Back

Media Terpercaya

Polemik Di Balik Koalisi PKB-PPP di Pilkada Sumenep

Sumenep, sketsindonews – Menyatunya PKB dan PPP dalam Pilkada Sumenep 2020, merupakan sebuah kejutan. Sebab selama Pilkada sebelumnya, dua parpol tersebut belum pernah bersatu. Koalisi yang dibangun bukan perkara mudah, ada sejumlah polemik yang harus ditanggung. 

Polemik tersebut berupa kisruh pencalonan di awal-awal membangun isu. Sebab rekom Calon Wakil Bupati (Cawabup) Muhammad Ali Fikri yang mendampingi Fattah Jasin di Pilkada Sumenep 2020, masih sedikit menyisakan polemik di internal PPP. 

Pemicunya loyalis dan simpatisan Ketua DPC PPP Sumenep Shalahuddin Warits alias Ra Mamak diduga jadi penyebab retaknya internal PPP yang mengakibatkan pasangan Fattah Jasin-Ali Fikri ikut terpojok.

Padahal Ra Mamak sudah jauh-jauh hari diorbit oleh para loyalis dan simpatisannya untuk maju sebagai cabup. 

Cerita ini bermula soal rekom PPP yang tidak mengusung kadernya sendiri sebagai calon bupati (cabup). Alhasil, PPP justru menjatuhkan rekom kepada Fattah Jasin-Ali Fikri. Sebab kader PPP diberi peluang menduduki posisi cawabup. 

Cawabup Ali Fikri sendiri tak lain merupakan politisi tulen dan pengurus PPP Sumenep. 

Loyalis Ra Mamak pun pudar. Alih-alih soal isu perekoman disebut-sebut tidak prosedural dan menyalahi fatsun organisasi. Sebab rekom itu turun dinilai tidak sesuai dengan mekanisme dan tahapan partai yang telah disepakai antara DPP, DPW, dan DPC. 

Untuk tetap setia mendukung Ra Mamak, mereka membuat gebrakan menggalang ribuan kartu tanda penduduk (KTP) warga Sumenep. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa pendukung Ra Mamak tidak bisa diintervensi dan tetap bersikukuh menginginkan Ra Mamak maju sebagai peserta pilkada menduduki cabup. 

Padahal pendaftaran di jalur independen saat itu sudah ditutup oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Akan tetapi loyalis beralasan akan menunggu kejutan pencalonan Ra Mamak hingga ke babak pendaftaran. 

Saat dicecar pertanyaan wartawan soal rekom tersebut, Ra Mamak menyebutkan jika kader PPP Ali Fikri yang mendampingi Fattah Jasin dinilai lebih cocok berada di posisi cabup daripada cawabup. Namun ketika jawaban itu dilempar kepada Ali Fikri, Fikri justru mengikuti perintah partai seputar perekoman. 

PKB dan PPP Sempat Memanas

PKB yang telah mendahului PPP mengetahui rekom Fattah Jasin-Ali Fikri, mendadak mengumumkan dan keceplosan mengajak kader PPP agar bersatu memenangkan jagoannya tersebut. 

Kala itu, PPP yang masih kisruh soal perekoman, ditambah dengan ajakan dukungan PKB disebut-sebut menambah beban masalah komunikasi politik internal PPP. PKB pun mendapat ancaman dan tudingan tidak sehat dari kader PPP. 

PPP Sumenep meminta agar ajakan yang difatwakan pimpinan PKB Sumenep Imam Hasyim tersebut untuk ditarik. Sebab bagi PPP, mengurus dapur partai lain dirasa kurang etis, apalagi sampai menyerukan ajakan. 

Meski begitu, bagi Cabup Fattah Jasin yang paling spesial di Pilkada Sumenep adalah bersatunya PKB dan PPP. Sebab pada pilkada sebelumnya, hubungan kedua partai sulit ada dalam satu koalisi. Sehingga diartikan ahlussunah wal jamaah, warga nahdliyin, kiai dan ulama masih bersatu utuh. 

“Jadi, tidak terpecah, kcuali ada beberapa, tapi tidak banyak. Melihat kondisi itu, kita optimis memenangkan Pilkada Sumenep 2020,” kata dia. 

Menurutnya, ada enam parpol yang memberi dukungan, di antaranya PKB, PPP, Demokrat, Nasdem, Golkar, dan Hanura. Dari itu, apabila melihat jumlah kursi dewan pada enam parpol itu, maka dia mendapatkan dukungan mayoritas dewan. 

“Dari total jumlah 50 kursi, sebanyak 30 kursi telah dikuasai anggota dewan enam parpol itu. Sebanyak 30 kursi itu, terdiri dari PKB 10, PPP 7, Demokrat 7, Nasdem 3, Hanura 2. Sedangkan Golkar belum mendapatkan kursi,” ujar Fattah. 
Bagaimana Nasib Loyalis Ra Mamak 

Meski Ra Mamak gagal maju sebagai cabup di Pilkada Sumenep, ia tidak mengurangi semangat dalam merawat loyalis dan simpatisannya. Sehingga kesodilan itu masih terjaga baik. 

Terbukti, saat mendampingi Fattah Jasin-Ali Fikri mendaftar pilkada pada Sabtu (5/9), Ra Mamak dijemput dan diarak pendukungnya hingga tiba ke KPU. Di sana Ra Mamak menyapa semua hadirin, terutama para punggawa partai. Bahkan, ia tampak memeluk Ali Fikri dan saling bersentuhan pipi. 

Kejadian ini sempat membuat heboh publik, sebab masyarakat mengetahui jika kedua sosok tersebut merupakan saudara dan putra pengasuh pondok pesantren besar. Keduanya punya banyak loyalis dan simpatisan. Baik Ra Mamak maupun Ali Fikri. 

Pimpinan PKB Sumenep Imam Hasyim yang menyaksikan kejadian tersebut tampak haru melihatnya. Imam melafalkan kalimat Allah secara berulang melihat kedua tokoh muda tersebut masih saling menjaga sikap kesatrianya sebagai publik figur. 

“Mari kita kawal Pilkada ini sampai penetapan. Pokoknya kita kawal sampai selesai proses ini. Kalau perlu sampai bulan Desember,” jelas Ra Mamak saat dimintai keterangan wartawan. 

Meski begitu, loyalis Ra Mamak belum bepengaruh dengan sikap dua tokoh muda tersebut. Dalam konteks pilkada, mereka tidak akan sembarang memilih calon pemimpin. Mereka akan melakukan kajian dengan membaca program kandidat calon. 

Sebab bagi mereka, partai boleh menjatuhkan rekom kepada siapa pun, namun kajian soal dukungan tetap harus dilakukan. Sehingga calon yang dipilihnya sesuai dengan keberadaan kultur Sumenep. 

(nru/jkt) 

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.