Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Gong Xi Fa Cai

Selamat Tahun Baru Imlek 2577

Semoga Tahun Ular Kayu 2026 membawa kemakmuran & kebahagiaan
2026
🧧🐍 Imlek 2577

Pendidikan Muhammadiyah Ditinjau Dari Persfekrif Filsafat Pendidikan Islam

oleh
8.8K pembaca

Jakarta, sketsindonews – Salah satu yang menjadi persoalan filosofis pendidikan adalah perbincangan mengenai pendidik. Pendidik Muhammadiyah dapat dikatakan bercorak Islamis konservatif, rasional dan pragmatis. Pendidik haruslah orang yang memiliki keikhlasan, berorientasi pada amal nyata dan kebermanfaatan bagi orang lain, dan memiliki karakter inovatif, kreatif dalam menghadapi tantangan dan problema kehidupan, terutama di era digital seperti saat ini.

Filsafat pendidikan Islam merupakan suatu formula filsafat pendidikan yang berasaskan sumber-sumber Islam, baik sumber yang bersifat normatif maupun historis. Sumber normatif berasal dari wahyu berupa al-Qur’an dan hadis Nabi, sementara sumber historis berasal dari jejak-jejak penelusuran filsafat pendidikan Islam.

Filsafat Muhammadiyah merupakan bermuara dari filsafat pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam secara garis besar mengandung tiga aliran pemikiran, yaitu konservatif, rasional, dan pragmatis.

Gambar

Pertama, aliran konservatif. Aliran ini dalam bergumul dengan persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan.

Kedua, Aliran rasional. Pemikiran aliran rasional memiliki kesamaan dengan aliran sebelumnya, yaitu aliran konservatif. Perbedaannya yang cukup mencolok adalah pemikirannya tentang aspek ilmu dan belajar. Kelompok aliran rasional mengakui keragaman kebutuhan manusia, sebagai implikasinya bahwa ilmu pengetahuan harus mengakomodasi keragaman kebutuhan ragam tersebut. Selanjutnya, aliran ini menegaskan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia dan lingkungan material tidak kalah penting dibanding dengan kebutuhan rohaniahnya.

Ketiga, aliran pragmatis. Pemikiran kelompok aliran ini lebih bersifat aplikasi-praktis. Salah satu pemikir dalam aliran ini adalah Ibnu Khaldun. Dia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan fungsionalnya, bukan berdasar nilai substansialnya semata.

Jika dihubungkan dengan konsep aliran pendidikan di atas, maka sebenarnya filsafat pendidikan Muhammadiyah dapat disebut corak pendidikan yang rasional sekaligus pragmatis. 

Keberhasilan seorang pendidik untuk melaksanakan pendidikan individu dipengaruhi oleh kualifikasi dirinya, yaitu terpenuhinya kompetensi kepribadian dan sosial.

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Sementara keberhasilan seorang pendidik melaksanakan pendidikan masyarakat dipengaruhi oleh kompetensi sosial.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Dalam rumusan mengenai filsafat pendidikan Muhammadiyah tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan Muhammadiyah merupakan pendidikan Islam modern yang mengintegrasikan agama dengan kehidupan dan antara iman dan kemajuan yang holistik.

Pendidikan Muhammadiyah memiliki visi pendidikan Muhammadiyah dalam Tanfidz Keputusan Muktamar ke 47 Berkembangnya fungsi pendidikan tinggi Muhammadiyah yang berbasis Al Islam-Kemuhammadiyahan, holistik intergratif, bertata kelola baik, serta berdaya saing dan berkeunggulan.

Misi pendidikan Muhammadiyah dalam Tanfidz Keputusan Muktamar ke 47

Sistem Gerakan.

Menguatkan identitas pendidikan Muhammadiyah melalui instensifikasi pembinaan akhlak Islami dan ideologi Muhammadiyah.

Organisasi dan Kepemimpinan
Menyusun road map dan data base pendidikan Muhammadiyah untuk memetakan potensi, peran dan fungsi pendidikan Muhammadiyah sebagai pusat kaderisasi.

Jaringan.

Meningkatkan kualitas, jaringan, kemitraan dan kerjasama pendidikan Muhammadiyah dalam dan luar negeri.

Sumber Daya.

Meningkatkan kualitas kepemimpinan pembelajaran bagi guru dan kepala sekolah, tata kelola, peraturan dan penjaminan mutu pendidikan Muhammadiyah baik Sekolah, Madrasah dan Pondok Pesantren.

Aksi Pelayanan.

Meningkatkan jumlah dan mutu sekolah, madrasah, dan pondok pesantren yang memenuhi kualifikasi akreditasi dengan meningkatkan sistem penjaminan mutu, serta menampilkan identitas pendidikan Muhammadiyah.

Impelementasi visi dan misi pendidikan muhammadiyah ini tentunya mendapat penekanan atau prioritas yang berbeda – beda sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikannya.Visi dan misi pendidikan Muhammadiyah ini selalu berorientasi masa depan (futuristic) sebagai bentuk idealisasi pencapaian output yang di kehendaki oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Dengan kata lain,  visi dan misi pendidikan Muhammadiyah mengandung makna bahwa pendidikan di lingkungan Muhammadiyah didalam pengembangan sumber daya manusia mengantisipasi berbagai tantangan ke depan.

Dalam konteks ini, dua titik tumpu utama yang dijadikan andalan proses antisipasi yaitu penguatan iman dan taqwa kepada ALLAH SWT serta penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Pendidikan harus dibangun dengan kesadaran, keseriusan dan ketulusan berdasarkan Al-Qur’an, Hadis dan pemikiran para ulama dan ilmuwan yang lurus. Kokohnya bangunan kampus dan berbagai amal usaha Muhammadiyah patut disyukuri sebagai usaha yang tak kenal lelah, upaya yang terus-menerus untuk peduli mengurus bidang pendidikan, mengelola bidang kesehatan dan amal usaha lainnya.

Kesyukuran yang dimaksud adalah kemauan besar untuk mulai merancang bangun sebuah tradisi agung, yaitu budaya mencintai ilmu pengetahuandan filsafat Islam.

Pendidikan memegang peranan penting dalam pengembangan potensi manusia seutuhnya untuk dapat menjadi insan yang bermanfaat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sebuah bangsa dan negara. Selain itu, pendidikan merupakan wahana strategis untuk menggali dan mengkomunikasikan nilai-nilai ataupun ajaran tentang kebenaran demi tercapainyai tujuan sebuah negara.

Dengan demikian, pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan suatu bangsa harus dilaksanakan dengan  terencana dan tertata untuk mencapai hasil yang diinginkan. Layaknya sebuah bangunan, ketahanannya sangat dipengaruhi oleh fondasi yang mendasarinya.

Begitu juga suatu sistem pendidikan akan terlaksana dengan baik, jelas mengenai tujuan yang akan dicapai dan terarah dalam pelaksanaan di lapangan apabila mempunyai landasan yang kokoh.

Landasan inilah yang tersusun atas materi-materi abstrak dalam bingkai filsafat. Oleh karena itu, hubungan antara filsafat dan pendidikan adalah suatu keharusan yang tak terpisahkan .

Penulis : dr. Anisa Utami (Megister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah – Malang)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap