Home / Artikel / Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso Wujud Kepamongan Pelayanan Warga

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso Wujud Kepamongan Pelayanan Warga

Jakarta,sketsindonews – Membangun wilayah dalam konteks pemberdayaan partisipatif sangat diperlukan dalam menyongsong kinerja yang sehat, hal ini diungkapkan Lurah Benhil Gatra Pratama saat menerima sketsindonews.com diruang kerjanya. ( 13-02-2017).

Lurah dalam satu wilayah merupakan perangkat yang lebih luas dalam tata kelola, dimana dibawahnya unsur terkait satuan pelaksana (skpd) dan Anggota PPSU yang menjadi pilar percepatan penyelesaian warga.

IMG_20170213_162153

Konsep pelayanan yakni dengan insting pamong tapi mental pamong merupakan seni (art), dalam mengaplikasikan pengelolaan “goverment”, kaitan ini bukan hanya sebagai Estate Manager tapi menjadi lebih luas kapasitas seorang pemimpin dalam profesi, papar Gatra.

“Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja istilah yang menjadi hakekat seorang pamong dalam mewujudkan pelaksanaan tupoksi pelayanan di masyarakat”.

Gatra yang sebelumnya pernah menjadi Wakil Lurah Paseban, kembali mengingatkan, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia selalu mengingatkan kita dengan semboyannya yang ditanamkan pada setiap nafas putrra puteri Indonesia, semboyan tersebut adalah “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”  penjabaran dari semboyan tersebut merupakan rangkaian makna apa itu ilmu bermasyarakat.

Ing Ngarso Sung Tulodo, ketika menjadi pemimpin harus dapat memberikan suri tauladan untuk semua orang yang ada disekitarnya.

Ing Madyo Mbangun Karso  bersal dari kata Ing Madyo yang diartikan di tengah-tengah, Mbangun yang memiliki arti membangkitan dan karso yang memiliki arti bentuk kemauan atau niat. keduanya ini adalah seseorang ditengah-tengah kesibukannya diharapkan dapat membangkitkan semangat pada masyarakat.

Aplikasi semboyan ini dalam masyarakat adalah berusaha menciptakan berbagai inovasi dalam lingkungannya dengan cara menciptakan kondisi  atau suasana kodusif yang dapat menimbulkan peningkatan keamanan dan kenyamanan.

Sementara “Tut Wuri Handayani”
Dari asal katanya Tut Wuri Handayani, dirangkai dari kata tut wuri yang memiliki arti mengikuti dari belakang dan kata handayani yang memiliki arti memberikan motivasi atau dorongan moral atau dorongan semangat.

Bahwa seseorang diharapkan dapat memberikan suatu dorongan moral dan semangat kerja  ketika seseorang tersebut berada di belakang (tiori pamong).

Dalam membangun wilayah bukan pada pembangunan fisik saja tapi non fisik secara partisipatif masyarakat adalah tujuan sebuah hasil dalam menggerakan potensi lokal, tutup Gatra. (Nr)

Check Also

Tarian Perang Dan Mahkota Bulu Kasuari, Sambut Kedatangan Pangdivif 3 Kostrad Mayjen TNI Novi Helmy Prasetya

Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, Mayjen TNI Novi Helmy Prasetya, S.I.P., M.I.P., beserta Ibu Ketua …

Watch Dragon ball super