Home / Artikel / Sambutlah Hambamu Dengan Sukacita
Foto ilustrasi. (Dok. Morelord)

Sambutlah Hambamu Dengan Sukacita

Kisah Para Rasul 18:1-8

Renungan, sketsindonews – Di Korintus ini, Paulus bertemu dengan Akwila (seorang Yahudi) dan istrinya Priskila (mungkin dari bangsa Roma). Tidak di ketahui tentang pertobatan dari mereka.

Dalam ayat 2 hanya disebutkan mereka berasal dari Pontus, dan baru datang dari Italia karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma.

Paulus, di samping seorang penginjil, juga mempunyai pekerjaan sampingan membuat kemah/tenda. Hal ini mempertemukannya dengan keluarga Akwila yang juga mempunyai pekerjaan yang sama.

Walaupun sama-sama pembuat kemah/tenda, tidak membuat satu dengan yang lain merasa sebagai saingan atau tersaingi sehingga membuat jarak atau menggunakan teori evolusi kompetitif, tetapi sebaliknya menggunakan pemahaman koevolisi.

Paulus tinggal di rumah keluarga ini, mereka bersahabat, mereka bekerja sama. Dan mereka semakin berkembang baik usaha maupun kerohanian mereka.

Dalam ayat 4,5 disebutkan bahwa tugas Paulus memberitakan Injil dapat terus dilakukan.

Pekerjaan tidak boleh menghambat panggilan utama orang percaya yakni memberitakan Injil, baik melalui pekerkataan maupun perbuatan. Hal inilah yang dinampakkan Paulus.

Dan bagaimana dengan Akwila dan Priskila? Kehadiran Paulus di rumah mereka, serta kerjasama yang dilakukan selama ini juga tidak hanya menambah pengetahuan atau pemahaman mereka tentang iman kristen tetapi juga menumbuhkan semangat memberitaka Injil kepada mereka.

Usaha Paulus dan Akwila sebagai tukang kemah, juga menerangkan pada kita bahwa bekerja untuk Tuhan tidak harus mendapat upah dari Gereja.

Ada banyak orang yang sudah mengharapkan biaya transport dalam setiap pelayanan.

Sebagai Majelis, sebagai organis, song-leader, guru koor, semua sudah mendapat uang transport, tidak ada lagi yang memberi diri untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, tanpa balas jasa.

Tapi Paulus dalam pelayanannya, dia mencukupkan diri dengan berkat Tuhan melalui penjualan kemahnya. Dia bekerja bukan untuk mencari uang, tapi murni sebagai bentuk pelayanan dan kecintaan akan kerja.

Dengan motivasi memuliakan Tuhan dan menyaksikan Yesus sebagai Mesias, maka dia dapat mencukupkan diri, karena dia tahu, sebagaimana dia lahir tidak membawa apa-apa, maka jika dia mati pun tidak akan membawa apapun. (1 Tim 6, 6-8).

Ketika motivasi kerja kita adalah uang, maka kita bekerja tidak maksimal.

Kita hanya memenuhi kewajiban tok! Kalaupun kita bekerja maksimal itu harus dibayar seusia dengan yang kita kerjakan. Bila motvasi kita untuk memuliakan Tuhan, maka kita memenuhi panggilan kita dengan bekerja secara bertanggung jawab, dengan tujuan menyumbangkan yang terbaik di tengah kehidupan ini.

Buah atau hasil kerja yang baik, akan menunjukkan Kristus ke tengah dunia ini. Melalui perikope ini, Paulus menekankan agar kita hanya percaya kepada dan sakiskanlah perbuatan-perbuatanNya yang ajaib.

Andalkanlah Dia, apapun yang kau inginkan akan disediakanNya, asal engkau lebih dahulu mencari kerajaan dan kebenaranNya. (Mat 6,33). Amin.

(HKBP Ujung Menteng)

Check Also

Tukang Sapu Tuprok Jadi Anggota Dewan Kota, Siapa Dia…

Jakarta, sketsindonews – Garis hidup serta bagaimana mendapatkan pengakuan publik bukan perkara mudah, apalagi terkait …

Watch Dragon ball super