Home / Berita / BIG: Gerakan Revolusi Mental Untuk Indonesia Mandiri Dan Bersatu

BIG: Gerakan Revolusi Mental Untuk Indonesia Mandiri Dan Bersatu

Cibinong, sketsindonews – Indonesia wajib untuk terus meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi terkait penyediaan informasi geospasial. Kebutuhan akan teknologi informasi geospasial terus meningkat penggunaannya.

Saat ini informasi geospasial sudah menjadi bagian utama untuk menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga mampu mendorong efektivitas dan efisiensi perencanaan dan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan dan pembangunan dalam segala bidang. Perkembangan informasi geospasial membuka peluang tumbuhnya industri dan layanan jasa.

Diharapkan kedepannya, Indonesia mampu membangun teknologi sendiri, karena saat ini teknologi geospasial masih didominasi oleh teknologi milik luar negeri. Sekelumit pandangan diatas bahwa Badan Informasi Geospasial (BIG) harus lebih maju lagi.

Kepala Badan Informasi Geospasial, Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M. Sc Eng mengatakan, selama ini melihat peta di buku atau kumpulan peta Indonesia, sekarang peta Indonesia bisa di akses dengan internet. Geo portal dapat melihat pembangunan jalan, bangunan pelabuhan, waduk. Serta reforma agraria dapat di lihat langsung di aplikasi ini dan dapat bermanfaat untuk masyarakat.

“Sosialisasi Geo portal ini sudah terkoneksi di 19 kementrian, 10 propinsi, kurang dari 50 kabupaten dan kota serta sebagian perguruan tinggi. Info yang sangat konfidensial peran Presiden sangat sentral untuk data yang sangat penting.” Tambah Hasanuddin pada saat diwawancarai di cibinong, kantor BIG, hari Jumat (19/5).

Di tempat yang sama Ketua Komite Independen Revolusi Mental, Ir. Suwarno Putronagoro mengatakan bahwa Gerakan nasional revolusi mental harus berpedoman kepada, Gerakan Indonesia Melayani, kedua, Gerakan Indonesia Bersih, ketiga, Gerakan Indonesia Tertib, keempat, Gerakan Indonesia Mandiri, dan kelima, Gerakan Indonesia Bersatu.

Tantangan BIG kedepan dalam Penyelenggaraan IG: Keterbatasan SDM, Ketergantungan Teknologi, Permasalahan Regulasi dan Standardisasi, serta kendala Partisipative Mapping adalah mahalnya peralatan khususnya GPS dengan akurasi tinggi (ketelitian sub meter).

Workshop akan memaparkan bagaimana cara meningkatkan akurasi GPS dan juga pembuatan GPS dengan biaya yang minim.

Harapannya agar peta yang dihasilkan dari Partisipative Mapping dapat memiliki akurasi tinggi dengan biaya rendah sekaligus sebagai sarana penanaman karakter mengutamakan penggunaan produk dalam negeri dan semangat mandiri.

Target peserta diikuti oleh 180 orang (yang terdiri dari 50-60 kelompok), yang mewakili 4 unsur penyelenggaran IG, yaitu: Kementerian/Lembaga/Pemda, Universitas/Sekolah, Asosiasi Penyedia Jasa IG, dan Asosiasi Profesi IG.

Pada acara Gerakan Nasional Revolusi Mental di BIG tersebut selain diadakan launching inovasi produk peralatan GPS oleh BIG dan Perguruan Tinggi (lowcost GPS receiver), dan pencanangan geoportal nasional IG (https://tanahair.indonesia.go.id), juga menjadi momentum peningkatan kualitas SDM IG dengan disahkannya Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 95 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Informasi Geospasial tahun 2016, pada tanggal 15 Mei 2017. (Edo)

Check Also

Tinjau Bandara NYIA, Menhub : Sisi Udara Rampung 100%

Kulon Progo, sketsindonews – Progres pembangunan sisi udara New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau Bandara …

Watch Dragon ball super