Home / Berita / Dugaan “Patgulipat” Tersangka Pieter Rasiman Cs

Dugaan “Patgulipat” Tersangka Pieter Rasiman Cs

Jakarta, sketsindonews – Tim penyidik pada Direktorat tindak pidana khusus Kejaksaan Agung melimpahkan tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, hari ini.

Pelimpahan berkas pekara dan barang bukti itu atas nama tersangka Pieter Rasiman terkait kasus dugaan koruosi PT Jiwasraya.

Demikian disampaikan Kepala pusat penerangan hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak SH MH, Senin (8/2/21).

Menurut Leo biasa disapa penyerahan tersangka Pieter Rasiman kepada penuntut umum, adalah tersangka yang kedelapan, menyusul 6 orang Tersangka sebelumnya yang sudah menjadi Terdakwa dan diputuskan bersalah oleh Pengadilan Tipikor Jakarta dan 1 orang atas nama Fakhri Hilmi Pejabat OJK yang masih dalam proses pelimpahan ke Pengadilan.

Duduk perkara

Untuk diketahui perkara ini bermula, pada Tahun 2008 sampai dengan 2018, Joko Hartono Tirto melakukan pertemuan dengan Syahmirwan dan Hary Prasetyo atas persetujuan Hendrisman Rahim di Kantor PT Asuransi Jiwasraya atau PT AJS, membicarakan pengaturan investasi saham dan reksadana milik PT AJS.

“Kemudian ditindaklanjuti oleh Tersangka Pieter Rasiman pada tahun 2011 sampai dengan 2016 dengan cara mendirikan beberapa perusahaan-perusahaan nominee dan membuat beberapa nominee perseorangan yang akan digunakan sebagai counterpart (lawan transaksi) dan transaksi penerimaan uang dalam skema transaksi dana kelola PT AJS pada tiga belas Manajer Investasi untuk 21 produk Reksa Dana atas persetujuan dari Heru Hidayat melalui Joko Hartono Tirto dan  Maudy Mangkey guna pengaturan investasi saham dan reksadana PT AJS,” tutur Leo dalam keterangan tertulisnya.

Dia menyebutkan perusahaan-perusahaan tersebut adalah: PT Baramega Persada, PT Dexindo Jasa Multiarta, PT Dexa Indo Pratama, PT Tarbatin Makmur Utama, PT Permai Alam Sentosa, PT Topaz Internasional dan PT Topaz Invesment.

Sedangkan untuk nominee perseorangan yaitu: Tommy Iskandar Widjaja, Utomo Pusposuharto, Suprihatin Njoman, Freddy Gunawan, Wijaya Mulia dan Erwin Budiman.

“Selanjutnya, Tersangka Pieter Rasiman melaksanakan pengaturan investasi yang dilakukan bersama-sama dengan Joko Hartono Tirto melalui Moudy Mangkey dengan cara pembelian atau penjualan saham secara direct pada pasar negosiasi maupun pasar reguler melalui broker baik subscription maupun redemption melalui Manager Investasi yang telah diatur atau dkendalikan oleh Heru Hidayat, Joko Hartono Tirto melalui Moudy Mangkey serta penempatan saham-saham tersebut ke dalam reksadana adalah untuk dijadikan sebagai portofolio saham milik PTAJS,” beber Leo.

Kemudian, ucap Leo, Tersangka Pieter Rasiman juga melaksanakan penyampaian pesan dari Heru Hidayat melalui Joko Hartono Tirto, yaitu ditunjuk sebagai counterparty untuk melakukan pengendalian investasi PT AJS melalui Joko Hartono Tirto dan Maudy Mangkey dengan cara mengatur isi portofolio saham PT AJS. Yakni menentukan jenis, volume dan harga saham serta menentukan broker dan Manager Investasi mana saja yang akan digunakan dalam investasi PT AJS sesuai kesepakatan dalam pertemuan-pertemuan antara Heru Hidayat, Benny Tjokrosaputro, Joko Hartono Tirto dan Pieter Rasiman dengan Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan.

“Padahal Tersangka Pieter Rasiman mengetahui dan menghendaki bahwa saham-saham tersebut adalah saham-saham yang dimiliki, terafiliasi dan atau dikendalikan oleh Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro melalui Joko Hartono Tirto dan Moudy Mangkey. Saham-saham tersebut secara fundamental perusahaan (emiten) merugi dan berkinerja buruk serta tidak memberikan keuntungan karena mempunyai likuiditas yang rendah dengan adanya manipulasi perdagangan,” ulas dia lagi.

Akibat perbuatan Tersangka Pieter Rasiman bersama-sama dengan Heru Hidayat, Bentjok, Joko Hartono Tirto, Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo dan Syahmirwan diduga telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 16 triliun lebih.

Dugaan kerugian uang milik negara berdasarkan kata Leo, laporan hasil pemeriksaan investigatif pada PT AJS, periode tahun 2008 hingga 2018 BPK RI Nomor : 06/LHP/XXI/03/ 2020 tanggal 9 Maret 2020. 

Atas perbuatan tersebut, Tersangka Pieter Rasiman lanjut dia, mendapatkan keuntungan pribadi dengan membelanjakan uang hasil tindak pidana korupsi dengan membeli tanah dan bangunan serta kendaraan yang menggunakan nama Tersangka maupun atas nama pihak lain. “Dengan tujuan untuk menyamarkan asal usul harta kekayaan serta perbuatan lain, hal ini termasuk dalam tindak pidana pencucian uang,” terang Leo.

Tersangka Pieter Rasiman dijerat dengan dakwaan Pasal 2 maupun Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang No 31 tahun 1999 tentang Tipikor Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Selain itu Pieter juga dikenakan dengan Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang atau TPPU Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP. 

(Sofyan Hadi)

Check Also

Prajurit LANTAMAL III Jakarta Tingkatkan Kemampuan Penyidikan Tindak Pidana Tertentu Di Laut

Jakarta, sketsindonews – Dalam rangka meningkatkan profesionalisme pelaksanaan tugas Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut III …

Watch Dragon ball super