Home / Profile / Mahasiswa Tugasnya Belajar Juga Demo

Mahasiswa Tugasnya Belajar Juga Demo

Jakarta, sketsindonews – Koordinator Pusat BEM SI, Bagus Tito Wibisono menyatakan bahwa larangan yang disampaikan menteri riset dan teknologi kepada para mahasiswa untuk tidak turun aksi demonstrasi merupakan tindakan yang tidak mencerminkan intelektualitas.

“Hal ini diperkuat dengan pernyataannya yang dikutip dari detik.com, Kamis, 3 November 2016 pukul 14.49 WIB yang berbunyi, “Mahasiswa tugasnya belajar, bukan demo.” Padahal demonstrasi merupakan aspek pembelajaran dalam ilmu sosiologi, serta dijamin oleh konstitusi negara Indonesia sebagai salah satu cara penyampaian pendapat di muka umum,” jelasnya.

Menurut Tito yang juga Ketua BEM UNJ, Secara tidak langsung, pernyataan menteri “Mahasiswa tugasnya belajar bukan demo” menunjukan bahwa para demonstran yang gemar turun ke jalan bukanlah seorang pembelajar.

“Padahal, sebelum turun ke jalan kajian akademik pasti dilakukan,” ujarnya.

Dijelaskannya, Tradisi  intelektual ini akan mengkaji dan menganalis isu yang sedang diangkat menggunakan kajian yang komprehensif dan didasari literasi yang valid. Selain itu, menurutnya lagi, demonstran selalu melakukan pembelajaran moral dan hati nurani sehingga hati mereka lembut kepada rakyat tertindas dan bersikap tegas kepada tiran.

“Tidak sedikit juga para demonstran yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik, namun tetap rendah hati menyuarakan kepentingan rakyat kecil,” ucapnya.

“Pernyataan menteri ini memutus tali sejarah nusantara,” tambah Tito.

Hal ini ditambahkan Tito, jelas melukai perasaan para aktivis dan merupakan bentuk penghinaan terhadap sejarah bangsa. Pasalnya, reformasi politik,  pemerintahan, birokrasi, bahkan pemisahan kubu TNI dan POLRI baik di kelembagaannya sendiri maupun di ranah politik, tidak lepas dari peran para demonstran sang aktivis jalanan pada tahun ’98 silam.

“Kini rakyat menanti masa kejayaan itu datang lagi. Hadirnya para mahasiswa dengan tradisi intelektualitas yang berkelas serta dekat dengan rakyat. Bukan yang terus termenung dalam pengapnya suasana kelas, dan apatis dengan penguasa yang beringas,” ujarnya.

Turunnya mahasiswa ke jalan, bagi Tito menunjukan proses check and balances yang masih berlangsung dan menjaga stabilitas jalannya pemerintahan dan mencegah bagi-bagi rakusnya kekuasaan.

“Idealnya, gelombang demonstrasi akan tetap ada selama pemerintah masih tidak berpihak kepada kepentingan rakyat kecil, elitis, otoriter dan menyalahgunakan kewenangannya,” Tito meyakini.

Membungkam demonstrasi, ditegaskan Tito, hanya akan menambah riak-riak gejolak pergerakan mahasiswa, dan menimbulkan gelombang aksi yang lebih besar. Karena siapapun pemimpinnya, mahasiswa akan tetap berdiri gagah di poros tengah sebagai mitra kritis pemerintah,  tegap dengan idealismenya yang tidak mampu terbayar dengan harta, tahta, dan wanita.

“Sampai kapanpun, mahasiswa tugasnya belajar juga demo,” pungkasnya. (Eky)

Check Also

Fokus Bangun Ekonomi Kerakyatan, Milasari Siap Tingkatkan Jumlah Lapangan Pekerjaan

Jateng, sketsindonews – Caleg DPR RI No. Urut 1 Dapil 6 Jateng dari Partai Berkarya …

Watch Dragon ball super