisi, dimana Gatot dipercaya untuk mengemban amanat Prabowo maju menggantikan dirinya. Dalam kaitan ini serta dengan legowo Prabowo hanya sebagai “King Maker”.

Sehingga kandidat menjadi hanya dua pasangan yang akan memperebutkan kursi nomor satu RI. Hal ini masih menyisakan kemungkinan Muhaimin berpikir ulang untuk menerimanya.

Apalagi ketika dalam Pilkada 2018, PDIP rontok di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah, mengikuti DKI Jakarta dan Banten.

Mengapa hal ini bisa merangsang Muhaimin untuk mengubah pikiran? Karena dalam hitungan di atas kertas, dengan melemahnya PDIP di Pulau Jawa yang menjadi sumber utama pemasok suara terbesar pada setiap pilpres digelar, massa pendukung Jokowi bisa terancam kian mengecil jumlahnya.

Walau hasil pilkada bahkan pemilu tidak serta merta berbanding lurus dengan hitungan dalam putaran pilpres, setidaknya pengaruhnya pasti akan berdampak kurang menguntungkan bagi Jokowi. Sebaliknya, memperbesar peluang bagi lawan Jokowi, dalam hal ini pasangan Gatot-Muhaimin berpotensi memenangkan pertarungan Pilpres 2019.

Jadi, bila Gerindra dan Demokrat menutup pintu bagi mantan Panglima TNI ini, maka niat Gatot untuk maju pada Pilpres 2019 harus diurungkan dan menunggu putaran berikut di 2024. Dimana, AHY, Muhaimin, Puan Maharani, atau Budi Gunawan (?), diprediksi kuat akan maju pula memperebutkan kursi nomor satu RI.

Nah, bagaimana manuver Gatot pasca pensiun dari dinas ketentaraan dan kembali menjadi warga sipil yang berhak berpolitik secara penuh dan intensif? Kita tunggu saja tanggal mainnya langkah Gatot Nurmatyo mantan Panglima TNI yang sudah kerap keliling pesantren saat menjadi Panglima.

reporter : nanorame

Check Also

Bedug Bang Jum KH. Mas Mansyur , Laris Saat Ramadhan 1439 H

Jakarta, sketsindonews – Tanah Abang selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H warga Jakarta …

Watch Dragon ball super