Home / Artikel / Sebagai Murid Kristus, Kita Dipanggil Untuk Berbuah

Sebagai Murid Kristus, Kita Dipanggil Untuk Berbuah

Yohanes 15:1-8

Renungan – Pokok dan ranting adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanaman, yang menggambarkan simbol dari suatu hubungan yang erat!

Dalam perikop ‘Pokok anggur yang benar’ ini ada dua jenis ranting yaitu ranting yang berbuah dan yang tidak berbuah.

Ranting yang berbuah pasti tidak luput dari proses pembersihan atau pemangkasan, yaitu memangkas atau memotong bagian-bagian yang kering dan tidak berguna, yang mungkin ada ulat atau penyakit di dalamnya supaya kesuburan pohon tersebut tidak terganggu.

Ini dilakukan untuk tujuan yang baik yaitu supaya berbuah semakin lebat.

Pembersihan atau pemangkasan pasti akan terasa menyakitkan, tapi ini mendatangkan kebaikan bagi kita.

Segala sesuatu yang selama ini menjadi penghalang bagi kita untuk bertumbuh harus dibersihkan secara tuntas, seperti misalnya karakter lama atau kebiasaan-kebiasaan buruk yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan rohani alat pemangkas atau pemotongnya adalah firman Tuhan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12).

Jadi untuk mengalami pertumbuhan rohani yang sehat selain harus tetap melekat kepada pokok anggur yang benar yaitu Tuhan Yesus, kita pun harus merelakan diri untuk dibentuk, diproses dan dibersihkan oleh Tuhan melalui firman-Nya!

Sebagai orang kristiani, Kristuslah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingNya yang diharapkan mampu berbuah manis dan melimpah.

Namun buah akan dihasilkan hanya apabila kita bersatu dengan batang anggur yaitu Yesus sendiri.

Ketika ranting itu dipotong dan tidak menyatu lagi dengan pokoknya, maka pelan-pelan ranting itu akan mati.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk berbuah.

Buah akan dihasilkan kalau kita dengan cara tertentu bersatu dengan Yesus sendiri.

Tanpa persatuan dengan Kristus, tanpa kedekatan dalam relasi pribadi, kita akan menjadi kering dan mati.

Tuhan Yesus adalah kekuatan yang memungkinkan kita berani dan kuat di tengah kelemahan. Yesus yang sama yang menghidupkan saat kita mati.

(Renungan HKBP Ujung Menteng)

Check Also

Hati Yang Baru dan Roh Yang Baru

(Hesekiel 36:25-28) Renungan, sketsindonews – Terjadinya pembuangan bangsa Israel, bukan berarti Allah tidak mengasihi mereka, …

Watch Dragon ball super