Home / Artikel / Hidup Dalam Kasih (Roma 12: 9-21)
Ilustrasi

Hidup Dalam Kasih (Roma 12: 9-21)

Renungan, sketsindonews – Manusia adalah mahkluk sosial, artinya tidak bisa hidup sendiri tanpa memiliki hubungan dengan orang lain. Itu berarti seseorang akan menikmati dan menjalani kehidupanya sebagai manusia yang wajar jika ia memiliki hubungan dengan orang lain. Inilah yang membedakan antara manusia dan binatang.

1. Hidup dan Melayani dengan kasih yang tulus. “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” (ay 9).

Rasul Paulus sadar, ternyata ada yang pura-pura. Ia dengan tegas berkata “jangan pura-pura” tetapi harus tulus dan tidak munafik.

Ia menggunakan kata Philadelphia yang berarti ikatan kasih yang terjadi di dalam keluarga.

Kasih orangtua kepada anak-anaknya, kasih yang muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa dan tanpa mengharapkan imbalan.

Ini yang harus terjadi di dalam gereja Tuhan! Kasih kekeluargaan! Dikatakan “saling mengasihi sebagai saudara” dan “saling mendahului memberi hormat” (ay 10).

Sebagai saudara karena begitulah kehendakNya, kita adalah saudara di dalam nama Tuhan Yesus, “Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki … perempuan … ibuKu” (Mat 12:50).

Bukti kasih dinyatakan, “kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14) jadi jika belum ada persatuan maka belum ada kasih dan kita tidak akan mampu menyapa atau mendahului memberi hormat.

Betapa banyaknya orang yang menghindar atau pura-pura tidak tahu jika bertemu dengan orang lain yang dikenalnya dan segereja.

2. Memperhatikan kebutuhan jemaat.
“Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakan dirimu untuk selalu memberi tumpangan!” (ay 13).

Siapa yang dimaksud orang kudus? Jemaat Tuhan, “jemaat Allah di Korintus yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus” (1 Kor 1:2).

Kewajiban kita adalah membantu orang-orang kudus yang di dalam kekurangan. Rasul Paulus berkata, “Marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal 6:10).

Di dalam jemaat mula-mula, “Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan” (Kis 4:34). Sejauh apa kita diminta oleh Tuhan untuk memenuhi kebutuhan saudara kita? Tuhan Yesus menyatakan tentang hari penghakiman, “…lapar … haus …asing kamu memberi Aku tumpangan … telanjang … sakit … di dalam penjara…” (Mat 25: 35-36).

Mereka yang memperhatikan kebutuhan tersebut dinyatakan “terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu …” (Mat 25:34). KehendakNya adalah kemurahan hati kita dan ini merupakan bukti kasih yang ada dalam kehidupan, “kasih itu murah hati” (1 Kor 13:4).

Dengan hidup saling mengasihi, umat Allah dapat menjalankan berbagai tugas panggilannya dengan baik dan “menghasilkan buah” bagi kemuliaan Allah dan kebahagian kehidupannya.

Jemaat sebagai umat Allah, mesti menempatkan hal saling mengasihi sebagai ciri khas kehidupan. Jikalau tidak, maka sebenarnya kita sedang merusak Gereja-Jemaat itu sendiri.

Bukankah banyak Gereja-Jemaat yang kalau berbicara tentang kasih begitu bersemangat tetapi untuk melaksanakannya begitu berat? Akibatnya banyak yang kehilangan jati dirinya, bahkan tidak berbeda dengan organisasi-organisasi lain dalam masyarakat.

Ketika kita berusaha untuk memahami dan mengerti apa yang disampaikan Paulus tentang hidup dalam kasih, di sini, tentu lebih mudah dari melaksanakannya.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita tidak punya pilihan lain kita harus hidup dalam kasih.

Semoga kita tidak hanya pandai berbicara tentang kasih atau memahaminya saja tetapi lebih dari itu kita juga harus tinggal di dalam kasih itu.

(Eky/ Renungan HKBP Ujung Menteng)

Check Also

Camat Senen : Menata Senen Seiring Karakteristik Potensi Iconic Wilayah

Jakarta, sketsindonews – Konsep penertiban secara perlahan akan kami tinggalkan dengan cara pendekatan humanistik yakni …

Watch Dragon ball super