Logo HPN 2026

Hari Pers Nasional

Akan diselenggarakan di
PROVINSI BANTEN
9 Februari 2026

Bohemian Rhapsody Freddy Mercury dan Politik di Indonesia

oleh
oleh


2.1K
pembaca

Jakarta, sketaindonews – Sebuah film music yang kini banyak di tonton di bioskop merupakan kisah perjalanan hidup Freddy Mercury sang legendaris vocalis grup Queen “Bohemian Rhapsody”.

Dalam kisah itu menggambarkan perjalanan grup band rock legendaris Queen dan Freddie Mercury menarik banyak orang dari berbagai usia untuk menonton film musik itu. Saya pun juga bernyanyi dengan mereka sepanjang film diputar. Menyenangkan kembali ke masa lalu..

Penulis Denny Siregar memcoba memaknai film Freddy pada sebuah sisi manusia yang punya segalanya, ambisius dalam etimologi politik, sungguh menjadi pernik untuk kita menelaah dalam situasi pencapresan calon presiden di pentas politik di Indonesia.

Gambar

Kritik dalam intisari itu bisa menjadi renungan bila kita menonton, makna film untuk menjadi resensi menjelma untuk menilai tentang sosok yang terjadi.

Kata Denny, tapi dibalik semua lagu hitsnya, Freddie ternyata orang yang kesepian. Ia yang hidup dibalik tembok rumah besar, ketenaran dan kekayaan, rupanya tidak bisa menikmati apa yang ia punya. Ia dikelilingi orang-orang yang terus mengkapitalisasi dirinya. Orang-orang yang sebenarnya tidak mencintai dirinya, hanya memanfaatkannya. (5/11)

Dan terjebaklah ia dalam kesepian abadinya. Ketika sahabatnya, orang yang ia percaya dan juga mantan istrinya kawin lagi dengan orang lain, ia kehilangan pegangan. Uang tidak menolongnya. Ketenaran tidak berteman dengannya. Dan sorak sorai ribuan penonton hanya menambah tikaman dalam jiwanya.

Freddie sudah mati sebelum AIDS membunuhnya…

Dalam perumpaan melihat Freddie Mercury, saya jadi teringat seorang Capres yang hidup dalam tembok mewah yang sama, sendirian tanpa keluarga, dan dikelilingi orang-orang yang terus mengkapitalisasi dirinya.

Seorang Capres yang bergelimang kekayaan, ketenaran dan ambisi untuk menjadi legenda, yang sejatinya hanyalah seorang anak kecil yang hidup dalam tubuh orang dewasa.

Ia impulsif, labil dan emosinya tidak stabil. Ia menuntut penghormatan dari orang-orang sekelilingnya, jika tidak ia marah besar. Ia terjebak dalam delusi bahwa ia adalah seorang raja dan rakyat mengakuinya. Bahkan untuk mendapatkan rasa itu, ia rela membayar semuanya dengan segala cara yang dihalalkan.

Kita layak kasihan pada Freddie Mercury dan orang-orang sepertinya. Dunia bisa dibelinya, tetapi jiwanya kering. Ia mengisi kekeringan itu dengan pujian-pujian semu yang bahkan hilang sebelum ia sempat menikmatinya.

Film Bohemian Rhapsody adalah film menyedihkan yang bicara tentang manusia, bukan tentang musik semata. Sutradaranya mampu menggali sisi gelap Freddie Mercury dan menceritakannya kepada banyak orang. Bahwa, “Hei, harta tidak mampu membeli kebahagiaan seperti yang kamu inginkan..”

Entah kenapa, setelah menonton Bohemian Rhapsody saya jadi teringat Capres itu yang bermain dalam film “Bohemian Kardusy”. Kisah yang sama, hanya beda dalam lakon dan peristiwa.

Kalau Freddie pelihara kucing, sedang disana kuda, tutup Denny dalam tulisannya.

reporter : nanorame

No More Posts Available.

No more pages to load.

Baca konten dgn suara
Speed: 1x
Ready