Jakarta, sketsindonews – Aku memungut Indonesia sebuah sindiran yang kini ada ditengah kita dalam kehiduoan bangsa ini yang tercabik oleh norma yang mulai terdragdasi, dalam kutipan Marlin Dinamik Anto. (25/2)
Inilah puisi yang digurat, Aku Memungut Indonesia…
Aku memungut Indonesia
Dari tumpukan buku-buku bekas sejarah
Katanya sudah dijual ke tukang gorengan
Menjadi sekedar bungkus.
Tak ada isi
Selain tahu tempe bakwan pisang dan ubi
Terbungkus kertas berminyak yang dibuang
Ke tong sampah sebelum didaur ulang menjadi saracen atau..
Hoak yang dibiarkan memanjang
Aku memungut Indonesia
Dari kaleng-kaleng rombeng yang bertumpuk
Berjajar di lapak-lapak – tak jauh dari
Tempat pembuangan akhir tertulis nama
Frisian Flag, Baygon, Nestle, Danone, Kaleng Carnation
Bertebaran di kepala anak-anak katanya
Apa arti sebuah merk !! “Toh hanya nama
Bisa diganti kapan saja dengan Paijo
Amir, Tuti, Bambang, Sri Hasan atau Dewi.”..
Aku memungut Indonesia
Dari kucing-kucing yang berkerumun
Di kolong bangku-bangku warteg, berharap
Tuan-tuan tidak rakus memangsa semua
Makanan di piring hingga tandas, melainkan
Ada sisa bagi kucing-kucing berebut
Tulang yang tuan buang untuk meredam
Rengekan dan cakaran yang membuat
Hati tuan tidak merasa nyaman
Aku memungut Indonesia
Dari tukang jualan obat yang berebut keras
Pamerkan jampi-jampi masa depan – tak peduli
Telinga bising dan kepala bertambah nyut-nyut hingga muter nanar otak
Mendengar kalian ndobos tentang nikmatnya
Suatu tempat yang kalian sendiri tak mau cepat meninggal dunia dan pergi ke sana
Aku memungut Indonesia
Dari tayangan YouTube yang beringas
Baku pukul teriak dan caci maki, tak terlihat
Tingginya budi pekerti seperti kata simbah
Selain kehidupan yang terlihat sumpek
Dijejali kebencian yang katanya bersumber
Tidak adanya keadilan tapi kok segitunya
Mengumbar watak jahil methakil – hilang adab
Hilang pula sikap saling hormat merawat kebangsaan…
Aku memungut Indonesia
Dari Pilpres dan Pilkada yang membelah
Jiwa-jiwa saling meluka – putus tali saudara
Seperti gelas retak. Kerukunan tak lagi sama
Selain berjabat tangan dengan hati hampa
Kepalsuan bahkan ketika bersenggama
Terlihat nyata di suatu tempat – di mana
Api kebencian dibiarkan terus menyala
Aku memungut Indonesia
Tapi tak bisa menangkapnya, mungkin
Terlalu licin seperti belut.
Tak terpungut
Di saat perangainya dibiarkan terus berlutut
Kepada hal-hal yang tak patut
Martupat, 24 Februari 2018
marlin dinamik anto
reporter : nanorame







