Home / Artikel / RG 98 : SBY Tidak Siap Kalah, Karena Syahwat Politik Jadi Lebay

RG 98 : SBY Tidak Siap Kalah, Karena Syahwat Politik Jadi Lebay

Jakarta, sketsindonews – Karena syahwat politik pernyataan Presiden Ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang mensinyalir ketidaknetralan BIN, TNI dan Polri dalam tahun politik dan rela diciduk bila pernyataannya tersebut membuat tidak nyaman, dinilai berlebihan.

Hal ini di nyatakan Ketua Umum Rumah Gerakan 98, Bernard AM Haloho.

“Pernyataan SBY Lebay. Kalau memang SBY punya bukti-bukti ketidaknetralan aparat BIN, TNI dan Polri ya dilaporkan ke lembaga yang berwenang, dan jangan malah membuat polemik lewat konferensi pers semacam itu.

Kesannya dilihat masyarakat SBY jadi tidak siap kalah dalam menghadapi pilkada serentak Juni 2018 ini* ” ujar Bernard.

Bernard menilai SBY mulai memainkan cara-cara politik lama yang memang biasa dimainkan olehnya, dan itu sudah terbaca oleh publik. “Jurus lama SBY dalam berpolitik dipakai kembal model lagu lama melankolis.

SBY menempatkan diri sebagai korban yang paling terzalimi untuk meraup simpati publik. Pada tahun 2004 mungkin cara-cara seperti itu berhasil, tapi berbeda kali ini. Masyarakat sudah lebih cerdas dalam berpolitik sehingga tidak akan terbuai dengan hal tersebut.

Selama 4 tahun terakhir masyarkat Indonesia merasakan sekali kinerja Pemerintahan Jokowi yang sedikit bicara namun banyak hasil kerja yang dirasakan masyarakat” kerja, kerja dan kerja, tegas Bernard.

Bahasa siap diciduk menurut Bernard seperti gledek di siang bolong, tidak ada sesuatu yang genting dibuat seolah-olah mencekam.dan dikhawatirkan SBY mendapat informasi yang tidak akurat.

Sikap SBY sangat reaktif mengandung kesan ingin menjadi pahlawan kesiangan, sehingga dirinya berharap pemerintah Jokowi khususnya pihak aparat tidak masuk kedalam perangkap skenario tersebut.

“Kata-kata siap diciduk, menunjukan Ia sebagai pahlawan kesiangan, tidak perlu digubris oleh Presiden Jokowi maupun aparat keamanan, jangan terjebak”.

Sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia, SBY seharusnya tidak berkata seperti itu, karena akan merendahkan dirinya” tutup Bernard.

Sebelumnya Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengungkapkan dugaan ketidaknetralan aparatur negara, yaitu Badan Intelijen Negara (BIN), TNI dan Polri, dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia.

SBY mensinyalir adanya aparat TNI, Polri dan BIN yang diduga ikut berpolitik dan ingin menggagalkan calon-calon yang diusung Demokrat.

“Kenapa ini saya sampaikan, agar BIN, TNI, Polri netral. Ini nyata sekali kejadiannya. Kalau pernyataan saya ini membuat intelijen dan kepolisian tidak nyaman, dan mau menciduk saya, silakan,” sebut SBY.

reporter : nanorame

SBY punya bukti-bukti ketidaknetralan aparat BIN, TNI dan Polri ya dilaporkan ke lembaga yang berwenang, dan jangan malah membuat polemik lewat konferensi pers semacam itu.

Kesannya dilihat masyarakat SBY jadi tidak siap kalah dalam menghadapi pilkada serentak Juni 2018 ini* ” ujar Bernard. (25/6)

“Bernard menilai SBY mulai memainkan cara-cara politik lama yang memang biasa dimainkan olehnya, dan itu sudah terbaca oleh publik. “Jurus lama SBY dalam berpolitik dipakai kembal model lagu lama melankolis”

SBY menempatkan diri sebagai korban yang paling terzalimi untuk meraup simpati publik. Pada tahun 2004 mungkin cara-cara seperti itu berhasil, tapi berbeda kali ini. Masyarakat sudah lebih cerdas dalam berpolitik sehingga tidak akan terbuai dengan hal tersebut.

Selama 4 tahun terakhir masyarkat Indonesia merasakan sekali kinerja Pemerintahan Jokowi yang sedikit bicara namun banyak hasil kerja yang dirasakan masyarakat” kerja, kerja dan kerja, tandas Bernard.

Bahasa siap diciduk menurut Bernard seperti gledek di siang bolong, tidak ada sesuatu yang genting dibuat seolah-olah mencekam.dan dikhawatirkan SBY mendapat informasi yang tidak akurat.

Sikap SBY sangat reaktif mengandung kesan ingin menjadi pahlawan kesiangan, sehingga dirinya berharap pemerintah Jokowi khususnya pihak aparat tidak masuk kedalam perangkap skenario tersebut.

“Kata-kata siap diciduk, menunjukan Ia sebagai pahlawan kesiangan, tidak perlu digubris oleh Presiden Jokowi maupun aparat keamanan, jangan terjebak”.

Sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia, SBY seharusnya tidak berkata seperti itu, karena akan merendahkan dirinya” tutur Bernard.

Sebelumnya Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengungkapkan dugaan ketidaknetralan aparatur negara, yaitu Badan Intelijen Negara (BIN), TNI dan Polri, dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia.

SBY mensinyalir adanya aparat TNI, Polri dan BIN yang diduga ikut berpolitik dan ingin menggagalkan calon-calon yang diusung Demokrat.

“Kenapa ini saya sampaikan, agar BIN, TNI, Polri netral. Ini nyata sekali kejadiannya. Kalau pernyataan saya ini membuat intelijen dan kepolisian tidak nyaman, dan mau menciduk saya, silakan,” sebut SBY.

reporter : nanorame

Check Also

Anies Baswedan Akan Tinjau Kampung Warna Warni, Sekaligus Penandatangan Kerjasama Pemrov DKI Dengan Dulux Paint

Jakarta, sketsindonews – Persiapan kampung dalam ramgka sukses Asian Games terus di lakukan 2 Kelurahan …

Watch Dragon ball super