Home / Berita / Kejati Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Bank Kalbar

Kejati Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Bank Kalbar

Jakarta, sketsindonews – Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan gelar perkara, tim penyidik Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, akhirnya menentapkan serta menahan, dua tersangka kasus pembobolan Bank Kalbar Cabang Bengkayang sekitar Rp8, 857 miliar. 

“Guna mempermudah pemberkasan dan juga menghindari tersangka melarikan diri dan lainnya, seperti diatur di KUHAP, tim penyidik melakukan penahanan, ” ucap Kepala Kejaksaan Tinggi Masyhudi kepada pewarta, Rabu (3/2/21).

Kedua tersangka yang ditahan, adalah Sri Rohaeni dari Swasta dan M. Yusuf selaku pegawai pemerintah Kabupaten Bengkayang.

Masyhudi menjelaskan kedua tersangka ditahan, di Rutan Kelas II, Pontianak selama 20 hari dan dapat diperpanjang sesuai kepentingan penyidkan.

Tersangka Sri Rohaeni dan Yusuf disangka melakukan pemberian fasilitas kredit PT. Bank Kalbar Cabang Bengkayang. Keduanya dijerat Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Jo Pasal 18 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dalam UU No 20/2001  Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Masyhudi menuturkan perkara ini merupakan splitsing (perkara yang dipisah) dari perkara sebelumnya yang sudah inkraht. Perkara dimaksud atas nama Terpidana Herry Murdiyanto sesuai Putusan No.7/ Pid.Sus.TPK/2020.PN.Ptk tanggal 16 Oktober 2020. Serta, Terpidana Muhammad Rajali dengan Nomor Putusan No.8/Pid.Sus. TPK /2020.PN.Ptk tanggal 16 Oktober 2020. Dan terakhir, Terpidana Selastio Ageng  No.9 /Pid.Sus.TPK/2020.PN.Ptk tanggal 16 Oktober 2020.

Masyhudi menambahkan Tim penyidik Pidsus Kejati Kalbar akan segera menyelesaikan penyidikan dan pemberkasannya. “Selanjutnya, dilakukan penyerahan Tahap I (Penyerahan Berkas Perkara) ke tim jaksa peneliti. Laly,  limpah pengadilan, bila berkas dinyatakan lengkap dengan kode P21.” imbuh mantan Kajati Yogyakarta.

Ia menambahkan, tim penyidik telah menyita dari para tersangka sebesar Rp1, 28 miliar. Kerugian negara cq. Bank Kalbar adalah Rp8, 857 miliar.

Untuk diketahui, kasus ini berawal dari pengajuan kredit barang/jasa oleh 31 perusahaan dengan 74 pekerjaan kepada Bank Kalbar Cabang Bengkayang.

Tersangka Sri Rohaeni dan M. Yusuf membantu atau bersama-sama dengan 3 tersangka lain  (Hery Murdianto, Kasubdin Sosial Kab. Bengkayang  / M Rajali (Kacab Bank Kalbar Bengkayang) /Sulastiyo Ageng (Kasi Kredit Bank Kalbar Cabang Bengkayang) pada  2018.

Sri Rohaeni bersama Herry Murdiyanto mempersiapkan dokumen-dokumen kontrak dan SPK sebanyak 31 perusahaan untuk 74  paket pekerjaan untuk memperoleh Kredit Pengadaan Barang/Jasa  dari Bank Kalbar Cabang Bengkayang.

Sementara, tersangka M. Yusuf selain mempersiapkan dokumen-dokumen kontrak untuk memperoleh Kredit Pengadaan Barang/Jasa.

Atas pekerjaan itu,  tersangka M. Yusuf S menerima pemberian uang dari para Direktur CV/Pelaksana, namun dokumen-dokumen kontrak dan SPK yang dibuat tidak sesuai dengan fakta sebenarnya

Pengurusan  permohonan kredit dilakukan, dengan jaminan SPK yang ditandatangani  Herry Murdiyanto selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Lalu, Supriyano  (1 SPK) dan  Gunarso (74 SPK) selaku Pengguna Anggaran dalam SPK. Dalam permohonan dicantumkan tentang sumber anggaran proyek, yaitu daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 0689/060-01.2.01/29/2018 TA 2018. Namun,  pembayaran/pengembalian uang kredit tidak bisa dilaksanakan karena program tersebut (SPK dan DIPA) fiktif. Akibatnya, negara dirugikan sebesar Rp8, 847 miliar lebih.

(Sofyan Hadi)

Check Also

Ucapkan Selamat Ultah buat Jokowi, LaNyalla Optimis RI Keluar dari Pandemi

Jakarta, sketsindonews – Presiden Joko Widodo memasuki usia yang ke-60 tahun, Senin (21/6/21). Ketua DPD …

Watch Dragon ball super