Logo HPN 2026

Hari Pers Nasional

Akan diselenggarakan di
PROVINSI BANTEN
9 Februari 2026

Pembalasan dan kasih Allah (Yesaya 63 : 7 – 9)

oleh
Foto ilustrasi. (Sumber: Pendoa Sion Blog's)
12.7K pembaca

sketsindonews – Dalam kisah-kisah romantis biasanya ada gagasan mengenai kecemburuan dan pembalasan.

Si tokoh karena kasihnya kepada kekasihnya merasa cemburu karena kekasihnya diganggu oleh musuh.

Ia membalas perbuatan musuh yang mengganggu kekasihnya itu dengan keras dan tidak jarang dengan kejam.
Bagian pertama pasal 63, mengisahkan pembalasan Allah terhadap musuh-musuh umat-Nya.

Gambar

Allah menyatakan dirinya sebagai pemeras anggur yang menghancurkan para musuh seperti sedang mengirik anggur (baju merah mungkin terkena percikan air anggur; merah di sini melambangkan darah musuh yang tertumpah.

Ada permainan kata antara edom lih. Kej. 25:30 – dengan adom artinya merah). Ia melakukannya sendirian dan hukumannya dahsyat .

Mengapa Tuhan memperdulikan Israel dengan menghancurkan para musuhnya? Karena Ia mengasihi mereka dan sesuai dengan ikatan perjanjian-Nya, Ia menjadi juruselamat mereka (ayat 7-9).

Walaupun Ia murka karena mereka memberontak dan mendurhaka terhadap-Nya, kasih setia-Nya yang dulu mereka nikmati tidak pernah benar-benar diangkat dari mereka.

Oleh karena itu, mereka berani berseru kepada-Nya serta memanggil Tuhan sebagai “Bapa” dan “Penebus” agar Ia bersegera menolong mereka.
Dinamika kehidupan anak-anak Tuhan mirip dengan jatuh bangunnya umat Israel.

Kita begitu mudah melupakan anugerah Tuhan dan melakukan perbuatan yang mendukakan Roh Kudus. Kadang kala Allah “terpaksa” menghukum kita dengan membiarkan penderitaan menerpa kita. Puji syukur kepada Tuhan, kasih setia-Nya tidak pernah berubah.

Ia tetap mengasihi kita, menyertai kita, dan membela kita terhadap perlakuan tidak benar dari musuh-musuh kita.

Renungkan: Kasih Allah nyata melalui darah Kristus yang dicurahkan. Darah yang membasuh dosa-dosa kita itu memungkinkan kita mengalami pengampunan dan merasakan kembali kasih setia-Nya.

Sumber: Renungan HKBP Ujung Menteng

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap