Home / Artikel / Kongres HMI Jangan Gaduh Hindari Money Politik

Kongres HMI Jangan Gaduh Hindari Money Politik

Jakarta,  sketsindonews – Perhelatan Akbar Kongres ke – XXX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kota Ambon, Provinsi Maluku  hari ini akan menunjuk calon pimpinan Ketua Umum HMI sekaligua momentum milad Milad HMI 14 Rabiul Awal 1336 H bertepatan 14 Februari 1947.

Kongres HMI kali ini mempunyai arti strategis yang amat penting bagi HMI, keluarga Besar Korps Alumni HMI, umat Islam dan bangsa Indonesia, terang Prof.Dr.Musni Umar Sosiolog sekaligus Rektor Universitas Ibnu Chaldun. (14/2)

Pertama, kongres  HMI dilaksanakan menjelang pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) termasuk diantaranya pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Provinsi Maluku, sehingga dinamika politik di Indonesia akan ikut  mempengaruhi jalannya kongres HMI.

Kedua, kota Ambon, Provinsi Maluku, diawal Orde Reformasi  pernah terjadi konflik antara  umat Kristiani dan umat Islam. Kondisi demikian, mengharuskan para peserta kongres serta peninjau  menciptakan suasana yang damai, kondusif dan jangan gaduh.

Ketiga, bangsa Indonesia yang mayoritas masih menghadapi masalah besar yaitu ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, KKN dan sebagainya.  Belakang ini terjadi teror dan pembunuhan terhadap ulama dan pemuka agama.

Kader HMI sebagai bagian dari bangsa Indonesia, serta anak kandung dari umat Islam dan pelanjut perjuangan bangsa dan negara,  memegang tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan negeri di masa depan.

Maka kader HMI yang berkongres harus memberi contoh teladan dalam melaksanakan kongres. Mereka diharapkan melahirkan pemikiran besar untuk membawa bangsa ini keluar dari kesulitan dan bangkit menjadi bangsa dan negara yang maju.

Keempat, para kader HMI memiliki andil yang besar dalam menumbangkan rezim Orde Baru, dengan isu sentral “Korupsi, Kolusi dan Nepotisme” dengan jargon KKN.  Maka sangat tidak bisa diterima, jika dalam kongres ada politik uang dalam memilih Ketua Umum HMI karena hal itu merupakan bentuk lain dari KKN.

Kelima, para alumni HMI pada khususnya dan umat Islam umumnya  banyak terpinggirkan dalam bidang ekonomi dan secara bertahap dalam bidang politik. Ini disebabkan, demokrasi sebagai  anak kandung dari kapitalisme dan liberalisme, sejatinya tidak ada tempat bagi para aktivis yang hanya bermodalkan semangat dan  kepintaran berorganisasi.

“Dia pun mengingatkan, karena kondisi politik sudah berubah,  maka tidak ada pilihan bagi HMI  kecuali mengubah paradigma berpikir dan bertindak untuk menyiasati perubahan tersebut.”

Memilih Pemimpin Baru

Agenda kongres HMI yang amat penting, hanya satu yaitu memilih Ketua Umum HMI yang baru.

Dalam rangka itu, maka pemimpin HMI yang dipilih haruslah yang memenuhi kriteria.

Pertama, yang terbaik dari kalangan kader HMI saat ini, yaitu ketaqwaannya, keilmuannya dan kecerdasannya, serta kepemimpinannya.

Kedua, memiliki sifat amanah yang bisa dipercaya perkataan dan perbuatannya.

Ketiga, jujur dan adil. Sebagai pemimpin HMI, diharapkan menjadi pemimpin bangsa dan negara di masa depan, maka calon Ketua Umum HMI harus dipilih yang jujur dan adil.

Keempat, cerdas (fathanah).  Pemimpin HMI harus cerdas dan terbaik dari kalangan kader HMI, maka peserta kongres harus memilih Ketua Umum HMI yang cerdas dan terhebat dari kalangan kader HMI.

Kelima, tidak melakukan politik uang.  Para calon Ketua Umum HMI tidak boleh melakukan politik uang untuk meraih dukungan suara dari peserta.  Sebaliknya peserta kongres HMI tidak usah memilih calon Ketua Umum HMI  yang melakukan politik uang.

Ingatlah sabda Nabi Muhammad SAW: Allah mengutuk yang menyogok dan penerima sogok. Penyogok dan penerima sogok tempatnya di neraka, terang Musni Umar.

Allahu a’lam bisshawab

reporter : nanorame

Check Also

Apa Kata Kang Yayat, Usia Jakarta 491 dan Persoalan Klasik Yang Tak Pernah Tuntas

Jakarta, sketsindonews – HUT DKI Jakarta ke – 491 Kota Jakarta seharusnya bukan semakin tua, …

Watch Dragon ball super