Home / Artikel / Katakan “Cinta” Lewat Film

Katakan “Cinta” Lewat Film

Jakarta, sketsindonews – Dewasa ini siswa-siswi SLTA cenderung untuk meninggalkan budaya sendiri dan mengangungkan budaya asing. Anak-anak lebih gemar terhadap sesuatu yang datang dari luar, dianggapnya hal tersebut lebih mengikuti perkembangan zaman: dalam hal memilih makanan, cara berpakaian, cara berbicara, hiburan semua meniru gaya asing terutama Korea dan Amerika.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta merasa terpanggil untuk memotivasi pelajar agar lebih mencintai seni dan budaya sendiri sehingga dapat mempertahankan identitas bangsa dari pengaruh globalisasi.

Bakesbangpol DKI Jakarta menggelar kegiatan Pelaksanaan Dialog “Membangun Semangat Cinta Seni dan
Budaya”.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bapak H. Darwis M. Adji, SH., M.Si. selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta, yang dilaksanakan pada hari Senin 7-9 Mei 2018, bertempat di Hotel Balai Arimbi Cipayung Bogor, Jawa – Barat.

Peserta diikuti oleh 120 orang siswa/siswi dan beberapa guru pendamping dari 12 sekolah negeri dan swasta di lingkungan DKI Jakarta.

Hadir sebagai pembicara diantaranya Ibu Harunti mewakili Direktur ketahanan ekososbud Dirjen Polpul Kemendagri, Zak Sorga (Zakaria) Budayawan, trainer dan motivator, Dr. Can Suddibyo S. Sn., M.Si. (Budayawan,
akademisi, trainer dan motivator), dan Dr. Maryanto, M.Hum. mewakili Ka. Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.(9/5)

Pemberian materi tidak hanya diberikan
melalui ceramah dan dialog namun sekaligus workshop pembuatan film pendek.

Dalam presentasinya Sudibyo JS. menyampaikan bahwa seni itu adalah suatu esensi yang halus, lembut dalam keindahan dan pengalaman hidup manusia.

Disana kita bisa belajar berbudaya yang baik-baik dan bermanfaat bukan yang jelek atau destruktif. Jadi kehadiran seni akan memperkaya tujuh unsur kebudayaan : bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan seni.

Selain menyampaikan esensi seni dan budaya Sudibyo JS dan Jak Sorga juga memberikan workshop produksi film pendek.

Menurut Sudibyo JS film pendek itu bukan film panjang yang dipendekan tetapi film pendek itu memiliki struktur tersendiri: pertengahan dan ending, tanpa opening.

Dari struktur ini siswa belajar untuk menawarkan persoalan yang penting untuk dibahas dan menemukan solusi jitu untuk menyelesaikannya.

Dengan demikian membuat film pendek ini melatih cara-cara berfikir dan cara-cara merasakan sebuah fenomena. Hasilnya mereka akan memiliki kepribadian yang halus.

Sementara Ibu Anis selaku guru SMK Perguruan Cikini menyatakan bahwa materi dialog dan workshop sangatlah efektif karena siswa dan siswi belajar dengan mengoptimalkan seluruh panca indera mereka yaitu melalui apa yang kita lihat, dengar, katakan, dan melalui pengalaman langsung. Ini akan sangat melekat 95% pada memori mereka.

Memori positif ini akan menasehatinya untuk mencintai budaya sendiri ditengah gempuran globalisasi. Dengan demikian siswa dapat memiliki kesadaran akan pentingnya kearifan lokal dan dapat memilah dan memilih pengaruh baik dan buruk budaya asing.

Begitupula dengan siswa-siswi, Shafatahillah-Aurel mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat menyenangkan karena dapat membantu dalam menuangkan gagasan melalui teknologi yang dikuasainya.

Teknologi yang mereka bisa gunakan dalam pembuatan film ada dalam
handfonenya: kamera, editing, sound recording dan special effect. Melalui praktek pembuatan film ini siswa dapat membangun kesadaran akan kecintaan terhadap seni dan budaya.

reporter : nanorame

Check Also

Perda Dewa Tibum, Satpol PP Bisa Bikin Tertib Jakarta

Jakarta, sketsindonews – Perda No 8 Tahun 2007 Tentang Keteriban Umum DKI Jakarta merupaka perda …

Watch Dragon ball super