Home / Artikel / Polemik Pasien Lahir RS Husada, Karena Pasien Naik Kelas VIP

Polemik Pasien Lahir RS Husada, Karena Pasien Naik Kelas VIP

Jakarta, sketsindonews – Kasus yang terjadi di RS. Husada Jakarta beberapa waktu yang lalu terhadap pasien obgyn beemama SN (21) rawat inap ruang Anggrek 0 dengan diambil tindakan SC (Caesar) disebabkan karena pengurusan anak lahir dalam BPJS karena persoalan pertanggungan “top up” karena top up pasien harus bayar selisih, tapi suami pasien hanya minta bayar operasi yang hanya 5 juta rupiah.

Sebelumnya Dirut RS Husada Dirut RS Husada Dr.Erniody Sp.An.KIC.M.Kes kepada sketsindonews.com. mengatakan, kasus ini hanya karena mis komunikasi saja sehingga kami tetap layani sesuai ketentuan aturan BPJS, ujarnya.

“Ini sudah tak masalah, pasien akhirnya memahami prosedural itu karena pihak MOD dan Admission kami memberikan bimbingan fasilitas serta claim pertanggungan yang harus dibayarkan,” tukasnya.

Menyikapi hal tersebut Kepala Cabang Utama BPJS Jakarta Pusat Dr Bona Evita dalam rilisnya kepada sketsindonews.com menjelaskan, terkait keluhan Ny. SN (21th) di RS Husada, seperti yang sudah di jelaskan oleh Direktur Utama RS Husada dalam klarifikasi resminya ke BPJS Kesehatan terkait kronologis pasien SN maka kami sampaikan apa yg di jelaskan oleh pihak RS, pertama terkaitan pasien Ny. SN merupakan pasien rutin di RS Husada, dimana sebelumnya rutin melakukan kunjungan untuk pemeriksaan kehamilannya dengan penjaminan pribadi, tukasnya.(10/7)

Dimana dari pemeriksaan dokter disarankan untuk persalinan SC dengan indikasi panggul sempit, dan pihak keluarga menyampaikan untuk persalinan tersebut akan menggunakan penjaminan JKN.

Tambah Bona kedua, pasien dirawat di RS Husada dari tanggal 29 Juni – 02 Juli 2017 dengan jaminan JKN dan naik kelas ke VIP atas keinginan sendiri karena tidak nyaman dengan fisilitas kelas 1 yg saat itu tersedia (Informed Consent terlampir).

Namun ujar Bona, satu hari sebelum pasien masuk RS pihak keluarga (suami pasien) sudah mengecek fasilitas ruang perawatan di RS Husada, dan sudah ditunjukkan ruangan kelas 1 yang terdiri dari 1 orang per kamar dengan kamar mandi di dalam dengan fasilitas kipas angin, lemari, kursi, AC dan wastafel.

Tetapi pasien kurang nyaman dengan kondisi ini sehingga meminta untuk naik ke VIP, di VIP Kebidanan pasien masih merasa tidak nyaman dengan fasilitasnya, Akhirnya setelah meminta melihat ruangan VIP lain pasien meminta dirawat di VIP yg bukan khusus untuk kebidanan (ruang perawatan umum), ujarnya.

Hal senada dikatakan Dr Adiwiawan Qodar Kepala bidang Penjaminan Manfaat Rujukan Kantor Cabang Utama Jakarta pusat, dalam keterangan menyatakan, terkait kondisi ruang perawatan ini pihak BPJS Jakarta pusat dan Sudinkes Jakarta pusat telah melakukan kunjungan untuk memastikan standar ruang perawatan sesuai dengan regulasi yang berlaku bagi setiap RS.

Terkait bayi Ny. SN memang saat melahirkan belum di daftarkan dalam kandungan sehingga saat lahir belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan yang aktif, sehingga ketika akan didaftar setelah lahir karena ibu merupakan peserta Mandiri kelas 1 maka akan terkena masa tunggu selama 14 hari sehingga untuk biaya perawatan bayi saat ini tidak bisa menggunakan penjaminan JKN dan di tagihkan pihak RS ke pihak keluarga pasien.

Dimana tercatat dalam admission total iur biaya yang di bayar pasien akibat naik ke VIP sebesar Rp.5.236.125,- ( 75% x Tarif CBGs nya) tidak seperti yang diberitakan dan biaya perawatan bayi yg di bayarkan hanya sebesar Rp. 2.872.000,- karena bayi belum menjadi peserta BPJS kesehatan. (berkas-berkas terlampir), tukas Adiwiawan.

Jadi kasus ini sebenarnya hanya karena pemahaman pasien dan sudah tak ada masalah dari polemik pasien yang di tangani pihak RS Husada, tutupnya.

reporter : nanorame

 

 

 

 

Check Also

Sukses Ramadhan 1439 H dan Kantibmas Menjadi Prioritas Citra Bhayangkari Johar Baru

Jakarta, sketsindonews – Terkait kondisi Bangsa terkait isu teror membuat warga tak aman dalam menjalankan …

Watch Dragon ball super