Home / Artikel / Sosok Alia Gadis Muda Kebon Kosong, Speaker Asean Week 2017

Sosok Alia Gadis Muda Kebon Kosong, Speaker Asean Week 2017

Jakarta, sketsindonews – Sosok Alia gadis murah senyum dari penampilannnya terlihat begitu ekpresif dari pribadinya. Hal ini terlihat saat dirinya melakukan aktifitas dalam kegiatan sosial maupun pekerjaan free lances dengan segudang prestasi serta profesi di gelutinya untuk dikembangkan dalam menjalankan bakat, profesi serta hobinya.

Alia Wiendyaningrum Silooy itulah sosok gadis mancung yang lahir
3 Oktober 1993 dara cantik tinggal  di Kebon Kosong sangat familiar.  Telah banyak meraih prestasi dan syarat pengalaman. Saat sketsindonews. com mendekatinya tak sungkan senyum lesung pipitnnya terlihat jelas.

Hai,  Alia, hai juga boleh foto Alia dan tanya tanya gak nih, seloroh sketsindonews. com

Mau wawancara apa mas, ujarnya. Boleh tapi dari sisi mana wawancaranya ketika dirinya mendampingi ibunda tercintanya yang juga seorang aktivis sosial lingkungan di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. (18/11).

alia. sosok. doc

Alia (24) mengaku kegiatan dalam aktifitas banyak mas selain saya juga hobbi lain seperti membaca, menyanyi, traveling dan olahraga, ujarnya.

Mengenai travelling ini sangat kami sukai karena berkaitan dengan profesi saya juga sih sebagai Duta Muda Asean wilayah Provinsi DKI Jakarta yang berhasil di sandangnya 2017 dari Kementerian Luar Negeri RI sekaligus meraih Duta Muda Asean Week Speaker 2017, dengan label Duta Muda Asean DKI Jakarta tentunya tak terlepas dalam memberikan edukasi informasi kepada masyarakat dalam negeri dan luar negeri.

Alia sangat menyukai profesi sebagai Publik Speaker Relation dan Research Marketing, kini bertempat tinggal di Komplek Angkasa Pura Kelurahan Kebon Kosong Kemayoran, Jakarta Pusat.

Terlihat sosok dara cantik Alia punya visioner bahkan merupakan caranya dalam mengegeluti profesi dari ilmu yang didapatnya sejak bangku kuliah di Universitas Brawijaya Founder of English Class Community (ECC) Universitas Brawijaya tahun 2015.

ia pun mengutarakan bahwa ia juga bisa menjadi transletter Master of Ceremony (Translator MC – English) for International Conference on Socio Political Entrepreneurship dalam setiap event job sambilannya dalam membantu kegiatan bisnis serta setiap kegiatan magangnya selama ini.

“Saya aktif dalam menunjang karir mas, selain nantinya Aku tak muluk mempunyai obsesi membantu dari ilmu yang didapatnya untuk berbagi dengan orang lain.”

Ini semua tentunya karena didikan orang tua saya yang hingga kini masih menjadi penggerak masyarakat dalam kegiatan sosial dan lingkungan hidup di wilayah Kebon Kosong.

Apa yang saya raih hingga sekarang ini karena di dapat dari disiplin serta bagaimana kita mengejar cita – cita menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya pada masyarakat tapi buat Bangsa dan Negara Indonesia, tambah Alia.

Saya pun pernah terbaik menjadi finalis presenter Goes To Campus SCTV Top Fourty tahun 2015 di Jawa Timur, hingga saat ini menjadi pengalaman tersendiri untuk bekal nantinya bekerja lebih serius apa yang sudah di raihnya selama ini, tutup Alia.

 

Autobiografie Alia

Hobi: Membaca, Menyanyi, Traveling, Olahraga

Pekerjaan: Translator, Researcher, Singer, MC, Public Speaker, Marketing Communication MoLagie

-Prestasi yang diraihnya :

Duta Muda ASEAN Indonesia 2017 (Provinsi DKI Jakarta) – Kementerian Luar Negeri RI

Speakers on ASEAN WEEK 2017, Fakultas Sastra, Universitas Kristen Indonesia, 2017

Master of Ceremony (Translator MC – English) for International Conference on Socio Political Entrepreneurship, Universitas Brawijaya, 2017

Miss Communication Batch 2012, Jurusan Ilmu Komunikasi UB, 2016

Founder of English Class Community (ECC) Universitas Brawijaya, 2015

Founder & Director of AWS Freelance Translator, 2015
Top 15 Semifinalist News Presenter SCTV Goes To Campus Jawa Timur 2015

Top 5 Duta FISIP Universitas Brawijaya 2014
DKI Jakarta Delegates for JENESYS Program (Japan New East Asia Network for Student and Youths), 2010

reporter : nanorame

Check Also

Ajarkan Kami Mr President Jokowi Tentang Apa Itu Kebajikan …

Tana Toraja, sketsindonews – Dalam tulisan ini bukan kampaye, namun untuk bagaimana kita belajar apa itu kebajikan untuk para sahabat, tukas penulis.Tana Toraja, Medio Sept’ 2018
R. D. Yans Sulo Paganna’.
(Penulis: Toraya Tondokku Nusantara Negeriku)

Anda jangan memberiku predikat “kampanye” guys, ketika aku menyorot nama seorang Jokowidodo.

Karena mamang aku sedang tidak untuk kampanye untuk dirinya, Tetapi aku hanya ingin belajar daripadanya bagaimana hidup bersama.

Bukan pula saya belajar membangun puluhan ribu kilo meter jalan raya dari Sabang sampai Merauke. Bukan pula belajar membangun bandara dan sumber energy.

Bukan belajar bagaimana menjadikan bangsa ini pemilik tambang emas di Papua yang berpuluh-puluh tahun dibungkus oleh bangsa asing dengan nama tambang “tembaga”.

Bukan belajar bagaimana menyamakan harga bensin yang sama dari Sabang sampai Merauke.

Bukan pula belajar bagaimana membangun rel kereta api dan atau membangun bendungan dan pasar tradisional yang membantu rakyat negeri ini merai kesejahteraannya.

Aku hanya ingin berguru kebajikan daripadanya. Iya, berguru kebajikan dan kebijaksanaan dari seorang manusia langka yang terlahir di negeri ini.

Aku ingin belajar melihat manusia sebagai mahluk yang luhur dan mulia.
Aku ingin belajar memberikan hak kepada yang memiliki hak dan belajar menuntut kewajiban bagi mereka yang memiliki kewajiban.

Aku ingin belajar bagaimana keluar dari zona aman, dengan menjadikan diri sebagai rahmat bagi sesama.
Belajar menahan godaan nafsu kekayaan di tengah zaman keserakahan.

Belajar ugahari di tengah negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Serta aku ingin belajar bagaimana menjadi manusia yang beriman, jujur, bersih, rendah hati, dan kesatria, sebagaimana yang diajarkan oleh leluhur kami manusia Toraja sendiri:

“Lobo’ko ammu kasalle, manarangko ammu kinaya, bidako ammu barani. Langngan-langngan oi sangbara’mu membulean pole’ oko. Ammu tang disirantean, tenko to pasareongan”.

Jokowi, sebuah nama yang lagi menjadi perbincangan seantero dunia. Nama yang seolah-olah mengakar dalam kedamaian di hati rakyat negeri ini.

Nama yang tidak angker dan sekeramat nama-nama para penguasa yang lain di muka bumi, namun karya-karyanya mewarnai seluruh sudut nusantara. Namun aku tidak ingin berguru soal nama, pun pula tidak soal karya-karyanya.

Tetapi aku ingin berguru daripadanya soal kebajikan dan kebijaksanaannya.
Ia dicacimaki namun tidak merasa sakit.

Dihina namun tidak merasa hina dan marah. Difitnah namun tetap tersenyum.
Direndahkan namun semakin bersinar bagaikan bintang kejora.
Di”kafir”kan namun semakin beriman.
Dibenci namun semakin dicintai.

Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dalam hati aku bertanya, mahaguru seperti apakah yang telah mendidiknya bisa “hadir” seolah-olah seorang harapan bagi kemajuan bangsa ini.

Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dan sekali lagi dalam hati bertanya, rahim seperti apakah yang telah mengandungnya sehingga dia bisa #bagaikan manusia ajaib, yang sanggup membalas cacian dengan pujian, membalas hinaan dengan doa sucinya, membalas fitnahan dengan canda tawanya.

Sungguh, aku sungguh-sungguh kagum kepada pribadinya yang agung dalam kesederhanaan. Dia yang tidak larut dalam pujian ketika disanjung, dan tetap tegar penuh semangat bekerja ketika direndahkan.

Kagum kepadanya bagaimana ia memilah dan memilih para menterinya yang sungguh-sungguh memiliki hati untuk bangsa ini, dan tidak segan-segan memecat para pecundang bangsanya saat mulai menunjukkan tanda-tanda tidak becus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Aku lalu berpikir, mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang sungguh selesai dengan persoalan dirinya, yang tidak lagi berfikir tentang dirinya ketika orang justru ramai-ramai mendiskreditkannya?

Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang tidak sibuk dengan pujian dan hinaan karena di benaknya hanya ada pengabdian diri yang total?

Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia bijak nan arif yang tidak pusing dengan segala label negatif yang dituduhkan atasnya?

Aku pun lalu berfikir, apakah orang-orang yang menghina dan membenci orang bersih yang setulus dan sesuci dia ini tidak akan terlempar ke tubir lembah kekwalatan dan kedurhakaan seperti “keyakinan kuno” agama-agama suku di negeri ini sebelum agama-agama dari luar sana hadir di nusantara?

“Tuan presiden” (izinkan aku menyapa bapak dengan sapaan “tuan presiden”), tolong ajarkan kepadaku rahasia di balik “keunikan” pribadimu yang penuh misteri itu.

Ajarkanlah kepadaku rahasia tersenyum penuh keramahan ketika difitnah dan dihina. Ajarkanlah rahasia mendoakan ketika dicacimaki.

Ajarkanlah kepadaku rahasia mengampuni ketika disakiti.
Ajarkanlah kepadaku rahasia mencintai ketika dibenci.
Ajarkanlah kepadaku rahasia memuji ketika dicela.

Ajarkanlah kepadaku rahasia memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Ajarkanlah kepadaku mencipta hati dan budi yang suci walau diteriaki peka-i.
Ajarkanlah kepadaku bagaimana berdoa siang dan malam untuk bangsa ini dan bagi mereka yang hendak menjadikannya negeri sapi perahan.

Ajarkanlah kepadaku untuk mengambil rupa rakyat biasa ketika jabatan penting berada di pundakku. Karena engkau yang walaupun orang nomor satu di negeri ini rela mengambil rupa dan hidup seperti kami rakyatmu.

Duduk, makan, dan tidur di bawah tenda darurat. Engkau sungguh-sungguh berhati mulia dalam kesahajaanmu. Engkau yang yang tidak pernah memikirkan kejahatan dan kehancuran bangsa ini sedetikpun dalam hidupmu.

Akupun ingin memiliki cinta yang membara untuk bangsa ini seperti cinta yang tuan presiden berikan untuk negeri ini.

Akupun ingin bekerja untuk anak-anak bangsa dalam tugasku yang penuh cinta kasih seperti tuan presiden bekerja dalam tugasmu yang penuh cinta kasih.

Akupun ingin tersenyum tanpa dendam kepada orang-orang yang mencacimaki diriku seperti tuan presiden tersenyum tanpa dendam kepada mereka yang membencimu.

Akupun ingin membawa dalam doa suciku nama-nama mereka yang membenciku di hadirat Allah yang mahabesar seperti tuan presiden menyebut nama-nama mereka yang tidak mengakui karya-karyamu.

Akupun ingin memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.
Akupun ingin hidup untuk memberi dan bukan untuk diberi seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.

Tuan presiden, Bapak Jokowidodo, izinkan aku belajar kebajikan dan kebijaksanaan darimu walau sudah pasti engkau akan keberatan kusebut sebagai orang bijaksan nan arif.

Tetaplah memancarkan pesona kebajikan dan kebijaksanaanmu bagi negeri ini dan bagi dunia.

Biarkanlah doa-doa sucimu dan doa-doa rakyatmu yang setia menfuatkanmu selalu untuk tetap tersenyum bagi kaum sebangsamu sendiri yang mencacimu, menghinamu, menfitnahmu, dan merendahkanmu.

Biarkanlah kesahajaan dan kesederhanaanmu memancar dalam keagungan bangsa ini.

Biarkanlah kerendahan hatimu menyejukkan hati yang beku karena keserakahan harta dan kuasa.

Biarkanlah cinta abadimu untuk negeri ini terukir indah dalam karya-karyamu dari Sabang sampai Merauke.
Dan biarkanlah aku tetap berguru kebajikan dan kebijaksanaanmu, Karen engkau sungguh-sungguh seorang manusia yang penuh kebajikan dan kebijaksanaan titisan nusantara jaya.

Bapak Jokowidodo, terima kasih telah “hadir” bagiku sebagai sosok teladan dalam kebijaksanaan dan guru dalam kehidupan bersama. Semoga umurmu panjang dan sehat selalu. Doaku menyertaimu selalu wahai presiden kami dan guru shopie-ku. (nr)

Tana Toraja, Medio Sept’ 2018

Terkait

Watch Dragon ball super