Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Gong Xi Fa Cai

Selamat Tahun Baru Imlek 2577

Semoga Tahun Ular Kayu 2026 membawa kemakmuran & kebahagiaan
2026
🧧🐍 Imlek 2577

‘OPERASI GAGAK’, Kisah Jatuhnya Ibu Kota RI

oleh
Dari kiri ke kanan, Sutan Syahrir, Letkol Van Beek, Presiden Soekarno dan Moh. Hatta.
4.5K pembaca

Oleh : Kolonel Sus Yuto Nugroho

Agresi Militer Belanda II memang sudah diperhitungkan Indonesia. Seperti yang dikatakan Wakil Presiden Mohamad Hatta di awal bulan Desember, bahwa situasi hubungan Indonesia dengan Belanda sudah sangat buruk, dan sama keadaannya dengan situasi tanggal 21 Juli 1947.

Pertengahan bulan Desember 1948, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor sebagai Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia menginstruksikan seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatera untuk menyiapkan diri dalam aksi militer. Untuk melancarkan aksinya, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor menyiapkan Pasukan Para (penerjun payung) di Pangkalan Udara Andir, Bandung. Mereka adalah kompi lintas udara (Korps Speciale Tropen), yang terdiri tidak saja dari orang-orang Belanda namun juga banyak dari keturunan Indonesia. Di depan pasukan terpilihnya, Sang Letnan Jenderal ini mengatakan akan melancarkan Operasi Gagak untuk merebut Ibu Kota Republik Indonesia dan menangkap Presiden Soekarno.

Gambar

Skenario Operasi Gagak

Operasi Gagak atau Operatie Kraii merupakan operasi lanjutan dari operasi yang telah dilaksanakan setahun sebelumnya, yaitu Operasi Pelikan atau Operatie Pelikaan, yang lebih dikenal dengan nama Agresi Militer Belanda I. Belanda menyebut aksi-aksinya tersebut sebagai Aksi Polisional.

Belanda menyebut Aksi Polisional bukan tanpa maksud. Dengan istilah Aksi Polisional, Belanda ingin menegaskan bahwa aksi tersebut bukan aksi militer. Karena Belanda menganggap bahwa wilayah Indonesia masih secara de Facto merupakan wilayah Kerajaan Belanda sehingga aksi yang dilakukan oleh militer Belanda dinilai merupakan pemberantasan terhadap pemberontak. Sementara Indonesia mengenalnya sebagai Agresi Militer.

Pada mulanya terdapat dua pemikiran untuk melancarkan operasi militer ini, yakni pendaratan dari laut di Pantai Pacitan atau penerjunan pasukan payung di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Belanda memperkirakan bahwa Angkatan Udara Republik Indonesia memiliki beberapa pesawat di Pangkalan Udara Magowo, sehingga dengan mudah dapat menghantam gerakan pasukan bila dilaksanakan dari laut, sedangkan penerjunan dari udara merupakan hal yang riskan, sebab Belanda belum pernah melakukannya.

Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, Belanda mengambil keputusan bahwa penerjunan dari udara lebih memungkinkan dibandingkan dengan pendaratan dari laut. Dalam rencana serangan ini, Belanda menyiapkan secara besar-besaran kekuatan udaranya yang ada di Jawa maupun di Sumatera.

Jatuhnya Ibu Kota Republik Indonesia

Minggu 19 Desember 1948 pukul 05.30, belasan pesawat tempur Belanda terbang di atas Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta mengira, Angkatan Perang Indonesia sedang melakukan latihan perang secara besar-besaran. Mereka tidak tahu, bahwa deru pesawat tempur itu, menandai dimulainya Agresi Militer Belanda II.

Tak lama kemudian, pesawat B-25 Mitchell melepaskan sejumlah bom di Pangkalan Udara Maguwo, disusul tembakan dari lima pesawat pemburu P-51 Mustang dan sembilan pesawat P-40L Kitty Hawk. Agresi Militer ini dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor yang berada di salah satu pesawat B-25 Mitchell.

Saat itu, Pangkalan Udara Maguwo hanya dijaga 150 orang Pasukan Pertahanan Pangkalan di bawah pimpinan Kadet Kasmiran. Padahal sebelumnya di beberapa bangunan vital dan landasan telah dipasang bom yang siap diledakkan untuk membumihanguskan Pangkalan Udara Maguwo. Namun detonator bom yang telah disiapkan itu dilepas lagi, karena anggota Komisi Tiga Negara tidak mau mendarat di Maguwo, apabila di landasan dipasang bom.

Mendapat serangan mendadak, Pasukan Pertahanan Pangkalan kaget bukan kepalang. Walaupun kalah jumlah personel dan persenjataan, Pasukan Pertahanan Pangkalan ini mampu memberikan perlawanan tak kurang dari satu jam lamanya, sebelum akhirnya dapat dilumpuhkan. Di pihak Republik tercatat 40 tentara tewas, sedangkan di pihak penyerang tak satu pun jatuh korban.

Untuk merebut Pangkalan Udara Maguwo, Belanda tak hanya melepaskan tembakan dari udara saja, tapi juga menerjunkan pasukan Baret Merah Korps Speciale Tropen yang diterbangkan dari Pangkalan Udara Andir, Bandung. Tugas pasukan elit ini sebagai pasukan pendobrak untuk mengamankan Pangkalan Udara Maguwo dan sekitarnya agar pesawat angkut Belanda bisa mendarat dengan aman. Setelah menerjunkan pasukan baret merah, pesawat Dakota Belanda terbang menuju Lapangan Udara Kali Banteng, Semarang untuk menjemput pasukan Baret Hijau. Di titik yang sama, pasukan pimpinan Letnan Kolonel van Beek ini diterjunkan.

Pukul 08.00, Pangkalan Udara Maguwo berhasil dikuasi dan Belanda menyita beberapa pesawat terbang diantaranya pesawat Yokosuka K5Y Willow (Cureng), satu pesawat penumpang bermesin empat bersayap ganda de Havilland DH-86 (diberi registrasi oleh AURI, RI-008), dan satu pesawat amfibi PBY Catalina (RI-006).

Serangan mendadak Belanda mengagetkan para pemimpin Indonesia. Bahkan Operasi Gagak disebut dinilai sebagai tindakan pengecut, lantaran Belanda menyerang dengan tidak terlebih dulu menyatakan perang. Baru setelah Pangkalan Udara Maguwo berhasil dikuasai, Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Dr. Joseph Bell menyampaikan pengumuman bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Renvile dan penyerbuan terhadap semua wilayah Republik di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan terhadap Ibu Kota RI Yogyakarta, menandai dimulainya Aksi Polisional Belanda II.

Sore hari, Letnan Kolonel van Beek memasuki kota Yogyakarta, menangkap Presiden Soekarno. Bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta para pejabat tinggi lain yang berada di Yogyakarta, Presiden Soekarno menjadi tahanan rumah. Penangkapan para bapak bangsa menandai jatuhnya Ibu Kota Republik Indonesia Yogyakarta, ke tangan Belanda. Tiga hari kemudian, Presiden Soekarno diterbangkan ke Sumatera untuk diasingkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap