Back

Media Terpercaya

Sidang Dugaan Pemerasan, Terdakwa Mengaku Mendapat Rp 100 Juta Sebagai Mediator

Jakarta, sketsindonews – Sidang lanjutan perkara dugaan pemerasan yang dilakukan oleh dua jaksa yaitu Yanuar Rheza Mohammad dan Firsto Yan Presanto dan Rheza dr Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (22/7/20) siang.

Persidangan itu dipandu oleh Majelis Hakim pimpinan Fahzal Hendri. Dengan agenda mendengarkan informasi saksi mahkota Fristo Yan Presanto dengan terdakwa Cecep Hidayat.

Dihadapan majelis hakim Firsto kerap membantah keterlibatannya dalam proses pemanggilan saksi M Yusuf selaku General Manajer PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (PT DPKB).

Ia mengaku pada Jumat malam 22 November 2019 tidak memanggil M Yusuf untuk datang ke Kantor Kejati Jakarta. “Saya tidak memanggil saksi M Yusuf yang mulia” kata Firsto.

Padahal menurut pengakuan terdakwa Cecep Hidayat dihadapan majelis hakim, dirinya dalam kasus dugaan pemerasan ini adalah sebagai “mediator” antara Jaksa Rheza dan Firsto. 

“Semua permintaan yang saya terima baik telepon maupun via pesan singkat dari mereka (Jaksa Rheza dan Firsto) kepada M Yusuf saya selalu sampaikan. Saya ada di tengah-tengah yang mulia,” ujar Cecep.

Cecep pun mengakui dari hasil bekerja sebagai mediator, dirinya mendapatkan keuntungan sebesar Rp100 juta dari total pemberian Rp1 miliar dari M Yusuf.

Tak hanya itu saja, dokumen berita acara pemeriksaan dan tiga buku tabungan milik M Yusuf juga diberikan oleh Firsto kepada Cecep.

Seusai persidangan kuasa hukum Terdakwa Cecep Hidayat mengungkapkan bahwa Firsto yang memberikan nomor telepon M Yusuf kepada Cecep. “Firsto yang memberikan nomor telepon M Yusuf kepada klien saya,,” katanya.

(Sofyan Hadi)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.