Back

Media Terpercaya

Sidang Dugaan Korupsi PT Jiwasrya, Kuasa Hukum Menilai Hal yang Lumrah dalam Pasar Modal

Jakarta, sketsindonews – Munculnya transaksi yang dilakukan nasabah PT Jiwasraya maupun reksadana konvesional dengan para broker merupakan hal yang lumrah dalam pasar modal.

“Instruksi mereka tetap meminta agar menunggu instruksi dari nasabah jiwasraya dan reksadana-reksadana konvensional. Jadi apa salahnya Joko memberikan informasi. Dan instruksi nasabah itu merupakan hal yang lazim dilalukan di pasar modal,” ungkap Andreas Napitupulu kuasa hukum Heru Hidayat dan Joko Hartono Tirto, seusai persidangan dugaan Tindak Pidana Korupsi PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (22/7/20).malam.

Menurut Andreas, dari informasi yang dijelaskan kedua saksi yakni Meta dan Rosita. Menyebutkan bahwa tidak ada perintah atau instruksi yang berasal dari Terdakwa Joko Hartono Tirto Melainkan perintah tersebut berasal dari para nasabah Jiwasraya sendiri.

“Instruksi mereka (Terdakwa Joko Hartono Tirto dan Heru Hidayat, red), tetap meminta agar menunggu instruksi dari nasabah jiwasraya dan reksadana-reksadana konvensional. Jadi apa salahnya Joko memberikan informasi. Dan instruksi nasabah itu merupakan hal yang lazim dilalukan di pasar modal,” tegas dia.

Ia melanjutkan, semua transaksi yang telah dilakukan para nasabah dan broker, menggunakan dana sebenarnya. “Semua transaksi itu menggunakan uang yang nyata, bukan uang bohongan,” seraya mengatakan, “Baik nasabah dari jiwasaraya maupun nasabah reksadana-reksadana konvesional yang menjadi nasabah mereka,” tukasnya.

Mengenai hal yang disampaikan dalam persidangan maupun keterangan yang diberikan Joko kepada Meta dan Rosita itu kata Andreas hanya bersifat informatif.

“Instruksi mereka tetap meminta agar menunggu instruksi dari nasabah jiwasraya dan reksadana-reksadana konvensional. Jadi apa salahnya Joko memberikan informasi,” ungkapnya sambil mengatakan instruksi nasabah itu merupakan hal yang lazim dilalukan di pasar modal, tandasnya.

Sementara itu, penasehat hukum Benny Tjokrosaputro, Dr Bob Hasan SH MH mengatakan dari keterangan saksi-saksi yaitu para broker, khususnya dari Trimegah yang menjadi poros kegiatan antara jiwasraya dengan produk-produk saham maupun reksadana. Terlihat bahws Benny Tjokrosaputro ada kaitanya dengan MYRX maupun yang lainnya, tidak ada masalah, tidak ada penukaran dari saham menjadi produk reksadana di Jiwasraya. 

“Dari situkan udah keliatan bahwa klien kami tidak pernah mengendalikan  saham, mereka semua berjalan sesuai prosedur. Beli market pasar nego,” ujarnya.

Lebih lanjut Bob menyatakan soal ada negosiasi antara Maudi dengan AJS dalam hal ini Agustin, yang bekerja di Trimegah itu sendiri sebagai broker, penjual ataupun broker dalam pembalian itu memang sudah sesuai mekanisme pasar. 

“Mekanisme pasar itu terdiri dari dua hal,  pertama adalah pembeli. Kedua adalah penjual, selanjutnya terjadi negosiasi itukan kewenangan mereka,” ucap Bob seraya mengatakan kenapa jadi klien kami ini yang dihubung-hubungkan.

Untuk diketahui dalam persidangan kali ini, yang diperiksa adalah para saksi dari perusahaan sekuritas, terkait transaksi saham yang diinvestasikan Jiwasraya.

Dari lima orang saksi, empat di antaranya menghadiri persidangan siang ini, yakni, Maudy Mangkei, Asisten Piter Rasiman, Direktur PT Himalaya Energy. Selanjutnya, Meitawati Edianingsih, Sales Trimegah Sekuritas, Glenn Riyanto, Divisi Bisnis Development Trimegah Sekuritas dan Rosita, agen Mirae Asset Sekuritas, yang sebelumnya bernama Daewoo Securities Indonesia.

Sementara itu, tiga terdakwa menghadiri persidangan antara lain Benny Tjokrosaputro, Direktur Utama Hanson International Tbk (MYRX), Heru Hidayat, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk/TRAM dan Joko Hartono Tirto, Direktur PT Maxima Integra.

(Sofyan Hadi)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.