Home / Artikel / Surabaya Melawan Aksi Intoleransi Ganti Presiden

Surabaya Melawan Aksi Intoleransi Ganti Presiden

Jakarta, sketsindonews – Aksi Ganti Presiden di daerah terus bergulir terhadap pro dan kontra,  legalkah secara UU aksi tersebut dalam perpolitikan di Indonesia.

Banyak orang mengatakan tindakan aksi tersebut sebenarnya menyalahi undang-undang. Menimbang banyak hal, aksi ini masih diberi ruang. Tapi kenapa masih betlanjut,  sisi lain pemerintah menjaga situasi politik agar kondusif. Jangan sampai jika dilarang, nanti aparat dituduh represif, mengekang demokrasi.

Sebuah tulisan dari Ekayani perlu kita cermati, yang diungkap bahwa aksi ini juga intolerasmsi terhadap etika politik bahkan bisa menjurus pemgrusakan nilai demokrasi dalam saduran sketsindonews.com.(28/8)

Dalam tulisam Ekayani, para “politisi Jakarta” sudah mulai jual omongan. Mereka menggembosi kepercayaan rakyat terhadap aparat, khusus kasus ini. Jadi, mereka ini seperti musuh dalam selimut. Bayangkan jika rakyat banyak sudah tak percaya aparat, negara ini bisa kacau. Kerusuhan akan meluas dan sulit dipadamkan.

Untuk Jakarta, kita memang harus menyerah. Kota ini memang kehilangan roh, tak punya jati diri, tak ada kecintaan warganya. Maka mudah sekali menjual provokasi dan kebencian. Padahal warga Jakarta mestinya lebih dewasa. Informasi jauh lebih mudah diakses. Pusat pemerintahan begitu dekat dan responsif.

Namun faktanya tidak demikian. Kota ini gagal memelihara “wajah ramah” Indonesia.

Warga Jakarta seperti segerombolan domba dungu yang mudah digiring dan diprovokasi. Tak beda dengan daerah pelosok yang miskin informasi.

Surabaya memang beda gayanya. Gerakan Ganti Presiden disambut penolakan keras. Sekilas Arek Suroboyo ini terlihat kasar, keras, ketus, tapi dalam banyak hal mereka ini lebih heroik. Mereka punya kerekatan yang sulit dipahami warga mengambang seperti Jakarta. Memang, pasti ada kekurangan. Misalnya tindak kriminalitas dan premanisme yang juga tinggi. Untuk poin plus lain, Surabaya bisa dijadikan contoh.

Setelah beberapa daerah dengan tegas menolak provokasi gerakan Ganti Presiden, tampak jelas bahwa kekurangan Jakarta adalah karakter. Jakarta tak bisa disebut milik sekelompok orang. Tidak ada rasa memiliki kota ini bagi warganya. Maraknya aksi intoleransi dan provokasi di Jakarta karena ketiadakan rasa cinta ini. Mereka saling menciptakan dinding pembatas bagi kelompok lain. Maklum saja, Jakarta adalah “melting pot”. Tempat bertemunya para nomad. Ketika hari raya tiba, para nomad ini pulang ke rumah yang sebenarnya.

Tubuh mereka memang ada di Jakarta, tapi jiwa mereka masih tertinggal di kampung halaman. Boleh jadi mereka telah menetap bertahun-tahun di Jakarta, tapi karakter dan kecintaan mereka mengendap di tempat lain.

Kekalahan Jakarta terhadap aksi intoleransi dan provokasi keagamaan, memang bukan bukti tepat untuk membenarkan teori demikian. Faktanya, Sumatera Barat juga sukses menjadi daerah dengan aksi intoleransi yang subur. Dokter perempuan yang dipersekusi dan harus keluar daerah itu tempo hari, adalah bukti konkret. Bahkan dengan sosok yang diagungkan secara adat saja mereka berani merusaknya.

Namun barangkali itu malah menggenapkan teori tadi. Selain karena *melting pot* seperti Jakarta, kurangnya akses informasi yang jelas seperti Sumatera Barat juga menyuburkan aksi intoleransi dan provokasi keagamaan itu. Karakter kedaerahan tadi juga tidak cukup kuat membendungnya. Bahkan kadang dijadikan alasan untuk memisahkan “yang lain.”

Surabaya secara tegas menolak gerakan Ganti Presiden itu. Kelompok sebelah tentu akan membela diri atas nama demokrasi. Padahal warga setempat juga berhak menyelamatkan ketenteraman dan kerukunan mereka. Musim kampanye belum mulai. Organ penggerak Ganti Presiden juga bukan tim resmi Capres-Cawapres. Wajar kalau warga Surabaya mencurigai ada bau busuk di dalamnya.

Apakah itu?

Menyusupnya kelompok intoleran anti Pancasila. Eks-HTI jelas memanfaatkan gerakan ini untuk menyerang Pemerintah dan aparat keamanan. Sementara kekuatan asing yang menjadi motor mereka, tentu juga melihat celah untuk masuk. Ada kekuatan besar di balik semua itu.

Menggoyang Indonesia tak selalu menggunakan kekuatan fisik, seperti menggunakan tentara, menghantam kurs Rupiah, mencekik dengan bantuan. Namun itu bisa juga dilakukan dengan memanfaatkan organ tanpa bentuk seperti gerakan Ganti Presiden ini.

Hal inilah yang mungkin membuat warga Surabaya khawatir. Mengingat sikap heroik tadi memang seperti pedang bermata dua. Dulu saat melawan penjajah, pidato Bung Tomo membakar semangat ini. Perlawanan itu mengagetkan pasukan Sekutu. Bisa dibayangkan jika orang-orang semacam itu diadu-domba. Ngerinya melebihi peristiwa Jakarta.

Maka antisipasi perpecahan itu sudah tepat. Kalau kampanye, silakan menunggu waktunya. Kalau mau protes, lakukan di wilayah masing-masing. Jangan menyebar kobaran api ke wilayah lain. Mungkin begitu maksud mereka.

Surabaya dikenal damai. Warga keturunan Tionghoa, Arab, non muslim, merasa memiliki kota itu. Tidak seperti Jakarta, Surabaya mengikat warganya lebih erat. Logat warga Surabaya yang medok, termasuk warga keturunan, itu sudah cukup sebagai tali. Mereka tidak berbeda. Kecintaan mereka sama. Bandingkan dengan Semarang, Solo, Jogja. Ada semacam jarak yang sengaja diciptakan di sana.

Gerakan Ganti Presiden memang hanya bungkus luar. Isinya eks-HTI, para mafia yang dibabat Pemerintah, koruptor, petualang politik, kepentingan asing. Yang diserang bukan hanya petahana, tapi juga ideologi dan ketenangan negara. Orang-orang ini sedang membangun kekuatan jauh sebelum waktunya. Mereka ingin memastikan konspirasi mereka berjalan aman.

Terang-terangan ingin melawan Pemerintah dan aparat tentu tak mungkin. Kekuatan mereka aslinya tak seberapa. Tapi memanfaatkan momen politik adalah cara yang tepat. Dengan fanatisme pada calon oposisi, mereka membakar perlawanan. Agenda utamanya bukan meloloskan Prabowo, tapi menancapkan kuku mereka kembali setelah sebelumnya diberangus.

Tentu sulit dimengerti, bagaimana gerakan tanpa bentuk itu membiayai dirinya? Perlu uang besar untuk meletupkan gerakan itu di banyak wilayah di seluruh Indonesia. Mereka bahkan bergerak ke luar negeri. Itu untuk memberi kesan mereka banyak dan diterima. Padahal faktanya hanya segerombolan orang yang itu-itu saja. Ramainya hanya di medsos. Dengan itu mereka membentuk gambaran, seolah besar untuk mempengaruhi massa.

Surabaya telah melawan. Sama seperti Batam, Riau, Babel dan daerah lain. Mereka menunjukkan karakter daerahnya. Mereka ingin hidup damai, tak ingin diadu-domba. Langkah itu tentu adalah hak mereka. Itu juga demokrasi. Karena mereka mencintai daerah kelahirannya. Jangan sampai ada banjir darah. Jangan sampai ada mayat yang tak disolatkan. Jangan sampai ada makian kafir, cina, halal darahnya.

Cukuplah Jakarta sebagai contoh kegagalan itu. Kerusakan yang membekas dalam dan tak terobati. Kota yang gagal mewajahkan Indonesia cinta damai dan toleran. Cukup Jakarta saja…

di tulis : Kajitow Elkayeni

Check Also

Sky Bridge Tanah Abang Ujian Pejabat Yang Terlibat Dalam Menuntaskan PKL

Jakarta, sketsimdonews – Menata “Sky Bridge’ (JPM) hingga kini masih polemik apalagi menjamin sterlitas kawasaan …

Watch Dragon ball super