Home / Artikel / Menjadi Pemimpin Yang Adil dan Jujur

Menjadi Pemimpin Yang Adil dan Jujur

1 Raja-Raja 21:1-16

Renungan, sketsindonews – Ahab sebagai seorang raja, kehidupanya pasti tidak kekurangan. Ia memiliki kebun yang jauh lebih baik dari kebun anggur Nabot[4].

Namun mengapa Ahab mengingi kebun anggur Nabot? Alasannya sangat sederhana yakni karena kebun tersebut berdekatan dengan rumahnya dan kebun itu mau ditanami sayur-sayuran (ayt.2).

Ahab berpikir alangkah senangnya kalau kebun anggur Nabot menjadi miliknya. Ia tidak perlu jauh-jauh menanam sayur-sayuran.

Disamping itu, untuk melepaskan kepenatan atau kebosanan di istana ia dapat pergi melihat kebun sayur-sayuran yang dekat dengan istananya.

Keinginan Ahab ini saya pikir sangat wajar. Bukankah kita juga menginginkan yang sama? Kalau bisa, saya pikir kita juga sangat mengingini agar tempat kerja tidak jauh dari rumah kita.

Kalau bisa hanya dengan berjalan kaki kita bisa sampai ditempat kerja, sehingga tidak perlu kuatir dengan kemacetan yang selalu kita alami khususnya di kota Jakarta ini. Demikian juga tempat sekolah anak-anak kita, dan sebagainya.

Masalahnya ialah ketika keinginan tersebut tidak memungkinkan terwujud (mentok) apakah kita harus menghalalkan cara-cara yang tidak terpuji? Ahab, ketika keinginannya mentok, dimana Nabot tidak bersedia menjual kebun anggurnya dengan alasan yang sangat jelas, yakni Tuhan melarang penjualan tanah pusaka/warisan nenek monyangnya[5], membuatnya kesal, gusar bahkan menyakiti diri dengan mengurung diri dan tidak mau makan.

Keinginan telah berubah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Akibatnya sangat luar biasa, Nabot orang yang taat terhadap aturan agama, harus mati ketika berhadapan dengan Izebel yang jahat, yang menghalalkan segala cara untuk menyenangkan hati suaminya, raja Ahab, dengan memenuhi keinginannya memiliki kebun anggur Nabot[6].

Nabot rupanya seorang yang berprinsip kuat. Baginya, tanah milik pusaka, sebagaimana diatur oleh firman Tuhan, tidak boleh berpindah tangan, tetapi harus berada dalam keluarga yang sama turun-temurun.

Tanah adalah milik Tuhan dan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas (Im. 25:23).

Kita melihat bahwa pendirian Nabot menunjukkan iman dan ketaatannya kepada Tuhan dan pemahamannya bahwa Tuhan berdaulat atas seluruh dunia. Amen.

(HKBP Ujung Menteng)

Check Also

Calon Kuat Peganti Sandiaga, M Taufik Menguat Sebagai Wagub DKI

Jakarta, sketsindonews – Para Aktifis Jakarta telah menduga pertarungan di DPRD DKI peganti Wagub Sandiaga …

Watch Dragon ball super