Jakarta, sketsindonews – Politik dalam banyak terjemahan bermakna, gerakan mencapai tujuan kekuasaan. Dalam proses mencapai tujuan, banyak kalangan cenderung buta hatinya untuk berkompetisi secara sehat, berkompetisi secara berkeadilan, berkompetisi berprikemanusiaan. Pada era dimana situasi politik semakin dekat dengan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif, tentu harus disikapi secara lebih baik.
Ketika proses pelaksanaan pemilu ini dihiasi dengan praktik yang tidak wajar, maka sejarah kelam akan menjadi catatan hitam penuh kesedihan. Kita tidak ingin itu, cukuplah sejarah kelam masa lalu menjadi cermin untuk kita maju ke depan.
Kesadaran terhadap pentingnya dinamika politik termasuk bagaimana menjadikan momentum ini sebagai arena yang harus direspon positif oleh semua warga bangsa. Momentum politik seperti ini menjadi arena yang harus dianggap sebagai sebuah pesta. Pesta yang menggembirakan. Pesta yang akan menghantarkan anak bangsa menjadi pemimpin negara yang begitu penuh dengan kekayaan sumberdaya ini.
Tidak boleh salah dalam menjadikan momentum baik ini. Kesempatan yang tidak akan mungkin kembali lagi. Kesempatan mengajak generasi untuk terlibat secara baik dalam menjadikan bangsa ini bangsa yang berdaya saing, bangsa yang mengagumkan sekaligus bangsa yang membanggakan.
Memotret Ijtihat Politik Jokowi.
Dalam kesempatan membuka acara pembekalan caleg Partai Hanura, tgl 7 November 2018, Jokowi mengajarkan beberapa cara dalam pemenangan pemilihan legislatif.
Dalam cara pandang kuno, secara Jokowi kader partai lain, tetapi saat yang bersamaan mengajarkan strategi pemenangan kepada partai lain. Ini kan luar biasa. Betapa Jokowi tidak hanya menjadi presiden, tetapi saat yang bersamaan menjadi guru bagi banyak kalangan. Guru bagi pengusaha, guru bagi politisi muda yang ingin berkiprah di panggung politik.
Ajakan Jokowi agar memenangkan kompetisi, sebagai contoh kasus pengalamannya ketika menjadi calon walikota solo. Pada periode pertama, ia hanya mendapatkan elektabilitas 37%. Meski ia menang pada saat itu, tetapi hal yang paling mendasar adalah ketika periode kedua.
Ia tembus masuk elektabilitas hingga 91%. Ini fakta sejarah yang harusnya menjadi teladan sekaligus menjadi modal bagi politisi muda untuk mengikuti strategi itu. Lalu pertanyaannya, apa yang Ia lakukan hingga mencapai elektabilitas 91%? Jawabannya Ia hanya terjun door to door, dari rumah ke rumah.
Menyalami setiap warganya, menjadikan ini sebagai micro targeting. Target terkecil yang harus ditiru. Pengalaman ini Jokowi ceritakan di depan ribuan peserta pembekalan Caleg DPR RI Partai Hanura itu.
Rumusan dasar yang bisa kita petik dari strategi dan gerak yang dicontohkan oleh Jokowi adalah strategi penyembuhan. Kita sejak lama diwariskan politik penuh kebencian, politik penuh kegaduhan, politik penuh kedengkian, politik penuh permusuhan. Kini hadir guru politik baru yang mengajarkan politik keterbukaan dan perdamaian.
Memenangkan pertarungan tanpa harus menyakiti. Memenangkan kompetisi tidak harus menyikut lawan. Memenangkan pesta demokrasi tidak harus menusuk lawan. Ini modernisasi politik yang harus menjadi acuan generasi berikutnya.
Jihad politik pada akhirnya bermuara kepada merangkul hati rakyat. Rangkul dengan kerja nyata, rangkul dengan keberpihakan kepada kepentingan kesejahteraan. Semua tidak hanya berpikir untuk memenangkan pemilu berikutnya, tetapi jauh dari itu gerakan bersama berfikir untuk kepentingan generasi berikutnya. Strategi dan optimisme diorkestrasi menjadi sebuah pola baru dalam menciptakan sejarah sebagai generasi terbaik untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini. Indonesia Raya.
Kemajuan Indonesia adalah harapan kita semua, maka untuk menuju ke titik terbaik itu harus digerakkan bersama. Gerakan gotong royong, gerakan kekitaan, gerakan massif. Keteladanan harus terus dipraktekkan dan diaplikasikan.
Momentum Hari Pahlawan 10 November menjadi tonggak. Semoga cita cita bangsa ini menjadi bangsa yang berdaya saing, bangsa yang berwibawa segera terwujud. Kesulitan seperti apapun akan dapat kita tuntaskan, karena sejarah kebangkitan bangsa ini atas dasar kesulitan dan kekurangan, lalu melahirkan semangat.
Semangat pendiri bangsa ini yang menghantarkan kita merdeka dan menjadikan bangsa ini berdiri di kaki sendiri.
Semangat optimisme pejuang harus kita ambil dan terus kita gelorakan, agar kelak anak cucu kita juga bangga atas warisan baik yang kita gariskan saat ini. Ayo gelorakan semangat Indonesia Maju.
Jakarta, 7 November 2018
Muhammad Husen Db. (DEBE)
(Direktur Eksekutif POLIKRASI)






