Home / Profile / Saksi: 2003 Hingga 2010 PGSD STT Setia Tidak Ada Izin
Suasana sidang ijazah palsu di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (07/5). (Dok. sketsindonews.com)

Saksi: 2003 Hingga 2010 PGSD STT Setia Tidak Ada Izin

Jakarta, sketsindonews – Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi atas kasus ijazah palsu yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (STT Setia) kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Rabu (09/5).

Pihak terdakwa menghadirkan 6 orang saksi meringankan yakni Lenora, Sahirin, Mesron, Semi, Yosafah, dan Andike, yang keseluruhannya adalah alumni STT Setia, serta 1 saksi ahli dari Dikti.

Dalam kesaksiannya, mereka mengatakan bahwa program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang saat ini dipermasalahkan adalah tempelan atau penambahan yang setelah menyelesaikah hanya mendapatkan sertifikat.

Hal tersebut diutarakan oleh Lenora, yang memastikan bahwa prodi PGSD itu hanya tambahan. “Saya mendaftar di STT Setia, jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK), kemudian PGSD itu hanya tambahan,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa PGSD tersebut tidak berdiri sendiri, namun merupakan bagian dari STT Setia, karena hanya program tambahan.

“Saya menerima pelajaran-pelajaran dari PGSD itu sampe selesai, setelah selesai di berikan sertifikat sebagai bukti saya sudah menyelesaikan program tersebut,” tuturnya, dan hal serupa juga diutarakan oleh ke lima saksi lain.

Dengan sertifikat, Lenora mengatakan bahwa dirinya telah diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Tidak ada masalah sedikitpun dengan sertifikat PGSD,” katanya.

Kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lenora memaparkan bahwa dirinya masuk di STT Setia sejak tahun 1998 hingga 2003.

Hal tersebut menjadi pertanyaan JPU, Asnawi yang mempertanyakan bagaimana proses dia mengikuti prodi PGSD, mengingat prodi tersebut baru ada sejak 2003.

Lalu, Lenora menjelaskan bahwa dia menyelesaikan PGSD dalam tempo 6 bulan dengan 90 SKS dan mendapatkan sertifikat.

Saat kembali JPU mempertanyakan terkait penggunaan sertifikat untuk masuk PNS, Lenora mengatakan bahwa dia disetarakan dengan SMA dengan golongan 2B.

“Tadi kembali diralat setara D2,” jelas Asnawi saat ditemui usai persidangan.

Terkait beberapa kejanggalan yang dirasakan dalam persidangan seperti menyelesaikan prodi selama 6 bulan menurut Asnawi tidak apa. “Itu hak mereka, tapi akan menjadi catatan,” singkatnya.

Sementara saat mendengarkan keterangan saksi ahli dari Dikti, Polaris diketahui bahwa hingga tahun 2010 tidak ada izin untuk PGSD.

Jutru keberadaan PGSD di STT Setia diketahui dari masyarakat dan Kopertis. “Ada laporan masyarakat dan juga kopertis bahwa PGSD STT Setia ini belum ada izin, dari 2003 hingga 2010 stt setia tidak mendaftrakan,” terangnya.

Namun terkait upaya dari pihak terdakwa mencoba mendaftarkan atau tidak, Polaris mengatakan tidak mengetahui. “Kalau antara 2003 hingga 2010 saya harus katakan tidak tau,” katanya.

(Eky)

Check Also

Jelang Tuntutan Korban Minta Terdakwa Ijazah Palsu ‘Ditahan’

Jakarta, sketsindonews – Memasuki babak akhir kasus ijazah palsu di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN …

Watch Dragon ball super