Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Gong Xi Fa Cai

Selamat Tahun Baru Imlek 2577

Semoga Tahun Ular Kayu 2026 membawa kemakmuran & kebahagiaan
2026
🧧🐍 Imlek 2577

Pesawat RI-001 Seulawah Diplomasi di Meja Makan ala Presiden Soekarno

oleh
9.3K pembaca

Oleh : Kolonel Sus Yuto Nugroho

“Saya tidak akan makan, sebelum orang Aceh berjanji menyumbang sebuah pesawat terbang kepada Pemerintah, untuk memperlancar perjuangan mempertahankan kemerdekaan”. (Presiden Soekarno, Aceh 16 Juni 1948)

Semangat masyarakat Aceh untuk membantu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak sekedar dengan tenaga dan pikiran, tapi juga dengan harta benda. Salah satu sumbangan rakyat Aceh yang hingga kini masih dikenang adalah kisah pembelian pesawat Dakota, yang kemudian dikenal sebagai pesawat RI-001 Seulawah atau pesawat Seulawah.

Gambar

Dalam Bahasa Aceh, seulawah memiliki arti gunung emas.. Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama Seulawah. Penamaan ini didasarkan dari banyaknya sumbangan rakyat Aceh yang diibaratkan seperti gunungan emas yang sangat besar untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Propaganda Dana Dakota

Bagi Indonesia yang baru saja merdeka, dengan wilayah yang terdiri dari pulau-pulau, memang diperlukan pesawat angkut, baik untuk operasi militer maupun penerbangan sipil. Namun, dalam suasana perjuangan dan serba keterbatasan karena blokade Belanda, tidaklah mudah bagi bangsa Indonesia, khsusunya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), memperoleh pesawat angkut. Menghadapi tantangan perjuangan yang semakin berat, pimpinan AURI Komodor Udara Suryadarma mengusulkan untuk menghimpun dana bagi pembelian pesawat angkut Dakota.

Proposal untuk mengajak para saudagar di Sumatera agar bersedia membiayai pembelian pesawat Dakota, diajukan kepada Presiden Soekarno. Proposal dari Komodor Udara Suryadarma itu diterima Presiden Soekarno, bahkan presiden bersedia memimpin langsung tim propaganda untuk menghimpun dana Dakota. Bersama proposal, diserahkan juga 25 miniatur pesawat Dakota.

Miniatur pesawat dari kayu tersebut dikerjakan oleh Wiweko dan timnya di Bengkel Teknik Pangkalan Udara Maospati, Madiun. Miniatur pesawat dirancang berdasarkan kerangka pesawat Dakota yang merupakan pesawat angkut asal Amerika Serikat, yang digunakan oleh Sekutu selama Perang Dunia Kedua.

Presiden menetapkan Sumatera sebagai daerah sasaran propaganda karena diperkirakan dapat menyumbang dana Dakota. Pemilihan Sumatera bukan tanpa alasan, karena Sumatera memang memiliki kekayaan alam yang cukup berlimpah serta masyarakatnya banyak yang menjadi saudagar dan berdagang.

Secara kebetulan, Gubernur Sumatera Mr. Teuku Muhammad Hassan juga menyampaikan gagasan yang sama kepada Presiden Soekarno. Dikatakan bahwa usaha dagang para saudagar Aceh waktu itu sudah cukup maju. Mereka berdagang ke luar negeri, antara lain ke Malaya. Untuk lebih memperlancar usaha dagang, mereka juga memerlukan pesawat terbang.

Diplomasi di Meja Makan

Pada 16 Juni 1948, Presiden Soekarno melakukan lawatan ke Aceh. Kehadirannya disambut masyarakat setempat. Para saudagar yang bergabung dalam Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) menyelenggarakan jamuan makan malam untuk presiden dan rombongan di Hotel Kutaraja.

Jamuan makan malam dihadiri para saudagar dan tokoh masyarakat Aceh. Di jamuan makan, Presiden tampak lebih banyak diam dan tidak menyentuh hidangan. Padahal presiden telah berulang kali dipersilakan untuk makan. Tingkah presiden saat itu tentu saja membuat banyak hadirin terheran-heran.

Beberapa saat kemudian Presiden mengatakan, saya anjurkan, sebelum kita dapat memperkuat dan memperbaiki jalan untuk mobil dan kereta api ataupun perhubungan Iaut, kita buka lalu lintas di udara. Saya anjurkan, supaya kaum saudagar membeli pesawat terbang, sebaiknya pesawat Dakota. Bahkan Presiden Soekarno menegaskan tidak akan makan, sebelum masyarakat Aceh berjanji menyumbang sebuah pesawat terbang kepada pemerintah, untuk memperlancar perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

“Saya berharap agar pesawat model yang terbuat dari kayu ini lekas menjelma menjadi pesawat terbang sungguhan”, ujar presiden sembari mengeluarkan sebuah miniatur pesawat Dakota. Muhammad Djuned Jusuf, ketua Gasida beserta para saudagar yang ikut hadir, menyanggupi keinginan presiden.

Kesanggupan para saudagar ditegaskan kembali oleh pembawa acara, Tengku Muhammad Ali Panglima Polim, bahwa keinginan pemerintah pusat memiliki pesawat terbang untuk mendukung perjuangan sebagai mana disampaikan Bung Karno, Insya Allah segera terpenuhi. Mendengar pernyataan Tengku Muhammad Ali Panglima Polim itu, presiden langsung menikmati hidangan yang tersaji.

Selesai jamuan makan malam, pengusaha-pengusaha Aceh yang tergabung dalam Gasida menggelar pertemuan khusus. Mereka sepakat rakyat Aceh akan bersatu mengumpulkan uang dan segala perhiasan emas untuk mewujudkan keinginan presiden, membeli pesawat. Bahkan Gubernur Militer, Abu Daud Beureueh juga memerintahkan Abu Mansor, sekretarisnya untuk mengumpulkan sumbangan dri masyarakat di Pasar

Diplomasi di Meja Makan ala Presiden Soekarno pun berhasil. Acara jamuan makan malam dapat berlangsung dengan lancar dan sukses. Adegan jamuan makan malam itu merupakan bagian penting dari episode keikhlasan rakyat Aceh mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat terbang, yang menjadi awal dari sebuah maskapai kebanggan milik negeri ini.

Pembelian Pesawat Dakota

Untuk mewujudkan permintaan presiden, tiga belas perusahaan ekspor impor yang tergabung dalam Gasida Aceh, sepakat menyisihkan sebagian keuntungan dagangnya. Setiap penjualan kopra yang diekspor ke Malaya, disisihkan sedikit keuntungan untuk dana pembelian pesawat terbang.

Muhammad Djuned Yusus bersama Said Muhammad Daud Alhabsyi, memimpin Panitia Dana Dakota (Dakota Found). Para saudagar menyumbangkan uang dan emas. Sementara rakyat biasa ikut mengumpulkan hasil pertanian dan peternakannya untuk disumbangkan melalui panitia.

Mereka sepakat menugaskan cabang CV. Permai di Penang untuk menerima sumbangan para saudagar anggota Gasida. Terkumpul dana setara 20 kilogram emas atau 130 ribu dolar Singapura. Untuk menjamin keamanan, dana Dakota disimpan di Indian Bank Penang.

Awal Agustus 1948, Wiweko Soepono mendapat perintah dari Komodor Udara Suryadarma untuk pergi ke Ranggon, melaksanakan tugas pembelian pesawat terbang. Selama di Ranggon, oleh Kepala Perwakilan RI di Birma, Maryunani, Wiweko dikenalkan dengan James Tate dan J. Maupin, pengusaha penerbangan Peacock Airline. Lewat dua orang inilah, Wiweko menyampaikan keinginannya untuk membeli pesawat Dakota. James Tate dan J. Maupin pun menyanggupinya.

Pertengahan bulan September, pesawat Dakota pesanan Wiweko mendarat di Rangoon setelah overhaul di Hong Kong. Harga yang disepakati dalam kontrak sebesar 130.000 dolar Singapura, disetujui. Uang tersebut untuk membayar sebuah pesawat Dakota dan persediaan suku cadang, termasuk spare engine. Proses pembelian pesawat Dakota, selesai. Namun pembayarannya baru dilakukan pada tangga 21 Januari 1949.

Wiweko meninggalkan Rangoon kembali ke Indonesia membawa pesawat Dakota. Dalam penerbangan ini, Wiweko bertindak sebagai navigator mendampingi J. Maupin menerbangkan pesawat Dakota. Penerbangan mengambil rute Rangoon – Pekanbaru – Jambi – Maguwo, sebagai home base.

Pesawat Dakota memiliki panjang badan 19,66 meter, rentang sayap 28.96 meter, digerakkan dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Pesawat terbang yang semula menggunakan kode VR-HEC ini, diberi nomor regrestrasi RI-001 dan diberi nama Seulawah, sebagai penghargaan kepada masyarakat Aceh. Pesawat sumbangan masyarakat Aceh inilah yang menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dengan nama Indonesian Airways dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap