Home / Berita / Mantan Jampidsus dan Eks Kabareskrim Disebut dalam Persidangan

Mantan Jampidsus dan Eks Kabareskrim Disebut dalam Persidangan

Jakarta, sketsindonews – Mantan Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus atau Jampidsus Kejaksaan Agung, Adi Toegarisman dan eks Kabareskrim Mabes Polri Komjen Ari Dono Sukmanto disebut dalam persidangan kasus dugaan suap proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2017-2018 di Pengadilan Tipikor di Pengadilan Tipikor hari ini.

Munculnya nama Adi Toegarisman dan Ari Dono Sukmanto tatkala kuasa hukum Terdakwa Rizal Djalil, FX Suminto Pujiraharjo bertanya kepada saksi Leonardo Jusminarta Prasetyo bekas Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama mengenai dua nama pejabat tersebut.

“Saudara saksi apakah benar keterangan saksi Febi yang mengaku kenal dengan mantan pejabat Kejaksaan Agung Adi Toegarisman dan mantan Kabareskrim Ari Dono?” ucap Suminto dihadapan Ketua Majelis Hakim Albertus Usada. “Benar Yang Mulia,” tutur Leonardo Senin (8/3/21).

Kemudian Suminto bertanya kembali “Apakah saksi pernah bertemu dengan Adi Toegarisman dan Ari Dono?,”. Leonardo menjawab, “Tidak Yang Mulia. Saya tidak pernah bertemu,” aku dia.

Dalam persidangan Advokat Suminto juga menyebutkan Febi Festia diduga sebagai perantara makelar kasus dan bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan.

Advokat FX Suminto Pujiraharjo awalnya menanyakan soal pertemuannya dengan Terdakwa Rizal Djalil di Nusa Dua Bali tahun 2016.

“Apakah benar saksi pernah bertemu dengan terdakwa?,” tanya Suminto. Dan dijawab oleh saksi Leonardo “Benar saya ketemu dengan terdakwa di Nusa Dua Bali. Tetapi pertemuan itu sangat singkat karena sambil berjalan,” ucap Leonardo.

Untuk diketahui sebagaimana dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK Ikhsan Fernandi, menyebutkan awal mula perkenalan Rizal dan Leonardo pertama kali bermula pada acara kedinasan di Bali pada 2016 saat diperkenalkan mantan adik ipar Rizal bernama Febi Festia. Dua minggu kemudian, Leonardo diantarkan Febi bertamu ke rumah Rizal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Leonardo memperkenalkan diri sebagai lulusan Australia dan ingin mengerjakan proyek-proyek di Kementerian PUPR melalui perusahaan PT Minarta Dutahutama.

Pada Oktober 2016, Rizal lalu memanggil Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Direktur PSPAM) Kementerian PUPR Mochammad Natsir dan menyampaikan temuan kegiatan pembangunan tempat evakuasi sementara di provinsi Banten. Namun Natsir mengatakan proyek itu bukan di Direktorat PSPAM.

“Yang kemudian dijawab oleh terdakwa ‘Saya tahunya Pak Nasirlah’, kemudian Natsir menjawab ‘Iya Pak, nanti saya koordinasikan’. Terdakwa kemudian menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan dilaksanakan pemeriksaan khusus di Direktorat PSPAM dan dijawab Natsir ‘Silakan Pak’,” ucap jaksa Ikhsan.

Rizal juga mengatakan akan ada stafnya yang menghubungi Natsir. Selanjutnya, Leonardo dan Festia datang ke kantor Natsir di gedung Kementerian PUPR dan menegaskan bahwa dirinyalah orang yang dimaksudkan Rizal. Leonardo juga menyampaikan keinginan untuk ikut serta dalam lelang proyek di lingkungan Direktorat PSPAM. Natsir lalu mempersilakan PT Minarta mengikuti lelang.

Rizal lalu menandatangani surat tugas pada 21 Oktober 2016 untuk melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) atas Pengelolaan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Air Limbah pada Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR dan Instansi Terkait Tahun 2014, 2015 dan 2016 di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi.

Berdasarkan klarifikasi dari pihak auditor tersebut, didapat laporan dari masing-masing PPK bahwa dalam dokumen Temuan Pemeriksaan (TP) terdapat temuan sejumlah Rp37,23 miliar. Setelah dilakukan klarifikasi antara Satker SPAM Strategis dengan Tim Pemeriksa BPK dalam pertemuan pada April 2017, dokumen temuan berubah menjadi Rp18 miliar.

Natsir kemudian menyampaikan pesan kepada Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SPAM Strategis Tampang Bandaso bahwa ada proyek di Direktorat PSPAM yang diminati Rizal melalui kontraktor bernama Leonardo Jusminarta Prasetyo. Natsir selanjutnya digantikan oleh Muhammad Sundoro alias Icun, dan Icun meminta agar Kepala Satger SPAM Strategis baru yaitu Rahmat Budi Siswanto mengakomodasi permintaan Rizal tersebut.

Pada pertengahan 2017, Leonardo meminta Direktur Teknis dan Pemasaran PT Minarta Misnan Miskiy menyiapkan dokumen untuk proyek pembangunan JDU SPAM IKK Hongaria Paket 2. PT Minarta lalu dinyatakan sebagai pemenang lelang proyek Hongaria 2 TA 2017-2018 yang lokasi pengerjaan-nya di wilayah Pulau Jawa meliputi Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur yang total nilainya Rp75,835 miliar.

Sekira Januari 2018 Tampang Bandaso melaporkan kepada Natsir bahwa hasil akhir PDTT di Satker SPAM Strategis tahun 2014, 2015 dan 2016 belum keluar, Natsir lalu meminta Leonardo menanyakannya kepada Rizal. Pada Maret 2018, Leonardo meminta karyawan PT Minarta bernama Yudi Yordan mengantarkan uang ke rumah Febi Festia sejumlah Sing$100 ribu dan AS$20 ribu sambil berkata “Ini titipan ‘dokumen’ dari Pak Leo”.

Febi Festia bersedia menerima amplop berisi uang tersebut karena sebelumnya pernah menerima pesan dari Rizal bahwa kalau ada “sesuatu” yang ingin disampaikan agar menghubungi anak Rizal bernama Dipo Nurhadi Ilham. “Febi lalu menghubungi Dipo dengan mengatakan ‘Dipo…ini ada uang 100 ribu Singapura dolar dari Pak Leo, untuk diserahkan ke ayah..’. Atas penyampaian Febi itu, Dipo meminta agar uang tidak diberikan dalam mata uang asing,” tambah jaksa.

Febi lalu menukarkan uang Sing$100 ribu itu ke mata uang rupiah hingga totalnya lebih dari Rp1 miliar. Febi lalu menyerahkan uang itu kepada Dipo pada 21 Maret 2018 di Transmart Cilandak sambil berkata “titip ini buat ayah”. Sedangkan uang 20 ribu dolar AS dari Leonardo dipergunakan untuk keperluan pribadi Febi.

Dipo pada malam harinya lalu menyerahkan “paper bag” berisi uang Rp1 miliar itu ke rumah Rizal. Setelah menerima uang itu, Rizal pada April 2018 memanggil Direktur Jenderal Cipta Karya Sri Hartoyo, Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Dodi Krispratmadi dan Sesdirjen Cipta Karya Rina. Rizal menyampaikan agar Leonardo diberi pekerjaan yang besar dan memberitahukan bahwa Leonardo akan menghubungi Sri Hartoyo.

Setelah adanya penerimaan uang dari Leonardo, Rizal pada Juni 2018 memerintahkan tim audit agar laporan hasil PDTT proyek di lingkungan Ditjen Cipta Karya PUPR, termasuk proyek di SPAM Strategis tahun 2014, 2015 dan 2016 segera diselesaikan. 

Selanjutnya pada Januari 2019 Rizal menandatangani Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas PDTT Pengelolaan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Air Limbah pada Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR serta Instansi Terkait Lainnya tahun 2014, 2015 dan 2016 di Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi dengan Nomor 03/LHP/XVII/01/2019 tanggal 8 Januari 2019 dengan hasil temuan seluruhnya sejumlah Rp4,2 miliar.

Atas perbuatannya, Rizal Djalil didakwa didakwa berdasarkan pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Sofyan Hadi)

Check Also

Komandan Lantamal III Hadiri Sosialisasi Unclos 1982 di Jajaran Koarmada I Tahun 2021

Jakarta, sketsindonews – Komandan Lantamal III Brigjend TNI (Mar) Umar Farouq, S.A.P. menghadiri Sosialisasi Unclos …

Watch Dragon ball super