Home / Apa Kata Mereka / Ormas Betawi “Ngedumel” Putusan Mubes, Apa Kata Pengamat Amir Hamzah

Ormas Betawi “Ngedumel” Putusan Mubes, Apa Kata Pengamat Amir Hamzah

Jakarta, sketsindonews – Mubes Bamus Betawi ke VII telah menghasilkan Haji Lulung Lunggana menjadi Ketua Umum Bamus Betawi periode 2018 – 2023 secara aklamasi, namun persoalan ini beberapa Ormas Betawi tetap “ngedumel” alias “gondok”.

Pasalnya dalam pemilihan 2 agenda Mubes VII dalam tata cara selain pemilihan Ketum Bamus juga masuknya agenda pembahasan Majelis Tinggi Adat yang kini menjadi pro kontra yang di laksanakan di Hotel Twin, Slipi Jakarta Barat. (2/9)

Sumber yang di terima sketsindonews dalam penyusuran ternyata ada penollakan hasil Mubes Betawi VII hasil keputusan Mubes, diantaranya :

pertama, adanya penolakan terkait manipulasi penggelembungan pserta kurang lebih 17 perserta gelap yang dilakukan kubu HL, selain mekanisme pemilihan langsung Ketua Umum melalui proses voting tanpa melalui penunjukan oleh Kolektif Majelis Adat, ujar sumber.

Ini kan merusak tatanan keadatan kaum Betawi dengan sengaja tidak lagi menghargai dan menghormati kelembagaan majelis adat yg terdiri dari sesepuh, pinisepuh, alim ulama dan pendiri Bamus Betawi.

Bamus Betawi adalah organisasi budaya dan adat istiadat bukan sekedar ormas dan LSM. Ada pakem adat yg harus dijaga dan dihormati oleh karena bukan ambisi kekuasaan yang tidak terkontrol dan diluar tradisi keadatan histori Bamus.

Lanjut sumber, marwah Bamus Betawi ada di Maejlis Adat. Majelis ini merupakan lembaga tertinggi di bamus betawi. Lembaga adat inilah yg memilih dan memberhentikan Ketua Umum Bamus Betawi.

Pemilihan dengan cara di luar mekanisme itu bukan hanya tidak sah tetapi telah merusak adat budaya orang betawi. Telah sengaja mengkerdilkan marwah betawi dan su’ul adab, tandasnya.

Sementara Pengamat Perkotaan dan sekaligus pengamat politik Amir Hamzah di Balaikota mengatakan, perseteruan sampai kapanpun Bamus dalam Mubes akan ricuh selama Bamus Betawi tidak menghormati peradaban religius islami, itulah yang harus di ikuti masyarakat betawi.

Selama ini kan organisasi ini mengikuti demokrasi barat (peradaban asing), sehingga tidak menimbulkan konflik dan politisasi kepentingan politik, tukasnya. (3/9)

Selama ini beberapa daerah dalam konteks organisasi kebudayaan itu ada Dewan Majelis Adat dalam menyatukan perbedaan pluralisme kontek budaya.

Untuk tidak konflik maka Bamus Betawi harus menganut sistem demokrasi dengan cara kultur, islami dan kultur adat.

Secara sosiologis dalam satu masyarakat tinggal tempat asalnya mereka akan bersatu dalam satu koloni walaupun secara pribadi tapi karena dibentuk oleh kultur dan tradisi mereka bangun wilayah.

Misal Kata Amir, para masyarakat betawi dulu dalam istiadat dengan tanah luas membangun Masjid besar yang akhirnya bermanfaat karena ini sudah kultur Betawi islami menjadi peradaban.

reporter : nanorame

Check Also

Sky Bridge Tanah Abang Ujian Pejabat Yang Terlibat Dalam Menuntaskan PKL

Jakarta, sketsimdonews – Menata “Sky Bridge’ (JPM) hingga kini masih polemik apalagi menjamin sterlitas kawasaan …

Watch Dragon ball super