Jakarta,sketsindonews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam merambah bisnis keuangan bagi masyarakat diperluas dengan melakukan pemahaman pemanfaatan dalam memperoleh akses produk keuangan.
Anggar B. Nuraini Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK menyatakan, sekitar baru mencapai 21,84 ℅ hanya sedikit pemahaman yang tahu akan product Jasa Keuangan, saat Edukasi Jasa Keuangan di Gedung Lobby Hall Sumitro Djojohadikusumo, Kantor Departemen Keuangan jalan Lapangan Banteng Timur No 2-4, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (1-12-2016).
Ini masih sangat minim,
kegiatan Edukasi keuangan ini bertujuan agar para penyandang disabilitas memperoleh pengetahuan secara detail tentang cakupan keuangan, biaya, resiko serta hak dan kewajiban konsumen serta dapat meningkatkan penggunaan produk dalam capaian ekonomi taraf hidup, tuturnya.
Dalam merancang keuangan para disabilitas dapat meningkatkan kemampuan (keterampilan) serta mempu mengelola keuangan bagi dirinya yang secara khusus.
Dari target 75℅ di harapkan bagi disabilitas dapat menggunakan secara baik manfaat aksesbilititas OJK.
Anggar juga menyatakan, terkait dengan UU No.8 Tahun 2016 Tentang Masalah Disabilitas yang tertuang dalam pasal 18 dan 19 pihaknya bersama dengan Bappenas akan melakukan layanan secara khusus dan optimal bagi disabilitas, tentunya mengkonversi materi edukasi dengan huruf Braille yang bisa diakses langsung.
OJK berkomitmen dalam layanan ini tetap pada kepuasan konsumen baik kepada publik dengan tidak secara diskriminatif.
Diharapkan dengan kegiatan Edukasi Jasa Keuangan tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat khususnya bagi disabilitas dapat meningkat dan mereka dapat pengembangan dirinya agar dapat betkontribusi secara baik dalam kehidupan di masyarakat.
Sementara salah satu peserta Dani (26) mengemukan keinginannya, dengan adanya pemahaman edukasi OJK kami baru mengetahui kaitan dengan product OJK.
Kami sangat berharap para teman disabilitas untuk di berikan seluasnya informasi maupun produk yang sesuai dengan investasi serta mampu memberikan rasa aman bagi keuangan kami, tuturnya.
Banyak investasi yang berkembang pada akhirnya selain juga terjadinya kasus maupun persoalan lain akibat pemberdayaan secara ekonomi bisnis keuangan masih memilah pada penyandang masalah disabilitas.
Kami hanya ingin layanan akses ini bisa membuka cakrawala kami, agar kami juga tidak menggantungkan pada pihak pemerintah dalam kaulitas hidup secara bermartabat, kata Dani.(Nr)







