Home / Profile / Sosok Menkes Dan Pokok Pikiran dr. Hanibal Hamidi, M.Kes
Wapres Ma'ruf Amin bersama dr. Hanibal Hamidi, M.Kes

Sosok Menkes Dan Pokok Pikiran dr. Hanibal Hamidi, M.Kes

Jakarta, sketsindonews – Mendekati pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024, sususan kabinet kerja jilid 2 juga semakin ditunggu masyarakat.

Meski semua pihak mempercayakan kepada Presiden Jokowi untuk memilih sendiri siapa yang akan membantunya dalam posisi Menteri, namun berbagai tawaran atau dorongan dari masyarakat tetap muncul dengan berbagai pertimbangannya.

Dan kali ini ada yang menarik dari kemiripan pemikiran antara Presiden Elect PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT saat berbicara soal kriteria Menteri Kesehatan dengan dr. Hanibal Hamidi, M.Kes terkait paradigma sehat.

Beberapa hari lalu, kepada sketsindonews.com Adib mengatakan bahwa permasalahan kesehatan di Indonesia itu dilihat dari tiga permasalahan utama yakni sistem didalam pelayanan, sistem pembiayaan dan terakhir sistem pendidikan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan, seperti dokter dan tenaga kesehatan lainnya. “Tinggal bagaimana yang bisa menguasai dari itu aja,” katanya saat dihubungi, Kamis (17/10/19).


Namun, kata Adib ada prespektif lain yang juga diperhatikan didalam pelayanan bukan hanya Kuratif saja tapi harus ada preventif promotif.

Dimana Preventif promotif inilah yang harus banyak diperankan oleh regulator dalam hal ini adalah kementerian kesehatan dan seluruh jajaran dibawahnya.

“Meningkatkan terkait dengan program-program preventif promotif agar efisiensi di kuratifnya itu tidak terjadi karena sudah paradigmanya adalah mengarah pada paradigma sehat didalam konsep pembangunan kesehatan dibidang preventif dan promotifnya,” terangnya.

Sementara, saat dikutip dari akuratnews.com, Hanibal Hamidi meyakini bahwa adanya kondisi transisi masalah kesehatan demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku yang memberikan dampak “Double Burden” alias beban ganda, hanya dapat diselesaikan melalui kebijakan politik kesehatan dengan keberpihakan pada pendekatan paradigma sehat, sesuai dengan pengalaman keberhasilannya disemua tempat tugas selama ini.

Kembali ke Adib, saat ditanyai tekait kriteria yang cocok mengisi jabatan Menkes, dia mengatakan bahwa kriteria yang pas adalah yang memahami permasalahan kesehatan di Indonesia.

“Kalau prespektif dari saya baik secara pribadi, ya progesif saya sebagai dokter maka yang utama sebenarnya figur yang dibutuhkan didalam posisi menteri kesehatan itu yang paham tentang permasalahan kesehatan di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, permasalahan kesehatan di Indonesia itu dilihat dari tiga permasalahan utama yakni sistem didalam pelayanan, sistem pembiayaan dan terakhir sistem pendidikan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan, seperti dokter dan tenaga kesehatan lainnya. “Tinggal bagaimana yang bisa menguasai dari itu aja,” katanya.

Seperti menjawab hal tersebut, Hanibal Hamidi yang memiliki pengalaman kerja dibidang kesehatan masyarakat secara utuh, menjalani kerja dengan prestasi sebagai dokter puskesmas di wilayah terpencil di Puskemas Pugung Tampak yang memiliki beberapa desa terisolasi wilayah Pulau Pisang di kecamatan Pesisir Utara, Puskesmas Bengkunat yang memiliki wilayah kerja terisolasi ditengah kawasan hutan lindung Bukit Barisan Desa Way Haru di Kecamatan Pesisir Selatan sehingga terpilih sebagai salah satu Dokter Teladan, membuat namanya semakin dikenal.

Terlebih setelah bekerja di rumah sakit Daerah dan menjadi kepala dinas kesehatan di Lampung, Hanibal yang memiliki cara fikir konsepsional kesehatan sejalan dengan teori Bloom; yang menempatkan penentu derajat kesehatan adalah faktor; a)Genetik (5%), pelayanan kesehatan (20%), Hidup Sehat (30%), kesehatan lingkungan (45%) kemudian melakukan upaya percepatan pembangunan kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan, terdepan, terluar, melalui instrumen “Perdesaaan Sehat” yang ditetapkan menjadi kebijakan strategis saat ditugaskan sebagai Kepala Biro Perencanaan Kementrian PDT.

Seakan tidak ingin berhenti, Hanibal berlanjut melaksanakan upaya membangun kesehatan masyarakat Desa secara nasional melalui instrumen intervensi “Rumah Desa Sehat” bersama lembaga “Worldbank” dan “Mellenium Calance Account Indonesia” Unit kerja Kemenlu Amerika dalam mewujudkan “Desa Daulat Gizi”.

Menurut Hanibal, Permasalahan pembangunan kesehatan saat ini kurang proporsionalnya komitmen politik pendekatan pardigma sakit, melalui kinerja RS bagi 25 % masyarakat sakit jauh lebih besar dibandingkan komitmen politik bagi pendekatan paradigma sehat bagi 75 % masyarakat yang sehat melalui kinerja Puskesmas.

Terus fokus pada kesehatan, Lulusan S2 Universitas Indonesia (UI) ini memiliki konsep pengembangan terobosan bagi pembangunan semesta seperti Diserupsi kesehatan berbasis big data kesehatan, Farmakologi Tropical Desease sabagai salah satu basis ekonomi nasional, Kesehatan Forensik, Kesehatan Kelautan, Kesehatan Dirgantara, Kemandirian Alat Kesehatan, Kedaulatan gizi Desa, Dokter Komunitas, Sekolah Kedinasan, Sistem Karir & Jaminan Kesejahteraan Tenaga Kesehatan Strategis, terutama Pengembangan Budaya Leluhur Bidang Kesehatan Nusantara.

(Eky)

Check Also

Taman Siswa Jalan Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Oleh : Kolonel Sus Yuto Nugroho Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan …

Watch Dragon ball super