Terkait penggunaan bahasa Asing, Pudarnya Rasa Nasionalisme???

Jakarta, sketsindonews – Pudarnya jiwa nasionalisme pada anak bangsa terhadap bahasa Indonesia, saat ini kian mengkhawatirkan.

Betapa tidak. Sejumlah transportasi seperti Kereta Rel Listrik, Transjakarta, MRT, LRT dan setiap stasiun KRL di Jabotabek keranjingan menggunakan bahasa asing. Seolah hidup di luar negeri.

Padahal Presiden Jokowi saat berpidato di Kore Selatan dalam acara pertemuan CEO se-Asean menggunakan bahasa Indonesia.

“Tahun depan Indonesia akan menggelar Forum Infrastruktur dan konektivitas di Kawasan Indo-Pasifik. Saya undang semua pelaku usaha untuk hadir merebut peluang investasi infrastruktur dan konektivitas di Indonesia dan juga Kawasan Indo-Pasifik,” kata Jokowi seperti dilansir Detik, Senin (25/11/2019).

Juru bicara PT Kereta Commuter Indonesia Anne Purba dalam pesan singkatnya kepada sketsindonews, membenarkan adanya penggunaan bahasa Ingggris di setiap stasiun kereta rel listrik dan di atas kereta. “Diatas kereta pun ada announchment english,” kata Anne dalam pesan singkat, Rabu (27/11) sore.

Menurutnya digunakannya dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan Inggris karena penumpang kereta komuter saat ini banyaknya warga negera asing. “Karena penumpang kita juga sekarang banyak warga negara asing. Dan seperti di bandara-bandara juga, di kereta jarak jauh juga penggunaan bahasa indonesia dan inggris sudah lama,” ujar dia.

Diakuinya bandar udara Internasional Denpasar saat ini menggunakan bahasa lokal selain bahasa Inggris. “Iya betul di stasiun-stasiun besar di KAI juga menggunakan bahasa daerah. Next kita akan lihat pengembangannya di Commuterline,” ungkap Anne

Ia menambahkan PT Kereta Commuter Indonesia tetap menggunakan bahasa utama bahasa Indonesia. “Untuk pelayanan dibuat 2 bahasa Indonesia dan Inggris. Itu saja” pungkasnya.

Sementara itu pakar bahasa dari Universitas Bengkulu Dr Agus Trianto MPd kepada sketsindonews, Jumat (20/9). Mengatakan penggunaan bahasa asing yang berlebihan di ruang publik cerminan menurunnya nasionalisme.

“Penggunaan bahasa asing yang berlebihan di ruang publik cerminan menurunnya nasionalisme. Ini sesuai amanat undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara,” imbuh Agus.

Gejala semacam ini, ia melanjutkan, bisa disebabkan karena bilingualitas (kemampuan dwibahasa), gengsi dan gagah-gagahan; rasa rendah diri; kurang menghargai bahasa negara serta sindrom poskolonial.

“Orang boleh menggunakan lebih dari satu bahasa (biasanya cuma istilah) untuk tujuan komunikatif yang mengharuskan menggunakan lebih dari satu bahasa. Namun jika tidak untuk tujuan tersebut maka tergolong hal yang kurang baik,” ungkap dia.

Saat ditanya mengenai lembaga atau institusi acap kali menggunakan istilah asing, Agus masih mentolelir. Namun sepanjang tidak berlebihan.

“Istilah asing di lembaga resmi masih dibolehkan untuk layanan publik asalkan tulisan bahasa Indonesia lebih menonjol dari bahasa Inggrisnya. Namun jika tidak ada layanan untuk orang asing tidak diperlukan bahasa asing,” tegasnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun memberi slogan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai bahasa asing”.

(Sofyan Hadi)