Home / Berita / PT Bank Bukopin dalam Pusaran Kasus Pidana dan Perdata

PT Bank Bukopin dalam Pusaran Kasus Pidana dan Perdata

Jakarta, sketsindonews – Sengkarut kasus hukum di PT Bank Bukopin Tbk bagaikan benang kusut. Mulai dari dugaan pemberian “hadiah” kepada mantan pejabat Otoritas Jasa Keuangan Terdakwa Dadang Ibnu Windartoko, hingga digugat miliaran oleh nasabahnya.

Ketiga kasus itu kini tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Untuk perkara pidana Dadang Ibnu Windartoko sendiri, persidangannya pekan depan dijadwalkan pembacaan requisitor atawa tuntutan pidana dari penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi Jakarta.

Dalam persidangan tersingkap pengakuan dari Terdakwa Dadang, dihadapan Ketua Majelis Hakim Rosmina SH MH. Ihwal pemberian gratifikasi kepada dirinya melalui petinggi Bank Bukopin di Surabaya.

Berpangkal dia bersama ketiga rekannya mendapatkan tugas dari Kantor OJK di Jakarta, untuk melakukan audit investigasi di Kantor pusat PT Bank Bukopin Tbk Surabaya medio Maret 2019.

Saat di Kota Surabaya, pria bergelar sarjana ekonomi itu melakukan pertemuan bersama almarhum Lalu Azhari, saksi Agniy Irsyad dan Hari Wurianto selaku Direktur Kepatuhan PT Bank Bukopin Tbk.

Isi pertemuan “gelap” yang berlangsung di Kota Pahlawan tersebut, petinggi di PT Bank Bukopin Tbk meminta agar PT Artha Lima tidak dimasukan sebagai kreditur bermasalah dalam laporan hasil investigasi OJK. Namun bak pepatah: tidak ada makan siang yang gratis.

Dadang pun merespons dengan menyorongkan nama perusahaan PT Pilar Mars Pratama atau PT PMP kepada saksi Mikrowa Kirana. Tujuannya sudah tentu mengenai surat pengajuan pinjaman PT PMP sebesar Rp10 miliar lekas cair.

Namun dalam ruang persidangan terkuak fakta bahwa sesungguhnya PT PMP telah mati suri alias sudah tidak beroperasi lagi.

Namun entah mengapa PT Bank Bukopin tetap menyetujui permohonan Dadang sebesar Rp7,45 miliar. Bahkan Ketua Majelis Hakim menyayangkan sikap PT Bank Bukopin Tbk yang tidak menerapkan standar kehati-hatian. “Ini uang kami pak. Kami mewakiki rakyat banyak. Kalau kalian berbuat seperti itu kacau kita,” tutur Rosmina kala itu.

PT PMP sendiri bergerak dibidang advertising. Tetapi dalam dokumen tercantum usaha pertambangan nikel di Pulau Sulawesi.

Lebih mirisnya lagi dugaan persengkongkolan jahat tersebut juga terencana dan diketahui pimpinan Bank Bukopin Cabang Jakarta Selatan, Agniy Irsyad.

“Agniy Kepala cabang Bank Bukopin Saharjo mengetahui sertifikat saya ada di BPR Bu Hakim,” ungkap kesaksian Dirut PT PMP Hilarius Ferry Anorta pada Rabu (3/2/21) silam.

Bahkan masih kata Ferry, ia bersama Terdakwa Dadang dan Agniy Irsyad sempat melakukan pertemuan di Kota Bogor. Guna membahas hutangnya di Bank Bukopin. “Kami sempat melakukan pertemuan di Kota Bogor untuk membahas bunga hutang sebesar Rp600 juta,” aku Ferry.

Bank Bukopin Digugat

Sementara itu PT Bank Bukopin Tbk kembali menuai persoalan. Perusahaan itu digugat nasabah senilai ratusan miliar rupiah. Manajemen mengatakan, gugatan hukum diajukan oleh Ade Dahlan yang merupakan debitur kredit prapensiunan dari Bank Bukopin KCP Gunung Sahari.

Sekretaris KB Bukopin, Meliawati, mengatakan bahwa Ade menerima fasilitas kredit plafond sebesar Rp204.400.000 dengan jangka waktu 172 bulan. Proses hingga pencairan kredit tersebut diklaim KB Bukopin telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, dalam gugatan dengan Nomor Perkara 98/Pdt.G/2021/PN Jkt.Pst tanggal 11 Februari 2021, Ade mengaku telah mengalami kerugian dan menuntut ganti rugi sebesar Rp200.186.000.000. 

“Perseroan tidak mengetahui perhitungan dasar penentuan dari nilai ganti kerugian yang diajukan oleh penggugat karena hingga saat ini belum menerima relaas panggilan dan gugatan atas perkara dimaksud,” tegasnya, Rabu, (17/2/21)

Ia menambahkan, KB Bukopin telah berupaya melakukan pertemuan dengan debitur untuk membahas permasalahan tersebut. Selain itu, investigasi lebih lanjut atas pengaduan dari debitur juga telah dilakukan oleh perusahaan. 

Sebagai pengingat, belum lama ini KB juga digugat oleh nasabahnya bernama Lili Karminah. Debitur dari Bank Bukopin KCP Gunung Sahari itu menggugat perusahaan senilai Rp200,25 miliar dan mendaftarkan gugatan tersebut dengan Nomor Perkara 708/Pdt.G/2020/PN Jkt.Pst. 

(Sofyan Hadi)

Check Also

Dit Reskrimsus Polda Kepri Amankan Seorang Pelaku Penyebar Berita HOAX Dan SARA

Batam, sketsindonews – Tim Opsnal Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Kepri berhasil mengamankan seorang pelaku …

Watch Dragon ball super