Ironis, Pelaku Kekerasan pada Anak Hanya Divonis 8 Bulan Penjara

Jakarta, sketsindonews – Rendahnya hukuman bagi pelaku penganiayaan dan percobaan pembunuhan terhadap anak, ternyata bukan hisapan jempol belaka.

Terbukti dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakrta Pusat, Selasa (28/7/20). Terdakwa Noor Eritmatika Syahlani hanya divonis 8 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun. Putusan itu sama ringannya dengan requisitor penuntut umum yakni delapan bulan.

Dalam amar putusannya, Ketua Majelis Hakim Made Sukereni, menyatakan Terdakwa Noor Eritmatika Syahlani telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “kekerasan terhadap anak” sebagaimana dakwaan alternatif kesatu Pasal 80 ayat (1) UU Rl No.35/2014 Tentang Perubahan Atas UU No.23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 8 bulan masa percobaan 1 tahun dan denda Rp.70.000.000 dengan ketentuan apabila tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan,” ujar Ketua Majelis Hakim Made Sukereni.

Usai persidangan, Ibu korban berinisial NA kecewa terhadap tuntutan pidana dari JPU Never Titi dan putusan majelis hakim PN Jakpus tersebut.

Sebab menurut NA, perbuatan yanh dilakukan Terdakwa Noor Eritmatika Syahlani, diluar kewajaran sebagai manusia serta membahayakan keselamatan anak-anaknya.

“Kedua anak saya sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari mantan suami, bukan hanya menjadi korban kekerasan. Melainkan Noor juga mempunyai niat ingin membunuh kedua anaknya sendiri,” tutur NA.

Ia menjelaskan, anaknya kerap mendapat perlakuan kasar dari Terdakwa Noor. “Anak saya sering dicubit sampai tangan dan kakinya biru-biru, lecet di paha. Juga bisa sampai berdarah dan merasa perih. Pada saat diperiksa polisi sampai divisum pun anakku masih merasakan sakit,” kata NA dengan wajah berlinang air mata.

Bahkan lanjut dia, dalam berita acara pemeriksaan alias BAP, Terdakwa Noor mengaku akan membunuh darah dagingnya sendiri.

“Dia juga sering mengancam anak saya. Pada saat di-BAP pun dia bilang dia akan terus nyubitin sampai berdarah. Kemudian, kalau sudah pingsan dia akan menusuk anaknya,” beber NA.

NA menambahkan, bahwa anaknya sering mengadukan perbuatan-perbuatan mantan suaminya tersebut kepadanya melalui whatsApp pada saat anak Terdakwa Noor tidak ada di rumah. Maklum Ibu NA dan Terdakwa Noor sudah tidak satu atap lagi.

“Anak saya sering cerita, katanya, mama mau ditusuk. Mama tangan mbak didudukin,” tandasnya dengan lirih.

(Sofyan Hadi)