20.000
pembaca
Prosesi wisuda Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Muslim Asia Afrika yang digelar di Syahida Inn, Minggu (11/1/26), berlangsung khidmat dan penuh makna. Ratusan wisudawan resmi menyandang status alumni setelah menempuh proses akademik bertahun-tahun, disaksikan para orang tua, pimpinan perguruan tinggi, serta sivitas akademika.
Dalam orasi ilmiahnya pada acara wisuda tersebut, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Gelar akademik, menurutnya, adalah pintu masuk menuju ujian kehidupan nyata, ketika ilmu, nilai, dan integritas diuji secara konkret di tengah masyarakat.
Orasi Profesor Tholabi tidak berhenti pada tataran idealisme normatif. Ia secara langsung mengaitkan gagasannya dengan tantangan konkret pendidikan tinggi hari ini, mulai dari disrupsi teknologi, percepatan perubahan sosial, hingga tekanan pasar kerja yang kian pragmatis.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan tinggi berisiko kehilangan ruhnya ketika direduksi menjadi sekadar jalur sertifikasi keterampilan. Kampus, tegasnya, bukan pabrik tenaga kerja, melainkan ruang pembentukan karakter publik dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks tersebut, Tholabi menyampaikan kritik halus terhadap orientasi pendidikan yang terlalu terobsesi pada angka, peringkat, dan luaran teknokratis. Keunggulan institusi, menurutnya, tidak boleh dibangun dengan mengorbankan orientasi nilai dan integritas akademik.
Ia menekankan pentingnya kepemimpinan beretika dan kemampuan bernalar moral sebagai kompetensi utama lulusan. Dunia kerja global, kata Tholabi, justru membutuhkan individu yang mampu mengambil keputusan berbasis nilai di tengah kompleksitas regulasi, kepentingan, dan tekanan kekuasaan.
Menurut Tholabi, krisis kepercayaan terhadap institusi publik tidak dapat diatasi hanya dengan kecakapan teknis dan kecerdasan intelektual. “Yang dibutuhkan adalah lulusan yang memiliki integritas, keberanian moral, serta konsistensi antara pengetahuan dan tindakan”, harapnya.
Sejumlah peserta wisuda menangkap orasi tersebut sebagai pengingat bahwa pendidikan tinggi memikul mandat peradaban. Kampus dituntut menjaga keseimbangan antara relevansi pasar dan tanggung jawab sosial dalam membentuk generasi terdidik.
Dalam situasi global yang sarat ketidakpastian, pendidikan tinggi Islam dinilai memiliki modal etik yang kuat untuk menjawab tantangan zaman secara lebih manusiawi. Orasi ini dapat dibaca sebagai refleksi kolektif tentang peran perguruan tinggi masih setia pada misi mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar memenuhi kebutuhan jangka pendek pasar kerja.










