Home / Artikel / Gubernur Anies Cuek Terhadap Isu Mubes Betawi

Gubernur Anies Cuek Terhadap Isu Mubes Betawi

Jakarta, sketsindonews – Setahun menjabat, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta terkesan “cuek” dengan masyarakat Betawi. Padahal 21 % dari 58 % perolehan suaranya di Pilkada DKI kemarin adalah suara masyarakat Betawi.

Sepertinya Anies masih belum terbangun dari mimpinya sebagai Gubernur Indonesia seperti prestasi yang pernah diraih Jokowi. Kita perlu menyadarkan dirinya bahwa senyatanya dia adalah Gubernur yang dimiliki warga Jakarta intinya adalah masyarakat Betawi, ujar Gus Rachman dari ormas Betawi.

Menurut Gus, belum setahun menjabat, masyarakat Betawi melalui lembaga adatnya, yakni Bamus Betawi, menobatkan gelar “Abang” bagi pak Anies sebagai bentuk pengakuan dan dukungan penuh masyarakat Betawi terhadap dirinya di dalam menjalankan roda pemerintahan. (23/8)

Terkait pelaksanaan Mubes VII Bamus Betawi yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini, Anies terkesan malu dalam menyikapi isu betawi tapi mau untuk ikut berpartisipasi.

Seharusnya Mubes tersebut yang terjadi di tahun politik ini mendapat sorotan penuh dirinya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat Betawi dengan mendorong pemilihan Ketua Umum Bamus Betawi yang bebas dari unsur politik praktis, yang memberlakukan sistem “One Delegation One Voot”.

Dengan begitu, Mubes tersebut diharapkan bersih dari politik uang, yang dalam bahasa yang kasar “Wani Piro”, terangnya.

Sambungnya, Bamus Betawi memiliki tanggung jawab dalam pelestarian dan pengembangan budaya (local wisdom), pengembangan pariwisata lokal serta pemberdayaan masyarakat Betawi ansich.

Sudah seharusnya Anies menyatakan sikap dan harapannya untuk Bamus Betawi ke depan, bukan malah diam-diam ikut terjebak ke dalam polemik kondisi Bamus Betawi kondisi “demisioner” dan tidaknya kepengurusan yang sekarang, sehingga nyaris terkesan “Apatis” terhadap hajat tahunan masyarakat Betawi, yakni Lebaran Betawi ke-11 di Setu Babakan yang lalu.

Anies seorang Gubernur yang berpendidikan di luar negeri dan aktif terlibat dalam organisasi, sudah pasti Anies tahu bahwa suatu kepengurusan organisasi dinyatakan “Demisioner” bukan di warung kopi, tapi dalam sebuah institusi resmi organisasi itu, yang dalam tradisi Bamus Betawi disebut “Mubes”.

Padahal Majelis Tinggi Bamus Betawi sebagai pimpinan puncak atau adat dalam kepengurusan Bamus Betawi sudah mengeluarkan Surat Keputusan tentang waktu pelaksanaan Mubes, yaitu bulan September.

Namun karena ketidakpuasan sebagian ormas pendukungnya yang mencurigai netralitas Majelis Tinggi itu, yang secara diam-diam didukung Anies seperti melalui kebijakannya yang tidak mengeluarkan dana hibah untuk hajat tahunan Lebaran Betawi membuat Bamus Betawi nyaris terpecah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah jaminan Majelis Tinggi Bamus Betawi tidak cukup? Ataukah memang Anies sengaja melakukan semua itu agar saatnya muncul sebagai “Hero”? Bamus kisruh..

Apakah salah bila kami sebagai masyarakat Betawi mencoba bersikap kritis terhadap fenomena tersebut? Salahkah bila kami mengharapkan Anies sebagai Gubernur untuk bersikap netral dan berusaha membantu Mubes yang bersih dari “money politic”, bebas dari menggunakan dana hibah, agar kami bisa mandiri?

Indikasi jelas sudah mencium aroma dana talangan yang nantinya akan diganti saat dana hibah dicairkan oleh Pemda DKI.

Pantaskah kalau kami meminta Anies selaku Gubernur untuk membantu masyarakat Betawi, agar mandiri di dalam membiayai pelaksanaan Mubes VII yang telah disepakati bersama waktunya, dengan mengeluarkan Ingub tentang Larangan Menggunakan Dana Hibah untuk Mubes Bamus Betawi, tegas Gus.

reporter : nanorame

Check Also

Kalahkan Kejahatan Dengan Kasih Tuhan

Roma 12: 9-21 Renungan, sketsindonews – Kasih ini mesti dimulai dari dalam dulu, karena, tidak …

Watch Dragon ball super