// LENTERA DI KIRI | BULAN SABIT DI KANAN // FIXED UNTUK DESKTOP - SEMUA TULISAN TERBACA // ===================================== -->
1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia
// SEMUA PERBAIKAN SESUAI PERMINTAAN // ===================================== -->

Amarta : Kadis Kehutanan DKI Bisa Realisasikan Penataan Kota Berbasis Kultur Daerah

9.6K pembaca

Jakarta, sketsindonews – Di awal kinerjanya pasca dilantik Gubernur DKI Jakarta Anies Basweda. Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman (DKP2) Suzi Marsitawati merupakan orang cocok dalam melakukan dan melaksanakan kebijakan penataan kota yang berbasis estetika kota.

Hal ini di katakan Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta M Rico Sinaga guna memberikan masukan guna mewujudkan tampilan perubahan penataan kawasan strategis Ibukota Jakarta, ujarnya (3/1).

Aktivis senior itu menyarankan Suzi untuk merealisasikan program yang pernah digagas di era pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo (2007-2012), namun belum terealisasi hingga sekarang.

Gambar

Program tersebut dinilai bagus karena dapat mendukung penambahan luas ruang terbuka hijau di Jakarta, dan dapat memberdayakan perekonomian dengan kultur masyarakat lokal.

“Program itu adalah program pemanfaatan fasos fasum untuk menonjolkan ciri khas daerah tertentu di lima wilayah kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu,” kata Rico saat bincang dengan sketsindonews.com.

Secara lebih detil Rico menjelaskan program yang dimaksud.

Misal satu contoh, di Kelurahan Batuampar dan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, terdapat sebuah wilayah yang bernama Condet. Wilayah ini terkenal dengan salaknya yang beken dengan sebutan Salak Condet.

“Salak ini merupakan salah satu maskot DKI Jakarta, namun buah yang memiliki rasa sepat, manis dan asam ini semakin sulit ditemukan di pasaran karena selain kalah bersaing dengan Salak Pondoh, lahan perkebunannya juga semakin habis karena berubah fungsi menjadi perumahan, seiring laju pertambahan penduduk di wilayah itu,” katanya.

Ia menilai, jika Suzi dapat mengairahkan kembali perkebunan Salak Condet dengan memanfaatkan lahan faso fasum di wilayah itu, maka Suzi tak hanya dapat menyelematkan maskot DKI itu dari kepunahan, tapi juga dapat menghijaukan fasos/fasum dan meningkatkan perekonomian masyarakat yang berminat untuk ikut mengelolanya.

“Di Jakarta Barat ada sebuah kecamatan yang bernama Kebon Jeruk. Konon, dulu di wilayah ini terdapat kebon jeruk yang amat luas, sehingga nama wilayah itu pun disebut Kebon Jeruk. Luar biasa sekali kalau Suzi mampu membangun kembali perkebunan jeruk di sana, meski hanya memanfaatkan fasos/fasum,” tegasnya.

Seperti diketahui, sesuai UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH), setiap daerah diwajibkan memiliki RTH seluas 30% dari total luas wilayah, dan hingga September 2018 lalu luas RTH di Jakarta baru 9,98% dari total luas wilayah yang mencapai 661,5 km2.

Untuk memenuhi kewajiban itu, Pemprov DKI melalui APBD 2019 menganggarkan dana sebesar Rp 400 miliar untuk pembebasan lahan yang akan difungsikan sebagai RTH.

Rico menilai, jika Suzi dapat merealisasikan program Fauzi Bowo itu di enam wilayah di DKI, maka luas RTH bisa bertambah menjadi 11 – 12 % untuk memenuhi target RTH yang di canangkan Gubernur Anies Baswedan, pungkas Rico.

reporter : nanorame

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap