Home / Berita / Tragedi Kemanusiaan Rohingya dan Sikap Indonesia

Tragedi Kemanusiaan Rohingya dan Sikap Indonesia

Opini, sketsindonews – Pengungsian besar-besaran orang-orang Rohingya dari negerinya di Rakhine Myanmar menuju ke Bangladesh adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Pengusiran secara paksa orang-orang minoritas ini dari tanah kelahirannya telah mencengangkan dunia.

Di era modern dimana demokrasi telah berkembang, ternyata masih ada sebuah negeri yang mempraktekkan diskriminasi etnis. Media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Etnis yang dikenal juga dengan sebutan Arakan atau Rohang dalam bahasa Rohingya ini diperkirakan telah hidup di negara bagian Rakhine dari abad ke-16. Demi menyelamatkan hidup mereka, sedikitnya 370.000 jiwa telah melarikan diri dari Rakhine State di Myanmar ke negara – negara tetangganya, terutama ke negara Bangladesh, negara yang paling dekat dari Rakhine. Anak-anak, wanita, para manula, bergabung menjadi satu dalam long marchpanjang berhari-hari, ratusan kilometer, meninggalkan rumah, harta benda, sawah dan ladang, serta ternak sumber penghidupan mereka selama ini hanya untuk satu kepentingan yakni keselamatan diri.

Entah berapa dari mereka yang tidak tahan dan harus meninggal dunia akibat kelelahan, kelaparan serta penyakit yang menggerogoti selama perjalanan tersebut. Tetapi ketakutan akan kehilangan jiwa jauh lebih besar dari semua itu yang menjadikannya motivasi untuk bergerak dan terus bergerak mencapai titik aman di negeri seberang.

Terlebih lagi, persoalan ini mencuat terutama sejak junta militer berkuasa pada tahun 1960-an, lalu ditambah ada Burma Citizenship Law pada tahun 1982 yang tak mengakui etnis ini sebagai warga negara. Hingga saat ini dimana Myanmar di pimpin oleh rezim sipil pengakuan (kewarganegaraan) Rohingya belum diakui.

Peri Kemanusiaan

Sebagai negara yang menjunjung tinggi peri kemanusiaan, Bangsa Indonesia telah menunjukkan kepada dunia keprihatinan yang mendalam. Teriakan-teriakan kecaman telah dikumandangkan bersama dengan demonstrasi mengecam kekejaman yang terjadi di Myanmar. Telah berulang kali kedutaan besar Myanmar di penuhi demonstran yang meminta kekerasan segera dihentikan dan keamanan dipulihkan.

Indonesia adalah negara pertama yang mendatangi pemimpin Myanmar dan menyampaikan keprihatinan dan meminta agar semua pihak menahan diri dan tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Indonesia juga mengirimkan misi kemanusiaan untuk membantu resolusi konflik dan meredakan ketegangan di Rakhine.

Pemerintah dan rakyat Indonesia bergandengan tangan dalam misi kemanusiaan. Sebanyak 11 lembaga swadaya masyarakat bergabung bersama Pemerintah dalam Aksi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar.

Koordinasi bantuan dilakukan sedemikian rupa dengan membawa bendera merah putih sebagai bendera nasional dalam membantu rakyat Myanmar.

Namun usaha ini belum cukup untuk meredakan ketegangan di Myanmar. Aksi persekusi dan kekerasan terus saja terjadi di Rakhine State. Dalam bukunya yang berjudul Conflict in Myanmar, Nicholas Farrelly menyebut tragedi Rakhine sebagai “anti muslim program” atau “pembantaian massal anti Muslim”, yang bukan hanya dilakukan oleh “massa Budha” tetapi juga di dukung oleh elemen pemerintahan Myanmar. Rakyat sipil yang menjadi korban akan terus berjatuhan.

Oleh karenanya kita tidak boleh berhenti untuk mencermati perkembangan di Myanmar. Masalah yang terjadi di Myanmar ini bukan sekedar masalah dalam negeri Myanmar, tetapi telah menjadi masalah di kawasan.

Negara-negara tetangga Myanmar seperti Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia telah menerima dampak kebijakan represif militer Myanmar kepada rakyatnya. Lumrah adanya bila Pemerintah Indonesia terus memainkan peran diplomasinya untuk menciptakan perdamaian dan kemerdekaan di wilayah Myanmar.

Tiga Langkah Lanjutan

Sejatinya tanpa ada itikad baik Myanmar persoalan Rohingya akan terus menjadi lingkaran setan di kawasan Asia Tenggara, tetapi sebagai Negara tetangga yang juga menerima imbas dari masalah ini pemerintah Indonesia dapat melakukan beberapa langkah sebagai berikut :

Pertama, mengusulkan KTT ASEAN untuk membahas krisis di Myanmar. Membahas masalah Myanmar terlebih dahulu di tingkat ASEAN merupakan langkah yang sangat bijak untuk membangun kesatuan pandangan negara-negara ASEAN dalam menyikapi masalah Rohingya. Hal ini perlu sebelum Dewan Keamanan PBB bersidang.

Kedua, Pemerintah Indonesia bisa membentuk kelompok kerja diplomatik untuk membantu penyelesaian masalah Rohingya. Kelompok kerja ini melakukan lobby kepada negara-negara di kawasan untuk membantu misi kemanusiaan di Myanmar.

Misi diplomatik ini termasuk melakukan lobby kepada negara-negara sahabat Myanmar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan untuk aktif membantu penyelesaian masalah kemanusiaan di Rakhine.

Ketiga, Pemerintah mengusulkan sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk membantu Pemerintah Bangladesh menangani masalah pengungsi.  Ini sangat penting mengingat Pemerintah Bangladesh pasti sangat berat untuk menampung ratusan ribu pengungsi yang mengalir ke wilayahnya. Bantuan nyata seperti yang saat ini telah ditunjukkan Indonesia masih sangat diperlukan.

Oleh: Pengurus DPP Partai Amanat Nasional, Nur Indah Fitriani

Check Also

Kemenhub Siapkan 4000 Lebih Sertifikat Diklat Bidang Pelayaran Bagi Masyarakat Sumatera Barat

Padang Pariaman, sketsindonews – Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) kembali …

Watch Dragon ball super