Puasa Ramadhan Sebuah Upaya Membentuk pribadi yang Bertaqwa

oleh -211 Dilihat
oleh

Oleh. Letkol Sus Giyanto

Dalam perspektif islam setiap amalan yang dilakukan manusia memiliki muara atau tujuan, bukan sekedar seremoni formalitas belaka. Kita bisa mengambil sampel bagaimana ketika orang bersyahadat, maka dia ingin menjadi seorang muslim, apa tujuan orang mengerjakan sholat agar dia bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, begitu juga zakat untuk mensucikan diri maupun hartanya, dan ketika orang berhaji berharap menjadi haji yang mabrur haji yang diterima Allah SWT. dan mampu istiqomah dalam mempertahankan ketaatan dan kebaikan.

Bagimana dengan puasa Ramadhan, apa larut begitu saja hanya sekedar lewat yang tidak memiliki makna apa-apa, artinya pasca ramadhan tidak mampu merubah ketaatan dan perilaku manusia, sehingga ramadhan tidak bermuara dan tidak memiliki harapan dan tujuan sama sekali.

Gambar

Apa muara dan harapan puasa ramadhan??. sebagaimana kata Allah SWT. Dalam lima ayat pada Surat Al-Baqoroh yaitu ayat 183 – 187. Lima ayat ini cukup langka dan menarik? mengapa karena di setiap akhir ayat nyaris semua diakhiri dengan kata La ‘ala, yang memiliki arti agar engkau menjadi.., ini adalah suatu harapan atau tujuan.

Surat Albaqoroh ayat 183, diakhiri dengan lafadz “La’allakum tattaqun” artinya agar engkau menjadi hamba yang bertaqwa. Ayat 184 diakhiri kata Inkuntum Ta’lamun, artinya jika engkau mengetahui, hal ini sebenarnya sama dengan makna agar engkau menjadi orang yang berilmu, meskipun tidak diakhiri kata La ‘ala, dan ayat 185 diakhiri lafadz “La’alakum Taskurun” agar engkau menjadi hamba yang bersyukur, sedangkan ayat 186 diakhiri kata “la’alahum Yarsyudun” agar engkau mendapat petunjuk, sementara ayat terakhir 187 diakhir “La’lahum Yattaquun” agar engkau bertaqwa.

Tulisan ini hanya fokus membahas surat al-baqoroh pada ayat 183 tentang tujuan puasa yaitu membentuk pribadi yang bertaqwa. Kata “taqwa” didalam alqur’an disebut hingga 245 kali, kata “ilmu” disebut 774 kali, kata “syukr” disebut 75 kali dan kata “huda” disebut 306 kali.

Taqwa memilki banyak definisi, namun secara umum taqwa memiliki arti taat terhadap perintahnya, dan menjauhi laranganya. Tulisan ini akan membahas makna Taqwa dalam dua perspektif, yaitu pertama taqwa berdasarkan petunjuk Allah, kedua taqwa berdasarkan akhlaq Nabi Muhammmad SAW.

Pertama, makna taqwa itu ada korelasi signifikan atau terkait erat dengan petunjuk Alllah SWT, agar manusia mengerti dan memahami tujuan hidupnya. Lantas bagaimana cara meningkatkan ketaqwaan? Kata Allah lihatlah dirimu, lihatlah tujuan hidupmu, dan persipakan jalan hidupmu sampai engkau kembali kepada Allah. Sehingga diantara bagian dari taqwa dalah hendaklah setiap insan melihat dirinya, menata hidupnya, dan membuat kurikulum hidup yang jelas hingga engkau kembali kepada Allah.

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
“Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). ( QS. Al-Hasyr : 18)

Kedua, makna Taqwa sebagaimana kata Nabi
“اَلتَّقْوَى هَهُنَا ”

Taqwa itu disini, sambil meletakkan tangganya di dadanya.
Taqwa disini dimaknai taat kepada Allah dan baik kepada manusia. Jadi kalau ada orang yang sholat malamnya rajin tapi kalau bicara menyakiti orang, ini bukan taqwa, kata Nabi
انٌها من اهلي النار

“Sesungguhnya Dia ahli neraka”.

Sebaliknya orang yang baik kepada manusia dengan segala macam kebaikannya, tapi dia tidak menjaga sholatnya, ketaatan terhadap Allah tidak diperhatikan, maka kebaikanya adalah bohong, dan sesungguhnya dia bukan orang yang Taqwa. Sehingga makna taqwa yang hakiki harus memiliki keduanya yakni taat kepada allah dan berbuat baik kepada manusia, ” Habblu minnallah dan habblu minannas”.

No More Posts Available.

No more pages to load.