1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Salahkah Aku, Trotoar dan Jalan Kawasan Kebanggaan Menjadi Tempat Parkir !

oleh
5.9K pembaca

Jakarta, sketsindonews – Apa salahnya jika “saya” berjualan di trotoar, parkir liar berada di kawasan pembangunan trilyunan rupiah oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjadi kawasan tertata untuk lintas jalan publik.

Kini banyak kawasan kebanggan jalan dengan lebarnya trotoar menjadi “multi fungsi” bukan hanya peruntukan publik jalan kaki,  jalur sepeda, lahan parkir liar, tempat shelter ojeker, parkir bajay serta mobil didepan rumah makan menjadi pandangan biasa, ungkap jukir di Tanah Abang.(11/11)

Kritik ! Yahya Bone (53) seorang tokoh masyarakat Paseban Senen mengingatkan Pemprov DKI bahwa kawasan Senen Raya, Kramat Raya,  Salemba Raya. Dimana warga menginginkan itu menjadi kawasan tertata tapi kini menjadi pesimis setelah munculnya pembiaran pihak aparat terkait selain pembiaran Dishub DKI tidak melakukan upaya pencegahan secara dini.

Gambar

“Partisipasi masyarakat Senen sudah lakukan upaya pro aktif seperti ; memasang spanduk besar beberapa titik selain menanamkan edukasi untuk menjadi satu kawasan patuh aturan.”

Warga kini menjadi frustasi karena tidak di imbangi oleh kinerja SKPD melakukan penataan terintegrasi KSD Gubernur, apalagi operasi rutin dikawasan ini secara besar – besaran dalam waktu – waktu titik jam keramaian baik pagi, siang.dan sore, tandas Bone.

Bagaimana Cikini Raya !

Begitu pula kawasan Cikini Raya merupakan kawasan kebanggan namun sisi lain jalan kawasan ini banyak parkir dijalan tanpa ada indahan atau operasi tindakan Dishub DKI Jakarta.

Pantauan dilapangan kawasan itu dipenuhi parkir walaupun tak ada rambu resmi parkir, sebaliknya ada petugas parkir “beratribute” dan meminta duit parkir, resmikah atau memang itu menjadi pundi kutipan, tukas warga Cikini Nilam (34).

Persoalan disana para pemilik rumah makan tak memiliki parkir akhirnya jalan kawasan trotoar yang sudah bagus tertutup aktifitas jukir untuk manfaatkan perpakiran sepanjang  jalan Cikini Raya, “Salahkah Aku tanya Jukir !

Kan ini tak ada tanda, karena kami hanya petugas pak !

Kami hanya tukang parkir, boleh atau tidak bukan urasan saya karena saya hanya bekerja menjadi parkir kendaraan di jalan ini, tutup jukir.

(Nanorame)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap