Home / Traveling / Budaya / Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta

Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta

Yogyakarta, sketsindonews – Acara Sekaten yang diadakan Karaton Ngayogyokarto Hadiningrat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud pada hari Senin, 12 Desember 2016.

img-20161211-wa0040

Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Menilik sejarah, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh. Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Kakung (pria), Gunungan Wadon (perempuan), serta Gepak, Dharat dan Pawuhan. Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker.

Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang. Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol. Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit Lombok Abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok.

Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai “cucuking laku”, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton.

Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.

Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.

Namun biasanya belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan. Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah.

Filosofi berebut atau “ngrayah” ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus “ngrayah” atau berusaha untuk mengambilnya. Bahkan beberapa warga masih terlihat mengais sisa-sisa yang ada. Dari acara Grebeg Maulud tahun lalu ada seorang mbah-mbah yang berasal dari Bantul mengatakan bahwa potongan kacang panjang yang didapatnya akan dia simpan untuk mendatangkan keamanan dan ketentraman di rumahnya.(Kumara/Yassin Wisanggeni)

Check Also

Pesilat Yonif Mekanis Raider 413 Kostrad Raih Juara 3 PadaTransmart Cup Se-Jawa Tengah

Jateng, sketsindonews – Pesilat dari Yonif Mekanis Raider 413/Bremoro Kostrad raih juara 3 (tiga) di …

Watch Dragon ball super