Back

Media Terpercaya

Ekpresi Seniman Tim Dalam Pernyataan Cikini Untuk Pemerintah

Jakarta, sketsindonews – Forum Seniman Peduli TIM akan menyampaikan “Pernyataan Cikini”, dan “Tuntutan Moratorium”, serta menyerahkan sejumlah catatan pelanggaran sejarah, etik, moral, dan hukum, yang terjadi sehubungan dengan kegiatan revitalisasi TIM itu.

Sumber sketsindonews dalam rilis dinyatakan berbagai acara akan digelar oleh para budayawan dan seniman dalam mereka menyampaikan ekspresi dengan aksi seni, ‘happening art’, tentang genosida kebudayaan yang menghantam TIM dan mempalu-godam banyak ruang-ruang elapresi seniman di berbagai daerah, seperti di Palembang, yang Taman Budayanya kini disulap menjadi mal dan pusat makan-memakan (kuliner).

Aksi seni akan berlangsung dengan menampilkan ‘silent action’ (pernyataan senyap), yang menyindir Pemprov. DKI Jakarta yang telah menghantarkan alat-alat berat dengan ‘diam-diam’ (tanpa permisi pada para seniman) yang notabene adalah pemilik saham terbesar kawasan TIM, sebagaimana diamanahkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, yang sangat dihormati oleh para seniman itu.

Mereka juga dengan bijak telah menyebarkan gestur dengan menutup mata kiri, sebagai bentuk protes atas kebijakan yang ‘memandang sebelah mata’ terhadap keberadaan para seniman, tidak hanya terhadap mereka yang ada di ibukota Jakarta, tapi juga ribuan seniman di berbagai daerah yang menganggap bahwa TIM juga adalah milik mereka.

Aksi silent action yang dilakukan Forum Seniman Peduli TIM sudah berlangsung sembilan kali di trotoar TIM di jalan Cikini Raya, dengan diikuti oleh para seniman dari Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Padang, Bali, dan berbagai kota.

Lanjut sumber, selain pula acara Diskusi Publik bertema genosida kebudayaan dan pemberangusan ruang kreatif, yang telah berlangsung dua kali, dengan dihadiri oleh ratusan seniman yang sepakat menolak Pergub 63 Tahun 2019 revitalisasi TIM.

Sejauh ini Gubernur DKI Jakarta bergeming dengan kebijakannya. Karena itu, kehadiran di Senayan besok, bisa segera menghasilkan jalan keluar yang benar-benar bermartabat, baik bagi para seniman maupun penguasa DKI Jakarta (yang bertanggungjawab untuk membiayai TIM dan seluruh kegiatan di dalamnya dari APBD) karena TIM adalah ruang investasi kebudayaan yang immateriel, yang tidak boleh dihinakan dengan dikelola oleh semangat mencari laba.

Harapannya penyampaian pernyataan dan tuntutan segera sampai ke telinga Pemerintah Pusat. Jika Pemprov DKI Jakarta tidak sanggup membiayai TIM, lalu menggadaikannya kepada Jakpro, maka para seniman berharap agar penguasaan TIM segera saja diambil alih oleh Pemerintah Pusat, tukas sumber.

(Nanorame)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.