Home / Artikel / Capres Prabowo Harus Bentuk Tim Investigasi Kasus Kebohongan Ratna Sarumpaet

Capres Prabowo Harus Bentuk Tim Investigasi Kasus Kebohongan Ratna Sarumpaet

Jakarta, sketsindonews – Capres nomor urut 2 pada Pilpres 2019, Prabowo Subianto, disarankan untuk men-screening orang-orang dekatnya agar kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang membuat dirinya dibully dan dicemooh pendukung lawan politik untuk tidak terulang.

Apalagi karena kasus ini membuat dirinya dan Cawapres Sandiaga Uno dilaporkan pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dengan tuduhan menyebarkan hoaks yang dibuat Ratna.

“Banyak penguasa jatuh karena orang-orang dekatnya,” tegas Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta Rico Sinaga kepada wartawan di Jakarta, (4/10)

Penguasa dimaksud di antaranya Ken Arok, Presiden Soeharto dan Presiden Soekarno.

Rico mengaku, sebagai sesama aktivis, ia sangat menyesalkan kebohongan yang dibuat Ratna. Meski demikian ia juga mengatakan, jika melihat track record Ratna di masa lalu, ia tidak terlalu heran jika Ratna bisa berbuat seperti itu

“Dalam hal ini, saya juga melihat ada kesalahan fatal yang dilakukan Prabowo, karena dia maupun tim pemenangannya tidak lebih dulu melakulan cros cek atas apa yang dikatakan Ratna kepadanya, sehingga mereka semua kini terkelabui,” katanya.

Begitu pula terkait pres conferences seharusnya tim pemenangan Prabowo yang seharusnya melakukan kepada media massa.

Ratna, lanjut aktivis senior di Jakarta ini, sebelum terjun menjadi aktivis HAM adalah pemain teather yang handal dalam sepak terjangnya.

“Jadi, soal berakting dan main drama, dia sangat jago,” tegasnya.

Belajar dari kasus ini, Rico meminta Prabowo mulai melakukan screening terhadap orang-orang dekatnya, baik yang berada di Ring 1 maupun Ring 2, karena sudah bukan rahasia bahwa dalam sebuah persaingan atau kompetisi, apalagi dalam kontestasi politik, pihak lawan akan menyelundupkan orang-orangnya (infiltrasi) untuk melakukan pelemahan, bahkan pembusukan dari dalam, jelas Rico.

Dalam kasus Ratna, tegas Rico, ia juga merasakan ada sesuatu yang tak beres, yang mengindikasikan bahwa ada ‘something wrong’ dalam kasus ini.

Pasalnya, Ratna datang kepada Prabowo, Amien Rais dan Fadli Zon, lalu curhat kalau dirinya dianiaya, padahal itu bohong.

Dia juga menceritakan hal yang sama kepada yang lain. Ratna seperti tak peduli apa dampak dari kebohonganya itu jika terbongkar. Padahal dia anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Di sisi lain, Prabowo pun kurang teliti, karena bila seseorang dianiaya, apalagi oleh tiga orang, maka akan ada luka guratan atau luka parut di wajah atau bagian tubuh yang lain, bukan hanya luka lebam di wajah.

Dan dalam hal ini setidaknya korban sehandal Ratna juga tak lepas hasil laporan ke pihak polisi atas kejadian tersebut

Jadi, tegas Rico, memang ada sesuatu dalam kasus ini, dan sebaiknya ini diinvestigasi oleh Tim Investigasi Prabowo agar jika Ratna memang orang yang ditanam pihak lawan, maka kawan-kawannya yang juga sudah disusupkan, tidak bisa lagi bergerak leluasa,” katanya.

“Kalau Tim Investigasi itu belum ada, segera bentuk. Sebagai pendukung Prabowo, saya siap membantu karena FKDM punya personel untuk melakukan tugas seperti itu,” imbuhnya.

Ketika ditanya apakah kasus Ratna ini akan mempengaruhi elektabilitas Prabowo-Sandi? Rico mengiyakan, namun hanya untuk sementara waktu.

Sebab, jelas dia, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang reaktif.

“Tipe masyarakat seperti ini cepat sekali bereaksi terhadap sesuatu, setelah itu ya sudah, dilupakan,” imbuhnya.

Ia berharap, apa yg dialami Prabowo ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan, karena Anies masih saja memberi kesempatan kepada para pendukung mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama untuk menduduki jabatan-jabatan strategis.

“Karena dengan tetap memberi jabatan kepada Ahokers, Anies sebenarnya membuka peluang untuk dikhianati,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Ratna Sarumpaet mengaku dikeroyok tiga orang saat akan ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada 21 September 2018, sehingga wajahnya lebam-lebam. Dari hasil penyelidikan polisi terungkap kalau pada hari itu anggota BPN Prabowo-Sandi itu berada di RS Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menjalani operasi bedah plastik wajah.

Celakanya, kebohongan Ratna sempat termakan Prabowo-Sandi dan para pendukungnya. Mereka bahkan tak percaya ketika polisi mempublikasikan hasil penyelidikannya dan ketika para pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin mempersoalkan mengapa Ratna tidak langsung melapor ke polisi setelah dikeroyok. Mereka membelanya habis-habisan.

Masalah menjadi clear saat Ratna menggelar konferensi pers yang mengakui bahwa wajahnya lebam bukan karena dikeroyok, namun karena operasi sedot lemak di pipinya. Prabowo-Sandi dan para pendukungnya shock. Prabowo bahkan langsung meminta Ratna agar mundur dari posisi sebagai anggota BPN, dan dipenuhi.

Namun para pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin menduga kebohongan Ratna merupakan rekayasa kubu Prabowo-Sandi, sehingga Prabowo, Sandi, juga Jubir BPN Daniel Anhar Simanjuntak dan anggota DPR dari Fraksi Gerindra Rachel Maryam dipolisikan dengan tuduhan menyebarkan hoaks yang dibuat Ratna.

Dan kini Ratna yang sepertinya ingin keluar negeri Chili akhirnya di cekal pihak Polda Metro Jaya yang pada hari ini pula tepatnya pukul 21. 00 WIB di Bandara 2 Soekarno Hatta langsung di giring pihak Polda Metro Jaya.

Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas Argo Yuwono telah menetapkan sebagai tersangka kepada Ratna Sarumpaet atas dasar alat bukti baik pihak RS Bina Estetika, Dirut RS, perawat serta Dokter yang manangani hingga rekening pembayaran Rumah Sakit.

Sebelumnya penangkapan rencananya Ratna akan memberikan sambutan di Konferensi Kebudayaan untuk mewakili Pemprov DKI Jakarta dalam pertemuan konfrensi yang di selenggarakan setiap 3 tahun.

Check Also

Kalahkan Kejahatan Dengan Kasih Tuhan

Roma 12: 9-21 Renungan, sketsindonews – Kasih ini mesti dimulai dari dalam dulu, karena, tidak …

Watch Dragon ball super