Lahan Dinas Kehutanan Untuk PHL, Warga Rawasari Kesulitan Lahan Bermain

oleh
oleh
Ketua RW 01 Rawasari bersama Beberapa Ketua RT meninjau lokasi yang akan dijadikan RPTRA/TMB. (Dok. sketsindonews.com)
banner 970x250

Jakarta, sketsindonews – Warga Rw 01 Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat sesalkan sikap Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta yang seakan enggan memberikan lahan untuk dibangun RPTRA.

Menurut Ketua RW 01 Rawasari, Ai Sumira ada lahan sekitar 3800 meter persegi milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman yang awalnya kosong dan tidak berfungsi.

“Saya bersurat ke kehutanan agar lahan tersebut bisa digunakan untuk RPTRA dan Puskesmas namun dua minggu kemudian surat tersebut di tolak,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Rw 01 yang lokasinya sangat dekat dengan lahan dimaksud, Senin (24/6).

Penolakan tersebut, diungkapkan Ai karena pihak Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman beralasan bahwa lahan tersebut akan digunakan sebagai tempat untuk pembibitan. “Namun kenyataanya dibangun sebagai tempat PHL,” ujarnya.

Surat penolakan tersebut, tak lantas membuat upaya Ai melemah, bersama warga lainnya dia kembali mengirimkan surat ke Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman dengan melampirkan 480 KTP dari 17 RT.

“Dan akhirnya di setujui mereka dengan memberikan 500 meter,” paparnya.

Dengan lahan 500 meter tersebut, Ai beserta warga lain berencana akan diperuntukkab sebagai sarana bermain anak-anak serta sebagai fasilitas olahraga.

Selama ini, ungkapnya remaja sekitar selalu bermain dijalan dan cukup mengganggu, namun sulit dilarang karena memang tidak ada lahan untuk bermain.

“Pernah main futsal hingga ribut dengan penghuni rumah karena merasa terganggu dengan suara anak-anak hingga mau berurusan dengan kepolisian. Karena memang tidak ada lahan untuk menyalurkan hoby mereka,” ungkapnya.

Kembali Kecewa

Setelah menerima lahan dan akan dijadikan RPTRA, Ai mengungkapkan bahwa Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman kembali meminta sebagian lahan. “Itu maksudnya apa?,” ucapnya heran.

Menurutnya, dengan dikuranginya lahan tersebut, maka akan membuat posisi lahan jadi tidak nyaman untuk digunakan. “Ini jadi kaya ga niat ngasihnya,” kesal Ai yang juga didampingi oleh Ketua Rt 09/ Rw 01, Adiyani; Ketua Rt 07/ Rw 01, Imam Maliki; serta Ketua Rt 08/ Rw 01, Wina Anggraini

“Ditempat lain ada terprogram dibangun RPTRA disini perjuangannya untuk mendapatkan susah bangat,” tambahnya.

Lahan Dinas Jadi Masalah Baru.

Menambahkan pernyataan Rw, Ketua Rt 08/ Rw 01, Wina Anggraini berharap agar lahan yang ditarik dapat diberikan kembali.

Menurutnya, lebih baik lahan seluas itu digunakan untuk kebutuhan warga, karena selama ini hanya jadi sarang nyamuk. “Karena tersimpan rongsokan plastik yang menampung genangan,” ungkapnya.

Wina menceritakan bahwa sebelumnya warga sekitar pernah terserang penyakit Demam Berdarah.

“Pernah 18 warga RT sini terkena DBD ternyata setelah kami cari sumbernya dari lahan itu, ada tumpukan rongsokan yang tergenang air dan banyak jentik yang bersarang,” ungkapnya.

Taman Maju Bersama

Sementara dikutib dari indopos.co.id dengan judul “Idealnya Setiap RW Punya Taman” Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan, pembangunan taman dilakukan di seluruh wilayah kota. “Lokasinya tersebar di seluruh wilayah kota Jakarta,” ujar Suzi, Minggu (17/3/2019).

Suzi mengatakan, saat ini taman yang behasil dibangun sebanyak 7 taman. Jumlah ini akan terus bertambah seiring waktu.

Untuk pembangunan 53 taman, menurut Suzi, pihaknya menganggarkan sebanyak Rp 60 miliar. “Taman ini sangat penting bagi kehidupan manusia dan lingkungan,” katanya. Menurut Suzi, idealnya setiap RW di Jakarta memiliki satu TMB. “Kami harap hal itu akan terealisasi di kemudian hari,” harapnya.

Sedangkan Dinas Kehutanan DKI Jakarta menganggarkan Rp 130 miliar untuk membangun 53 TMB pada 2019.

Mengenai TMB, kembali Ketua Rw 01, Ai mengatakan bahwa mereka tidak terlalu memikirkan apa nama program pemerintah, karena ketersediaan lahan bagi masyarakat untuk bersosialisasi jauh lebih penting.

“Apapun namanya RPTRA atau TMB ga masalah, yang terpenting itu ada lahan untuk anak-anak dan remaja untuk beraktifitas bersama, menyalurkan bakat lewat olah raga, serta yang utama ada tempat untuk masyarakat bersosialisasi, untuk itu kita berharap agar lahan itu dikembalikan lagi untuk warga,” pungkasnya.

(Eky)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.