Home / Artikel / Isu Sara Membuat Kita Menjadi Penghujat

Isu Sara Membuat Kita Menjadi Penghujat

2 petrus 2:10b-16

Renungan – Surat 2 Petrus merupakan pesan terakhir Rasul Petrus yang ditulis menjelang kematiannya.

Disini, dipaparkan kekejian orang yang hidup dalam kuasa nafsu dunia yang menjijikkan tanpa kenal malu.

Para pengajar sesat diumpamakan Petrus sebagai binatang yang tidak berakal (12), angkuh (10b, 18), penuh hujatan kepada Allah, tidak peka terhadap kekudusan dan kemuliaan Allah, melakukan dosa tanpa merasa ngeri atau jijik, memperdaya dengan hawa nafsu (14, 18-19) tanpa merasa bahwa perbuatan mereka lebih pantas dilakukan oleh binatang liar.

Yang lebih mengerikan lagi adalah mereka berasal dari tengah-tengah jemaat yang sudah menerima banyak anugerah Tuhan, sudah mencicipi keselamatan dari Tuhan, akan tetapi sengaja mening-galkan Tuhan demi hawa nafsu kedagingan mereka (20).

Peribahasa yang tepat untuk mereka adalah, “seperti anjing kembali memakan muntahannya, dan babi yang mandi kembali ke kubangannya.” Tuhan pasti membinasakan mereka karena perbuatan jahat mereka.

Firman Tuhan bagi kita saat ini ingin mengarahkan pandangan kita akan ancaman penyesatan yang ada di sekeliling kita yang hendak menarik kita ambil bagian dalam kesesatan itu, diantaranya: 1. Isu-isu SARA yang membawa kita menjadi orang penghujat dan penghina.

Peluang untuk saling menyalahkan, menganggap diri benar dengan cara kekerasan dan kekasaran sangat terbuka lebar. Memicu konflik Agama, Ras, Suku ataupun kelompok. 2.

Mengikuti naluri nafsunya, yaitu dampak negatif kemajuan jaman yang begitu cepat terjadi yang membawa kita pada kerakusan, ketamakan, hawa nafsu percabulan.

Tanpa di sadari kita di paksa memiliki segala apa yang di sediakan oleh kemajuan jaman tanpa memperdulikan orang lain. Maka tidak aka nada ubahnya kita ini seperti binatang bahkan mungkin lebih buruk lagi (ay. 12).

Oleh karena itu sebagai orang Kristen yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, tentu kita harus bijak dalam menyikapi hal-hal yang tersebut di atas, sebagaimana Rasul Petrus menuliskan agar kita menggunakan akal pikiran bukan naluri nafsu kita.

Dapat kita lihat bagaimana dunia disekitar kita menyuguhkan pemandangan yang menggoda kita untuk menikmati kebahagiaan dan kenikmatan dengan uang, seks, konsumeriseme, hedonisme. Seakan-akan itu adalah jawaban untuk kebahagiaan kita.

Namun sebagai seorang Kristen, bagaimana kita teguh pada konsep sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan “Berbahagialah mereka yang yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20: 29b).

Bagaimana kita dengan teguh memegang prinsip, bahwa kita hidup itu mengandalkan iman percaya kepada Tuhan Yesus bukan mengikuti apa yang kita lihat

Check Also

Calon Kuat Peganti Sandiaga, M Taufik Menguat Sebagai Wagub DKI

Jakarta, sketsindonews – Para Aktifis Jakarta telah menduga pertarungan di DPRD DKI peganti Wagub Sandiaga …

Watch Dragon ball super